Kejuaraan Nasional (Krasnas) Renang Antarsekolah dan Perguruan Tinggi memungkinkan satu atlet memborong banyak medali karena dia bisa mengikuti beberapa nomor. Krasnas yang digelar di Kolam Renang Tirta Krida, AAU, Yogyakarta ini berakhir pada Minggu (3/2/1019). (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

OLENAS.ID – Boleh mengikuti banyak nomor lomba renang memungkinkan satu atlet memborong banyak medali. Terutama bila dirinya tak ada lawan yang mengimbangi saat berlaga di Kejuaraan Nasional (Krasnas) Renang Antarsekolah dan Perguruan Tinggi di Yogyakarta yang berakhir Minggu (3/2/2019).

Ambil contoh perenang cilik asal Bali, Ni Putu Pande Lisa Primasari. Perenang yang mewakili sekolahnya yaitu sebuah home schooling sukses memborong 11 emas dalam kejurnas yang digelar oleh Forum Klub Renang Sleman di di Kolam Renang Tirta Krida, AAU, Yogyakarta.

Prestasi yang mengesankan karena sekolah tempatnya menimba ilmu, Home Schooling Primagama, Denpasar, mampu meraup 11 emas dan dua perak. Semua emas dan perak yang diperoleh sekolah itu berasal dari Pande Lisa yang turun di kelompok umur (KU) 3. KU tersebut untuk perenang yang berusia 12 sampai 13 tahun.

“Prestasi Pande Lisa memang sangat bagus. Dia sudah menunjukkan talentanya. Dari nomor-nomor yang diikutinya, dia selalu meraih emas. Kami berharap prestasinya makin meningkat. Apalagi usianya masih muda,” kata Ismadi, Ketua Panitia Pelaksana Krasnas.

Seorang perenang saat melakukan start di lomba yang diikutinya di Krasnas Renang Antarsekolah dan Perguruan Tinggi di Yogyakarta, Minggu (3/2/2019). (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Sukses itu menjadikan Pande Lisa terpilih sebagai atlet terbaik kategori SD. Dia juga mengantarkan HS Primagama sebagai yang terbaik untuk kategori SD. HS Primagama mengungguli SDN 3 Banjar Jawa, yang menjadi pesaingya. SD itu meraih 10 medali emas. Selanjutnya, SDN Sidorejo, Sleman, DI Yogyakarta, yang mendapatkan sembilan emas dan satu perak menduduki peringkat ketiga.

Tidak hanya Pande Lisa, hal sama dilakukan Valeria Pauline, perenang andalan Universitas Pembangunan “Veteran”, Yogyakarta. Valeria meraup sembilan medali emas yang mengantarkan UPN menjadi terbaik untuk kategori perguruan tinggi.

UPN meraih sembilan emas dan semuanya berasal dari Valeria. UPN jauh mengungguli Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Buleleng, yang menduduki peringkat dua. Universitas dari Bali ini meraih empat emas, dua perak dan dua perunggu. Menariknya, empat emas itu diborong hanya satu perenang, Dewa Gede Anom Artha.

“Mereka bisa meraih banyak medali karena mengikuti banyak nomor. Keberhasilan Pande Lisa, Valeria maupun Dewa Gede juga menjadikan mereka terpilih sebagai atlet terbaik. Di kejurnas ini, penentuan atlet dan sekolah terbaik didasarkan pada kategori jenjang pendidikan. Jadi ada juara kategori SD, SMP, SMA sampai perguruan tinggi. Namun tidak ada juara umum,” ujarnya.

Perenang cilik saat beraksi di Krasnas Renang Antarsekolah dan Perguruan Tinggi di Yogyakarta, Minggu (3/2/2019). (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Sementara, SMP Santa Ursula, Bandung, terpilih sebagai yang terbaik di kategori SMP. Sekolah tersebut meraih sembilan medali emas yang kesemuanya disumbangkan Philomena Balinda. SMP Santa Ursula sukses mengungguli SMPN 3 Sleman yang mendapatkan enam emas dan dua perak.

Sedangkan SMAN 2 Sragen tampil sebagai yang terbaik di kategori SMA. Sekolah tersebut meraih tiga emas, tiga perak dan satu perunggu.

DIY dan Bali bersaing ketat untuk atlet terbaik. Dari KU 1 sampai senior putra dan putri, baik DIY maupun Bali tercatat menyumbang lima perenang yang menjadi terbaik. Jawa Barat dan Jawa Tengah masing-masing menyumbang satu perenang yang menjadi terbaik. (Ive)