Raymond Tauntu sudah tiga tahun bermain di PSIM Yogyakarta. Dirinya tetap tak berniat meninggalkan PSIM meski mendapat banyak tawaran dari beberapa klub Liga 1. Kecintaannya pada Kota Yogyakarta dan klub membuat dia tetap ingin membela PSIM. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

OLENAS.ID – Tawaran dari klub Liga 1 selalu menghampiri Raymond Ivantonius Tauntu, 26, setelah menghabiskan musim kompetisi bersama PSIM Yogyakarta di Liga 2. Sempat tergoda menyambut pinangan itu, Raymond kemudian menolaknya. Mengapa gelandang asal Makassar ini menempatkan PSIM yang sudah dibelanya sejak 2015 sebagai prioritas pertama? Bagaimana cerita Raymond soal sahabatnya Hendika Arga yang meninggalkan sepak bola? Berikut wawancara OLENAS.ID dengan cucu eks pemain tim nasional Yos Parera ini.

Bagaimana menghadapi kompetisi musim 2019? Ada tawaran dari klub-klub Liga 1 atau Liga 2?

Ada beberapa klub Liga 1 yang memberikan penawaran untuk bergabung melalui trial. Hanya kalau pemain yang lolos lewat trial biasanya malah sulit mendapat tempat di tim utama. Padahal saya ingin mendapat kesempatan lebih banyak bermain. Tentu ada tawaran yang membuat saya saya tertarik untuk bergabung. Saat saya menyampaikannya kepada manajemen PSIM, mereka kemudian menjelaskan kalau musim 2019 ini PSIM target promosi. Terutama bila target sponsor tercapai karena mereka menghendaki PSIM naik kasta. Saya pun batal menerima tawaran itu dan tetap memprioritaskan PSIM.

Mengapa ingin bertahan di PSIM? Sudah mendapat kepastian kalau Anda dipertahankan PSIM?

PSIM tetap prioritas saya. Ini yang membuat saya menolak tawaran dari klub Liga 1, apalagi yang Liga 2. Daripada bergabung dengan tim Liga 2, lebih baik saya tetap di PSIM. Saya memang ingin tetap bertahan karena sudah kadung cinta PSIM. Fanatisme suporter dalam memberi dukungan menjadi tantangan bagi saya untuk tampil maksimal di setiap pertandingan PSIM. Apakah saya bakal dipertahankan? Yang jelas saya sudah berkomunikasi dengan manajemen terkait masa depan saya di PSIM. Dan, pelatih tentu tahu kemampuan saya.

Bukankah PSIM kerap mengalami kesulitan finansial yang mengakibatkan gaji pemain mengalami penundaan pembayarannya?

Kondisi finansial klub mungkin memang kurang bagus. Akibatnya gaji pemain beberapa kali mengalami penundaan. Tetapi bukan berarti tidak dibayarkan. Manajemen selalu berkomitmen menyelesaikannya dan komitmen itu selalu dipenuhi. Begitu kompetisi selesai, hak pemain akan diselesaikan juga. Bahkan musim lalu kami mendapat bonus tambahan karena berhasil mempertahankan PSIM di Liga 2.

Raymond Tauntu berambisi membawa PSIM Yogyakarta promosi ke Liga 1 bila dirinya tetap dipertahankan oleh Laskar Mataram ini. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Apakah PSIM memang menargetkan promosi musim ini?

Itu yang disampaikan kepada saya. Saat ini PSIM tengah menjalin komunikasi dengan beberapa sponsor. Mereka ingin PSIM promosi. Setelah mengetahui PSIM memiliki target tinggi, saya kian termotivasi untuk tetap bertahan di PSIM. Saya ingin turut mengantarkan PSIM promosi ke Liga 1.

Apakah Anda memang berjodoh dengan PSIM? Bukannya PSIM sebelumnya bukan prioritas Anda?

Betul, saat itu saya justru trial di klub lain yang juga dari Liga 2. Namun saya kemudian mendapat tawaran bergabung dengan PSIM. Ternyata saya langsung klop dan bergabung pada 2015. Meski berasal dari Makassar, tetapi saya bisa betah menetap di Yogyakarta. Bila tetap di PSIM, ini akan menjadi tahun keempat saya. Sepertinya saya tidak ingin pindah. Kecuali bila PSIM sudah tidak membutuhkan saya.

Kapan Anda kembali bergabung dengan PSIM? Harapan Anda untuk PSIM agar bisa promosi ke Liga 1?

Rencananya pertengahan Februari ini sudah dipanggil untuk persiapan tim menghadapi kompetisi. Ini informasi dari manajemen klub sehingga saya diminta untuk bersiap-siap. Saya berharap skuat PSIM bisa lebih baik dan kuat di musim ini. Persiapan tim juga lebih panjang. Dengan demikian, tim benar-benar siap menghadapi kompetisi. (Musim lalu persiapan PSIM boleh dibilang agak terlambat. Saat tim-tim lain sudah melakukan persiapan dan bahkan beruji coba, PSIM baru menyeleksi pemain).

Rekan Anda, Hendika Arga, tidak hanya meninggalkan PSIM tetapi juga sepak bola. Anda tidak merasa kehilangan dengan keputusan Arga pensiun dini?

Tentu saya kehilangan dia karena Arga sahabat terdekat saya. Saat gabung dengan PSS Sleman, dia selalu komunikasi dengan saya. Biasanya malam saat menjelang istirahat, kami saling bertelepon. Saya tidak tahu alasan yang pasti mengapa dia meninggalkan sepak bola. Tetapi kami sempat berkomunikasi secara intensif selama tiga hari terakhir sebelum dia mengumumkan untuk pensiun. Saat itu dia sudah bicara akan mundur. Hanya dia tidak menjelaskan mengapa dia melakukannya. Saya juga tidak mencoba untuk bertanya. Meski demikian, saya mencoba merayu dia untuk membatalkan keinginan mundur dari sepak bola. Sampai saat ini saya masih berharap dia berubah pikiran dan kembali ke sepak bola.

Persahabatan dua pilar PSIM Yogyakarta, Raymond Tauntu (kiri) dan Hendika Arga Permana. Saat Arga memutuskan pensiun dini, Raymond tetap berharap suatu saat nanti sahabat dekatnya kembali ke lapangan hijau. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Saat libur kompetisi, Anda mencoba mengikuti tarikan kampung (tarkam) atau menghabiskan waktu hanya dengan berlatih saja?

Sebetulnya bukan tarkam yang saya ikuti, tetapi turnamen lokal. Saya bergabung dengan klub amatir lokal dan kemudian bermain di sebuah turnamen. Pemain di tim maupun lawan pun banyak dari teman-teman di Liga 2. Saya juga bermain bersama teman-teman di PSIM seperti Ismail Haris dan yang lain.

Tidak takut cedera karena menghadapi permainan keras dari pemain lokal saat bermain di turnamen?

Jangan salah, skill dan teknik pemain daerah tidak kalah dengan pemain liga. Teknik bermain mereka juga bagus. Tidak asal ambil kaki lawan. Dulu pemain daerah dikatakan kasar dan tidak tahu teknik. Bahkan mereka cenderung brutal. Tetapi kini sudah berubah. Mereka tetap bisa bermain bagus dan tidak ingin mencederai lawan. Lewat turnamen lokal, saya setidaknya bisa menjaga kondisi dan mengasah kemampuan. Kebetulan jadwal turnamen cukup padat sejak Desember tahun lalu. Honornya pun lumayan.

Mengapa tidak kembali bermain futsal? Bukannya dulu pernah bergabung dengan klub futsal dan ikut kompetisi?

Dulu memang pernah bermain futsal. Gara-gara frustrasi gagal masuk tim nasional U-16. Diperebutkan dua klub, akhirnya saya malah dipulangkan. Padahal, saya sudah termasuk 23 pemain yang berangkat ke Uzbekistan mengikuti Piala Asia U-16. Hanya beberaapa hari sebelum keberangkatan saya dipulangkan PSSI karena dua klub sama-sama mengklaim yang memiliki saya. Saat itu saya sempat frustrasi dan tak ingin bermain bola lagi. Biar tidak larut dalam kesedihan, saya mulai bermain futsal dan sempat memperkuat beberapa klub futsal.

Lewat futsal, saya bisa bangkit dan kembali ke sepak bola. Meski demikian saya masih bolak-balik dari sepak bola kembali ke futsal dan kembali lagi ke sepak bola. Saat libur kompetisi, saya memperkuat klub futsal dan bermain di kompetisi. Terakhir, saya memperkuat Pinky Boys. Saya bisa gabung setelah sepakat bila ada tawaran dari klub sepak bola, saya akan meninggalkan Pinky Boys. Ternyata pemilik klub tak keberatan. Begitu PSIM kembali memanggil, saya pun meninggalkan futsal. Terus terang kontrak yang saya terima di klub futsal lebih besar dibandingkan di PSIM. Tetapi sekali lagi passion saya memang di sepak bola. Dan saya sudah sehati dengan PSIM sehingga tidak bisa meninggalkannya.

Kalau di saat ini saya tak lagi bermain futsal. Kebetulan banyak tawaran bermain di turnamen lokal.

Raymond apakah memang dari keluarga sepak bola? Atau hanya Raymond saja yang menekuninya?

Hanya saya yang menekuni sepak bola. Kebetulan opa (kakek) saya, Yos Parera, mantan pemain bola era Galatama. Beliau pernah bermain di Persija Jakarta dan Warna Agung. Sempat juga masuk timnas. Opa yang mendorong dan menyemangati saya untuk menekuni bola. Makanya saya lebih dekat dengan opa. Posisi saat bermain pun tak jauh beda. Opa seorang playmaker dan gelandang serang. Saya biasa bermain sebagai gelandang bertahan meski kerap didorong ke depan juga. Istilahnya, deep lying playmaker. Tetapi saya tidak ngefan Andrea Pirlo yang legenda di posisi itu. Idola saya justru Alessandro del Piero…ha…ha…ha