Surabaya Bhayangkara Samator tampil sebagai juara setelah mengalahkan Jakarta BNI 46 3-1 di laga grand final Proliga 2019 di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (24/2/2019). (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo

OLENAS.ID – Rekor baru diciptakan Surabaya Bhayangkara Samator. Ya, mereka mencetak rekor sebagai tim yang paling banyak memenangi trofi Proliga. Bhayangkara Samator membuktikan yang terbaik setelah di laga grand final menaklukkan Jakarta BNI 46 dengan skor 3-1 (23-25, 25-20, 26-24,25-17) di kompetisi bola voli Proliga 2019 di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (24/2/2019).

Sukses itu menjadikan Bhayangkara Samator mempertahankan trofi juara. Di musim lalu, mereka tampil juara setelah menghentikan perlawanan Palembang Bank SumselBabel. Bhayangkara Samator pun mencatat rekor tujuh kali meraih trofi juara.

Tak hanya itu, rekor pertemuan di final melawan BNI 46 mulai memihak Rendy Tamamilang dkk. Sebelumnya, kedua tim sudah empat kali bertemu di laga puncak.

Terakhir, mereka berduel di musim 2016. Hasilnya Bhayangkara Samator yang keluar sebagai pemenang. Sukses itu berlanjut di grand final kali ini saat Bhayangkara Samator kembali memupus harapan juara BNI 46 yang mengubah rekor pertemuan itu menjadi 3-2.

Gelar Bhayangkara Samator kian komplet karena pelatih Ibarsjah Djanu Tjahjono terpilih sebagai yang terbaik. Sedangkan sang kapten, Randy, menjadi pemain terbaik.

Kapten Surabaya Bhayangkara Samator Rendy Tamamilang terpilih sebagai pemain terbaik Proliga 2019. Sedangkan pelatih Ibarsjah Djanu Tjahjono menjadi pelatih terbaik. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Atas keberhasilannya menjadi juara, Bhayangkara Samator berhak atas hadiah uang pembinaan sebesar Rp200 juta. Sedangkan BNI 46 sebagai runner up mengantongi Rp100 juta. Untuk pemain terbaik dan pelatih terbaik masing-masing mendapat Rp10 juta.

Start Buruk

Di laga itu, Bhayangkara Samator sesungguhnya melakukan start buruk. Berbeda dengan BNI 46 yang tampil percaya diri. Rekor menawan sejak babak reguler sampai final four tampaknya menjadi modal berharga BNI 46. Juara final four adalah bukti sahih tim itu untuk memenuhi ambisi juara.

Hasilnya, di set pertama BNI 46 unggul 25-23. Hanya, mereka tak mampu menjaga performa. Bhayangkara Samator yang mulai panas justru makin menanjak. Kebangkitan Bhayangkara Samator menjadikan mereka menang 25-20 sekaligus menyamakan skor 1-1.

Keberhasilan merebut set kedua ini menjadi kunci. Bhayangkara Samator makin solid dan serangan mereka sulit dibendung oleh BNI 46. Lewat pertarungan ketat, Bhayangkara Samator akhirnya unggul 26-24.

Dalam kedudukan tertinggal 1-2, BNI 46 mulai goyah. Apalagi, penonton memberi dukungan penuh kepada Bhayangkara Samator. Tak heran di set keempat, BNI 46 malah kehilangan taji. Bhayangkara Samator pun dengan mudah mengakhiri pertandingan 25-17.

Pelatih Ibarsjah menuturkan kunci permainan tim terletak pada strategi merusak fokus lawan. Dirinya sengaja menurunkan setter Yosvani Gonzalez Nicholas sebagai kejutan. Padahal, Ibarsjah sesungguhnya lebih terfokus pada Nizar Julfikar.

Pemain Surabaya Bhayangkara Samator merayakan kemenangan atas Jakarta BNI 46 di grand final Proliga 2019 di GOR Amongrogo, Yogyakarta, Minggu (24/2/2019). (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

“Saya memang ingin menggoyang fokus BNI. Saya langsung turunkan Nicholas untuk membuat kejutan. Padahal kami sesungguhnya lebih fokus pada Nizar. Saat saya masukkan Nizar, kami bisa lebih mudah mengatur pertahanan,” kata Ibarsjah.

Selain itu, tim termotivasi di laga tersebut karena mereka lebih sering kalah setiap kali bertemu BNI 46. Dirinya tetap optimistis karena di laga grand final, faktor mental yang menjadi penentu.

“Selalu kalah di babak sebelumnya membuat saya terpacu. Saya yakin bisa melakukannya karena ini laga grand final. Mental juara yang menentukan. Dan saya benar-benar menyiapkan pemain. Ini yang menjadikan mereka benar-benar siap di laga puncak ini,” tandasnya.

Pelatih BNI 46 Samsul Jais mengungkapkan kekalahan di set kedua ternyata mempengaruhi penampilan tim. Apalagi pemain melakukan banyak kesalahan, terutama saat receive. Kegagalan saat menerima bola pertama yang membuat tim kedodoran.

Artikulli paraprakLawan Vietnam U-22, Ini Yang Dipersiapkan Indra Sjafri Untuk Timnas U-22
Artikulli tjetërAsa Silvio Escobar Berkobar dan Target Gantikan Simic di Piala AFC