Juara bertahan Surabaya Bhayangkara Samator membuka harapan ke grand final setelah mengalahkan Jakarta Pertamina Energi 3-0 di pertandingan terakhir final four pertama di GOR Joyoboyo, Kediri, Minggu (10/2/2019). (foto: istimewa)

OLENAS.ID – Kandas dua kali menjadikan posisi tim putra Surabaya Bhayangkara Samator kritis. Sang juara bertahan Proliga mengawali final four pertama dengan hasil sangat buruk.

Beruntung, mereka masih bisa bangkit di laga pamungkas melawan Jakarta Pertamina Energi. Dalam duel di GOR Joyoboyo, Kediri, Minggu (10/2/2019), mereka menang 3-0 (25-22, 25-19, 25-21)

Kemenangan itu membuka harapan Bhayangkara Samator untuk bersaing memperebutkan tiket ke grand final di Yogyakarta. Hanya mereka harus bekerja ekstrakeras pada final four kedua di Malang, Jumat (15/2/2019) sampai Minggu (17/2/2019). Pasalnya, Bhayangkara Samator masih tertahan di peringkat tiga klasemen sementara.

Pelatih Bhayangkara Samator Ibarsjah Djanu Tjahjono optimistis timnya masih berpeluang lolos ke grand final. Syaratnya, mereka harus bisa menyapu bersih tiga pertandingan di Malang.

“Kemenangan atas Pertamina Energi membuka peluang kami ke grand final. Penampilan tim juga membaik. Saya berharap penampilannya makin meningkat saat di Malang. Demi mengamankan peluang, kami harus memenangkan semua pertandingan di final four kedua ini,” kata Ibarsjah.

Dilanjutkannya, “Kami jelas harus bisa melakukan sapu bersih. Itu satu-satunya peluang bila ingin lolos.Yang penting di setiap pertandingan kami harus berjuang, apakah saat ditekan atau menekan.”

Kontras dengan Pertamina Energi yang menelan kekalahan di tiga pertandingan di Kediri. Padahal, tim putri Pertamina Energi tampil gemilang dan selalu memetik kemenangan sehingga peluang ke grand final sangat besar.

Sebaliknya, tim putra harus bekerja keras bila ingin meraih tiket ke Yogyakarta. Persoalannya, mereka berada di dasar klasemendan belum mendapatkan nilai. Meski demikian, mereka tetap optimistis membalikkan keadaan.

“Harapan masih ada. Hanya, kami harus memenangkan semua pertandingan di Malang. Sekali saja kalah, berarti kami sudah habis,” ujar asisten manajer Dedi Kurniawan yang menilai Kediri sepertinya kurang bersahabat bagi Pertamina Energi.

“Saya tidak tahu mengapa kami memetik hasil buruk di Kediri. Tampaknya Kediri kurang bersahabat bagi kami. Kekalahan kami mungkin pada segi mental dan semangat. Kalau kekompakan tim sesungguhnya tidak ada masalah,” pungkasnya. (Ive)