Community Cup, sebuah turnamen lokal yang lebih merupakan uji coba bagi klub-klub yang melakukan pembinaan bagi anak-anak usia remaja atau di atas 15 tahun. Community Cup digelar di Lapangan Gedongan, Karanganyar, Solo, Selasa (5/2/2019). Turnamen itu dimenangi Binara Football Academy. (foto: istimewa)

OLENAS.ID – Pentingnya menambah jam terbang pertandingan bagi pemain yunior yang sudah mentas dari Sekolah Sepak Bola (SSB). Selepas SSB, pemain yunior sudah mulai ditempa teknik dan taktik.

Dan mereka butuh menerapkan ilmu yang sudah diterimanya lewat pertandingan. Anak-anak usia 15 atau 16 tahun ke atas memang sudah membutuhkan lebih banyak pertandingan. Berbeda dengan anak-anak SSB yang bermain sepak bola sebagai sebuah kegembiraan. Mereka lebih banyak fun dan penyelenggaraan event untuk anak-anak SSB seharusnya lebih berupa festival ketimbang kejuaraan.

Jam terbang pertandingan jelas lebih dibutuhkan bagi pemain yang sudah berusia minimal 15. Ini yang mendorong Solo Football Academy (SFA) menggelar turnamen lokal, Community Cup. Turnamen yang lebih bersifat uji coba ini digelar di Lapangan Gedongan, Karanganyar, Selasa (5/2/2019).

Turnamen diikuti tim-tim dari Solo dan sekitarnya. Menurut Q. Erik Maskuri, pimpinan SFA sekaligus ketua penyelenggara, Community Cup diikuti enam tim, Binara Football Academy (Karanganyar), PS Adidas (Solo), Mars (Solo), Madya Pemda Solo dan Tunas Proksi dari Klaten serta SFA sebagai tuan rumah. Pertandingan berlangsung sehari penuh dengan format 25×2.

“Ini untuk mengisi waktu luang dan menjalin persaudaraan sesama klub yang membina pemain muda. Tidak ada hadiah uang tetapi cukup trofi saja. Tim yang diundang cukup disediakan transportasi dan konsumsi,” tutur Erik.

Binara Football Academy saat menghadapi PS Adidas di pertandingan Community Cup di Lapangan Gedongan, Karanganyar, Solo, Selasa (5/2/2019). (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Dilanjutkannya, “Kami hanya ingin memberikan jam terbang pertandingan bagi anak-anak. Tidak ada target lain. Dan itu juga sudah dimengerti para peserta. Meski demikian, mereka antusias mengikutinya karena pengelola klub juga menyadari anak asuhannya butuh jam terbang pertandingan.”

Turnamen tersebut dilaksanakan setiap satu bulan sekali dengan lawan yang berbeda. Sedangkan tim-tim yang diundang lebih banyak berasal dari Solo Raya dan sekitarnya. Namun turnamen juga pernah menghadirkan tim-tim kuat semisal UNY Yogyakarta dan tim Porprov Solo.

“Untuk pemain di usia mereka memang butuh lebih banyak pertandingan. Akademi kami misalnya rutin menggelar uji cob setiap pekan. Sedangkan turnamen seperti ini digelar sebulan sekali dengan lawan yang berbeda. Tidak hanya memberi jam terbang pertandingan, ini juga menjadi ajang persiapan menghadapi Piala Suratin U-16 dan U-17 atau mereka mungkin menghadapi kejuaraan resmi,” kata Erik lagi.

Turnamen lokal yang sesungguhnya hanya sebuah uji coba namun sangat berarti bagi anak-anak muda yang masih dalam taraf pembinaan. Saat pertandingan, pelatih pun memberi instruksi kepada anak asuhannya untuk memainkan skema tertentu. Dan skema itu kemudian diubah saat mereka menghadapi pertandingan berikutnya.

Di turnamen itu, Binara FC tampil sebagai juara. Di semifinal, mereka mengalahkan Madya Pemda 5-4 lewat adu penalti. Di final, Binara FC menaklukkan Mars 1-0.