Presiden Joko Widodo saat hendak menyerahkan bola kepada penonton. Presiden menginstruksikan agar mafia sepak bola diberantas. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

OLENAS.ID – Tidak ada pilihan lagi, mafia sepak bola sudah harus diberantas. Sebelumnya seperti ada pembiaran karena sulit menemukan bukti yang menguatkan adanya pengaturan skor di pertandingan sepak bola.

Namun dengan dibentuknya Satgas Antimafia Bola oleh Kapolri Jenderal Tito Karnavian setidaknya bisa menjadi titik awal menguak adanya problem pengaturan hasil pertandingan yang sudah berakar di sepak bola nasional.

Sungguh mengerikan dan memalukan ketika sebuah pertandingan sudah diketahui hasil akhir. Sementara, suporter sudah rela berpanas-panas dan bernyanyi sepanjang pertandingan demi menyemangati tim kesayangan untuk meraih poin. Padahal sudah ada yang mengatur di babak pertama, berapa gol yang tercipta. Begitu pula di babak kedua.

Bahkan rumor yang beredar soal match fixing, tidak hanya tim yang dikalahkan yang mendapat uang suap tetapi juga tim pemenang. Hanya duit yang diterima memang lebih kecil. Jadi, tak sekadar diketahui hasil akhirnya tetapi siapa juara sudah diputuskan. Entahlah karena itu tak beda dengan percakapan di warung kopi. 

Yang jelas, para pelaku pengaturan skor itu sama sekali tidak tertarik melakukan pembinaan sepak bola. Tidak hanya pelatih tim liga, mereka yang sudah susah-payah membina anak-anak sejak SSB pun harus menghadapi kenyataan, bakat anak yang diasahnya bisa hilang hanya karena pengaturan skor.

Titik Cerah

Sudah sedemikian parahkah problem pengaturan skor atau suap di sepak bola naisonal? Namun saat Presiden Joko Widodo sudah menginstruksikan agar kepolisian membersihkan pengaturan skor sampai tuntas, ini berarti bakal ada titik cerah perbaikan sepak bola nasional. Presiden tidak hanya menginstruksikan tetapi juga mengapresiasi kinerja Satgas Antimafia Bola.

“Itu sudah menjadi kewenangan Polri menyelesaikannya. Jadi, saya berharap diselesaikan sampai tuntas agar sepak bola kita benar-benar bersih,” kata Jokowi di Jakarta, Jumat (22/2/2019) kemarin.

Presiden tentu merasakan kekecewaan suporter yang sudah dilanda euforia karena tim meraih titel juara atau memenangkan pertandingan. Ternyata, keberhasilan menjadi juara sudah diatur oleh oknum yang tidak bertanggung.

“Jadi, yang juara juga harus betul-betul juara. Agar jangan sampai kita sudah terlanjur ‘wah’ (dengan prestasi tim yang juara).  Wah juara, juara, tapi ternyata? Ternyata banyak pengaturan skor. Itu yang saya kira dituntaskan. Semua harus sampai rampung,” kata Presiden menegaskan.

Instruksi Presiden dikuatkan oleh pernyataan Maruar Sirait dalam sebuah acara di televisi. Anggota Dewan Pembina PSSI itu menyampaikan perintah Presiden agar kasus pengaturan skor di sepak bola harus diusut tuntas. 

“Pengaturan skor ini harus diusut sampai tuntas. Saya sudah bertemu dan bertanya pada Presiden soal sikapnya terhadap PSSI. Pak Jokowi bilang, habisi!” ujar dia.

Langkah kepolisian dalam mengusut pemberantasan memang tidak main-main. Siapa mengira kepolisian mampu menciduk Johar Lin Eng, anggota komite eksekutif (exco) PSSI sekaligus tokoh sepak bola terkenal dari Semarang. JLE diamankan terkait kasus pengaturan skor. Tak berhenti di situ, Satgas Antimafia Bola juga menangkap Dwi Irianto, anggota Komite Disiplin PSSI yang populer dengan sebutan Mbah Putih.

Satgas Anti Mafia Bola sendri menetapkan 15 tersangka. Termasuk Plt Ketua umum Joko Driyono. Hanya untuk saat ini, Jokdri, sapaan Joko Driyono, menjadi tersangka perusakan barang bukti dugaan pengaturan skor. Dia menjadi aktor intelektual aksi di bekas kantor PT Liga Indonesia itu.

Menariknya, Satgas sudah menerima 500 laporan sepanjang dua bulan terakhir.  Ini menunjukkan masyarakat sudah gerah dengan aksi pengaturan skor di sepak bola. Dan, laporan-laporan itu sebagian telah ditindaklanjuti oleh kepolisian.