Tim putri Jakarta Pertamina Energi tampil sebagai juara final four setelah menaklukkan Jakarta PGN Popsivo Polwan 3-1 di laga pamungkas final four kedua di GOR Ken Arok, Malang, Minggu (17/2/2019). (foto: istimewa)

OLENAS.ID – Pemanasan grand final putri Proliga 2019 sudah tersaji saat Jakarta Pertamina Energi bertemu Jakarta PGN Popsivo Polwan. Di laga pamungkas final four kedua di GOR Ken Arok, Malang, Minggu (17/2/2019), Pertamina Energi sukses menaklukkan PGN Popsivo Polwan 3-1 (16-25, 25-20, 25-23, 25-11).

Kemenangan di laga simulasi grand final itu menjadikan Pertamina Energi benar-benar tak terbendung. Mereka meraup semua laga di dua final four. Artinya di enam pertandingan di Kediri dan Malang, tak ada satu pun lawan yang bisa menghentikannya.

Pencapaian gemilang itu mengantarkan Pertamina Energi tampil sebagai juara final four. Mereka pun berhak atas hadiah uang pembinaan sebesar Rp40 juta.

Usai menuntaskan final four, Pertamina Energi pun kembali fokus pada grand final sekaligus mempertahankan gelar juara. Pelatih Muhammad Anshori pun bakal menurunkan tim terbaik yang berada dalam kondisi bugar.

Ya, M. Anshori tidak langsung menurunkan tim terbaik dengan membangkucadangkan Anna Stepaniuk dan Bethania de la Cruz. Akibatnya, mereka gagal menunjukkan performa apik dan mengawali pertandingan dengan kekalahan.

Tim putri Jakarta Pertamina Energi sukses mengalahkan calon lawannya di grand final, Jakarta PGN Popsivo Polwan 3-1 di GOR Ken Arok, Malang, Minggu (17/2/2019). (foto: istimewa)

Performa tim mulai membaik saat dua asing dimainkan. Setelah merebut set kedua dengan skor 25-20, Pertamina Energi sudah tak terbendung lagi.

Pemain Pelapis

Pelatih M.Anshori pun tak segan memuji pemain pelapis yang tetap menunjukkan permainan terbaik. Meski tak memainkan Stepaniuk dan De la Cruz, namun mereka yang menggantikannya tidak kalah memuaskan.

“Saya puas dengan penampilan pemain pelapis. Kemampuannya hampir sama. Ini menunjukkan kualitas tim ini tak berbeda. Pemain juga bisa bermain sabar saat lawan tetap ngotot dan tidak melepas pertandingan di set kedua dan ketiga. Ternyata blok, servis dan pertahanan kami tidak kalah bagus. Ini yang harus dipertahankan di grand final di Yogyakarta,” kata M. Anshori.

Dilanjutkannya, “Keberhasilan melakukan sapu bersih sebetulnya hanya kebetulan belaka. Setelah mengambil semua laga di Kediri, kami sesungguhnya tinggal membutuhkan satu kemenangan saja. Ternyata, anak-anak ingin mengambil semua. Apalagi ada bonus yang dijanjikan manajemen.”

Sementara pelatih PGN Popsivo Polwan Chamnan Dokmai mengatakan dirinya sengaja menurunkan tim terbaik di set pertama meski laga juga sudah tak menentukan bagi mereka. Chamnan juga sudah memperkirakan Pertamina Energi tidak langsung turun dengan tim terbaiknya karena tidak memainkan dua asing.

“Saya langsung menurunkan tim pertama karena ingin melihat kemampuan mereka. secara keseluruhan, ada kesalahan di beberapa aspek yang harus diperbaiki. Meski demikian, saya tidak mengubah strategi,” ujar Chamnan.

Menurut pelatih asal Thailand ini tim akan fokus pada receive. Bagaimana mereka bisa lebih baik dalam menerima servis sehingga mampu membangun serangan.