PSS Sleman memiliki catatan yang mengesankan selama keikutsertaaannya di turnamen Piala Indonesia. Di musim 2005, PSS mampu menembus semifinal saat turnamen masih bertajuk Copa Dji Sam Soe. Gelandang PSS Rangga Muslim saat latihan menjelang laga melawan Barito Putera,Kamis (31/1/2019). (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

OLENAS.ID – Hanya sejengkal PSS Sleman menginjakkan kaki ke 16 Besar Piala Indonesia 2018. Modal PSS memang cukup bagus meski mereka menghadapi Barito Putera yang memiliki pencapaian mentereng di Liga 1 musim kemarin.

Pada laga pertama babak 32 Besar di kandang Barito, PSS yang ditinggalkan pelatih Seto Nurdiantara karena mengikuti kursus AFC Pro Diploma di Spanyol, sukses menaklukkan tuan rumah 2-1.

Kemenangan tersebut sangat membantu PSS yang ingin melangkahkan kaki ke 16 Besar. Mereka hanya butuh hasil imbang di pertandingan kedua di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Kamis (31/1/2019). Bahkan kekalahan 0-1 di laga tersebut tidak menghalangi laju Laskar Elang Jawa. Mereka tetap lolos meski skor akhir 2-2 karena Rangga Muslim dkk diuntungkan mampu mencetak lebih banyak gol tandang.

“Meski sudah menang di pertandingan pertama, kami belum sepenuhnya lolos. Penentuannya di pertandingan kedua ini. Skuat memang tak lengkap karena belum banyak penambahan pemain. Namun kami bermain di kandang sendiri dan mendapat dukungan dari suporter. Ini menjadikan kami optimistis melangkah ke babak berikutnya,” ucap Komarudin, asisten pelatih PSS.

Bila menyingkirkan Barito, ini menjadi catatan menarik PSS di turnamen sepak bola terbesar ini. Tim, secara tidak langsung, sudah menunjukkan kesiapan berkompetisi di kasta tertinggi. Apalagi bila bertahan di Piala Indonesia, PSS kemungkinan kembali menghadapi tim-tim Liga 1 yang menjadi rival mereka di kompetisi. Sebuah pembelajaran yang bagus untuk mematangkan mental sebelum memasuki liga.

Memori 4 Besar

Di Piala Indonesia, PSS sesungguhnya pernah menorehkan prestasi cukup mengesankan. Saat turnamen masih bertitel Copa Dji Sam Soe di musim pertama digulirkannya pada 2005, PSS sukses menembus 4 Besar.

Meski saat itu PSS juga berkompetisi di Divisi Utama yang merupakan kasta tertinggi, namun pencapaian mereka termasuk mengejutkan. Pasalnya di liga, PSS hanya mampu berkutat di papan tengah Wilayah Barat.

Dalam perjalanannya, PSS sukses menyingkirkan Pupuk Kaltim (PKT) dan Persita Tangerang lewat skor ketat. Saat menghadapi PKT di laga pertama putaran kedua, mereka kalah 1-2. Namun di kandang sendiri, PSS menang 1-0 lewat Fajar Listiyantoro.

Di putaran berikutnya, Persita menjadi korban PSS. Imbang dulu 1-1 di Tangerang, PSS kemudian menang satu gol. Dan lagi Fajar yang menjadi penentu kemenangan tim.

Sayang langkah PSS terhenti di semifinal. Kepergian pelatih Daniel Roekito membuat tim oleng. Tak heran PSS tak berdaya menghadapi lawan tangguh Arema Malang. Mereka dipaksa menyerah 0-2 dan 0-3.

Arema yang ditangani Benny Dollo kemudian tampil sebagai juara setelah mengalahkan Persija Jakarta 4-3 lewat perpanjangan waktu. Gelandang muda Firman Utina menjadi bintang kemenangan Singo Edan. Dirinya mencetak hat-trick dan gol ketiganya menjadi penentu Arema mengangkat trofi.

Di musim berikutnya, 2006, Arema sukses mempertahankan gelar juara. PSS? Tim terpaksa mundur dari turnamen dan liga karena bencana gempa bumi yang menimpa DI Yogyakarta.

Saat kembali ke gelanggang sepak bola, kiprah PSS di turnamen pun tak lagi bersinar seperti di musim 2005. Mereka lebih sering terhenti di babak awal. Dan sukses melaju ke 32 Besar di musim ini membuka harapan bagi PSS untuk menorehkan prestasi lebih tinggi. Apalagi mereka sudah sukses menjadi juara Liga 2 sekaligus promosi ke Liga 1.