Jakarta BNI 46 menargetkan juara Proliga 2019 sekaligus menyamai rekor gelar juara dari rival yang akan dihadapinya, Surabaya Bhayangkara Samator. Laga grand final digelar di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (24/2/2019). (foto: istimewa)

OLENAS.ID – Tim putra Surabaya Bhayangkara Samator tercatat paling banyak memenangi titel Proliga. Saat meraih gelar juara di musim lalu, Bhayangkara Samator sudah memenanginya enam kali.

Bhayangkara Samator pun mengungguli Jakarta BNI 46 yang baru lima kali merebut titel juara. Terakhir, BNI 46 tampil sebagai kampiun saat mengalahkan Semarang Bank Jateng pada 2012. Selanjutnya, mereka sempat dua kali masuk final. Namun BNI 46 dipaksa menyerah oleh Palembang Bank SumselBabel pada 2013 dan Samator di musim 2016.

Samator sendiri masih menunjukkan konsistensinya di setiap musim kompetisi bola voli. Dari lima musim terakhir, mereka empat kali masuk grand final. Bahkan tiga di antaranya menjadi juara.

Bhayangkara Samator tidak hanya mencatatkan diri sebagai tim yang paling banyak memenangi trofi. Mereka juga paling banyak berlaga di grand final, yaitu 11 kali. Termasuk di grand final 2019. Sedangkan BNI sudah 10 kali, termasuk di musim ini.

Dan, grand final di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (24/2/2019), akan menjadi penentu bagi BNI 46 dan Bhayangkara Samator. Apakah sang juara bertahan kembali membawa pulang trofi ke Surabaya? Atau BNI yang bakal menyamai rekor Samator?

Yang jelas, kedua tim memiliki sejarah pertemuan yang saling mengalahkan. Ya, BNI 46 dan Bhayangkara Samator sudah empat kali berduel di final. Hasilnya, mereka berbagi titel juara karena sama-sama dua kali menang dan kalah.

BNI 46 sedikit di atas angin karena mereka tampil sangat konsisten musim ini. Mereka meraup lima kemenangan dari enam laga di dua final four. Sukses itu mengantarkan BNI 46 tampil sebagai juara final four. Namun torehan prestasi itu tak berarti di grand final.

“Juara di final four pun bukan ukuran. Jadi itu hanya menjadi catatan saja. Yang jelas, kami akan menjalani laga yang tak mudah di grand final,” kata asisten manajer BNI 46, Sukandar.

Meski demikian, pencapaian BNI 46 di babak reguler sampai final four jelas memotivasi tim untuk menyegel titel juara sekaligus menyamai rekor Bhayangkara Samator.

“Tentu kami ingin menyamai rekor tersebut. Kedua tim memiliki sejarah panjang di Proliga. Kami sudah empat kali bertemu di final dan saling mengalahkan. Mereka mengungguli kami untuk rekor juara. Dan, kami ingin menyamainya kembali,” tandasnya.

Juara bertahan Surabaya Bhayangkara Samator berharap kembali menjadi yang terbaik di grand final Proliga 2019 saat menghadapi Jakarta BNI 46 di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (24/2/2019). (foto: istimewa)

Bhayangkara Samator pun tak akan melepas kesempatan mempertahankan gelar sekaligus mengukuhkan sebagai pemegang titel terbanyak di Proliga. Peluang untuk menjadi juara lagi pun sangat terbuka. Pasalnya, performa Bhayangkara Samator kian menanjak.

Ya, langkah mereka di final four memang tertatih karena hanya sekali menang di Kediri. Namun mereka bisa menang dua kali di Malang yang mengantarkannya ke peringkat dua.

“Kami harus bersusah-payah di final four. Kami kalah di Kediri, tetapi mampu bangkit di Malang. Kami bisa menang lagi dan lolos ke grand final,” kata Hadi Sampurno, asisten manajer Bhayangkara Samator.

Perjalanan Bhayangkara Samator yang penuh rintangan sebelum ke grand final menjadikan mereka tak bisa dianggap remeh. Kebangkitannya harus diwaspadai BNI 46.

“Kami akan all out di grand final. Dan yang terutama meminimalisir kesalahan. Ini menjadi kunci di laga puncak ini,” pungkasnya.

Artikulli paraprakJuara Bertahan Tumbang, Putri Popsivo Polwan Jawara Proliga 2019
Artikulli tjetërLawan Vietnam U-22, Ini Yang Dipersiapkan Indra Sjafri Untuk Timnas U-22