PS Tira Bantul akhirnya meninggalkan Bantul dan bermarkas di Bogor. Namanya pun berubah menjadi PS Tira Persikabo. Tampak gelandang PS Tira Ahmad Nufiandani saat tampil di kompetisi musim lalu. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

OLENAS.ID – Semula ingin berlama-lama di Bantul, namun apa daya PS Tira harus hengkang dari daerah yang pernah menjadi tempat gerilya Panglima Besar Jenderal Soedirman. Saat bermarkas di Bantul, Yogyakarta, PS Tira pun berubah nama.

Bila semula klub bernama PS TNI, kemudian berganti menjadi PS Tira Bantul, TNI dan rakyat Bantul saat berkompetisi di Liga 1 2018. Mantan Panglima TNI Jenderal purnawirawan Gatot Nurmantyo menyebut tim sebagai bentuk manunggal rakyat dan TNI. Jenderal berbintang empat itu sendiri merupakan Ketua Dewan Pembina Utama klub.

Hanya, keinginan untuk tetap bertahan di Bantul tak kesampaian. Setelah satu musim ber-home base di Bantul,  The Young Warriors pun kembali pindah markas. Pilihannya adalah Kota Bogor.

Perpindahan markas pun diikuti perubahan nama. Bila sebelumnya PS Tira Bantul, kini berganti menjadi Tira Persikabo. Nama baru itu merupakan buah dari merger antara PS Tira dan Persikabo Bogor. Kehadiran tim tersebut diharapkan bisa menggelorakan sepak bola di Kabupaten dan Kota Bogor.

Dengan merger itu memunculkan konsekuensi Persikabo tidak akan bermain di Liga 3 musim depan. Nama baru itu pula yang dipakai PS Tira Persikabo di kompetisi Liga 1 2019, Piala Indonesia dan Piala Presiden.

“Pergantian nama ini sesuai tekad dan harapan membangkitkan kembali sejarah sepak bola Bogor tanpa melupakan sejarah sepak bolanya,” kata Presiden PS Tira Persikabo, Bimo Wirjasoekarta.

“Identitas dan sejarah Persikabo sebagai tim kebanggaan masyarakat Bogor tidak akan hilang karena ini sifatnya merger bukan akuisisi. Jadi tidak ada lagi tim di Liga 3 karena sudah bersatu,” lanjut dia.

PSSI tak mempersoalkan dengan langkah PS Tira dan Persikabo Bogor yang memutuskan melebur. Wakil Ketua Umum PSSI Iwan Budianto menuturkan pihaknya hanya menunggu surat dari kedua klub tersebut.

“Kalau merger dalam hal pengelolaan, termasuk home base, tentu tidak ada masalah. Merger bila keduanya tetap berkompetisi di liganya masing-masing, ini yang tidak diperbolehkan,” kata Iwan.

Di kompetisi 2018, PS Tira Bantul yang diharapkan menuai prestasi justru terjerembap. Bahkan PS Tira nyaris terdegradasi. Hampir di sepanjang kompetisi, Ahmad Nufiandani dkk lebih sering berkutat di zona merah.

Kehadiran pelatih Nilmaizar sedikit banyak membawa perubahan. Tim akhirnya lolos dari lubang jarum setelah menang di dua pertandingan terakhir. Hebatnya, dua kemenangan itu diraih di kandang lawan saat menghadapi PSMS Medan dan Borneo FC.

Di penutup kompetisi, PS Tira menduduki peringkat 15 atau satu strip di atas zona degradasi. Meski hanya menjadi tim papan bawah, namun striker andalannya, Aleksandar Rakic sukses menjadi top scorer dengan torehan 21 gol.