Pemain asing Alfonso de la Cruz (kiri) dan Brian Ferreira segera menandatangani kontrak dengan PSS Sleman. Keduanya akan memperkuat PSS di kompetisi Liga 1 2019. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Oleh : Kyai Gringsing

OLENAS.ID – Dua pemain asing PSS Sleman, Alfonso de la Cruz (Spanyol) dan Brian Ferreira (Argentina) tidak ikut dalam latihan tim pada Kamis, 28 Februari 2019 pagi dan sore harinya. Ketidakhadiran mereka bisa saja membuat suporter bingung.

Bagaimana tidak, keduanya sudah berada di Sleman. Dan dinyatakan sudah bergabung dengan PSS. Bahkan Alfonso yang tiba lebih dulu sejak minggu lalu sudah terlibat dalam latihan sebelumnya.

Alasan keduanya tidak terlihat hadir di lapangan Bercak dan YIS sesungguhnya simpel saja. Informasi yang diterima, mereka belum melakukan tanda tangan kontrak dengan klub. Dan itu sudah menjawab ketidakhadiran mereka. Sebagai pemain profesional, mereka tentu memilih untuk tidak mengikuti latihan dan bahkan pertandingan selama urusan legalitas mereka belum terpenuhi.

Sikap seperti itu wajar saja, dan harus jadi pelajaran bagi semua. Terutama PSS yang baru berpromosi ke Liga 1.

Sebelum menghirup udara kompetisi yang ketat dan keras, dimana diperkirakan kualitas yang diperagakan, diadu dengan semangat fair play, sikap profesionalitas harus mulai dilakoni oleh klub berjuluk Super Elang Jawa itu. Sikap profesional yang tak sekadar jargon, atau hanya dilakoni oleh segelintir personel di tubuh PSS Sleman.

Keinginan untuk menjadi lebih baik, untuk benar-benar siap berlaga di Liga 1 sudah ditunjukkan dengan jelas oleh CEO PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) yang menaungi klub. Dari pergerakan yang dilakukan Soekeno, CEO PT PSS, terlihat adanya perombakan untuk menjadikan klub lebih profesional. Ia melakukan perombakan dan perekrutan wajah-wajah baru di tubuh manajemen perusahaan yang bertujuan memperkuat tim.

Perekrutan pemain pun dilakukan dengan cepat, dengan penyediaan dana yang tak memiliki hambatan secara finansial. Pemain lama atau baru yang diinginkan pelatih Seto Nurdiantara diajak bernegosiasi untuk mendapatkan tandatangan mereka. Dan itu, gawean yang ditangani tim negosiasi yang dihuni Rumadi (Direktur Komersial PT PSS) dan Retno Sukmawati (Manajer PSS).

Meski ada yang sepertinya dibiarkan pergi seperti Cristian Gonzales. Keputusan yang pantas disayangkan, karena pemain kelahiran Uruguay ini tak hanya dibutuhkan dengan kemampuannya, tapi juga leadership nya di lapangan.

Adanya banyak pemain baru butuh pemain senior untuk beradaptasi, yang bisa diperankan oleh Gonzales. Ini yang mungkin kurang dicermati.

Pemain asing yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia, tentu butuh pendampingan agar bisa beradaptasi dengan tim, suasana dan iklim di Indonesia. Mereka juga butuh mengenal lebih dulu bagaimana sepak bola nasional. Hal yang sama berlaku untuk pemain asing, yang berasal dari manapun tetap butuh bantuan untuk beradaptasi di tempat yang baru.

Peran itu sesungguhnya bisa dilakukan Gonzales. Sebagai sesama pemain dari Amerika Selatan, dia tentu tak sulit ‘membimbing’ si Brian untuk beradaptasi. Begitu pula dengan Alfonso.

Bahkan bek berusia 32 ini menyebut Gonzales sebagai sosok yang membuat dia memilih bermain di Indonesia ketimbang bertahan di Malaysia. Disebutkan oleh eks penggawa Selangor FA ini, dia sudah ditawari klub Malaysia. Namun bujukan Gonzales dan Evan Dimas, rekannya di Selangor FA, membuat Alfonso bergeser ke Indonesia.

Bila cepat beradaptasi, mereka pun dipastikan segera berkontribusi bagi tim. Meski demikian, suporter berharap keduanya tak kesulitan dengan sepak bola nasional. Apalagi keduanya sudah mencicipi kompetisi dari saudara serumpun, Liga Premier Malaysia.

Pemain Lepas

Sayang sekali memang Gonzales akhirnya meninggalkan PSS. Dan, agak disayangkan memang pergerakan tim negosiasi itu terbilang lambat. Beberapa pemain selain Gonzales, yang memberikan kontribusi besar meloloskan tim ke Liga 1 2019, ikut terlepas.

Lambatnya gerak tim nego itu juga menambah gregetan dan geram suporter, yang bisa dilihat dari cuitan mereka di media sosial. Apalagi melihat klub lain sudah selesai melakukan perburuan pemain asing.

Datangnya Alfonso dan Brian, yang kabarnya akan diikuti oleh mantan striker tim nasional Ukraina U-21, Yevhen Bokhashvili setidaknya mampu mengembalikan kepercayaan suporter akan keseriusan PSS Sleman membangun skuat yang mampu bersaing di kasta tertinggi. Tentu tak semudah membalikkan telapak tangan bahwa skuat itu sudah mumpuni.

Namun perlu diingat bahwa sehebat apa pun skuat yang ada jika tak diimbangi dengan manajemen yang profesional hasilnya juga jeblok

Profesionalitas yang ditunjukkan Alfonso dan Brian bisa menjadi contoh dan pelajaran bagi manajemen PSS Sleman untuk segera berbenah. Tidak cuma terpaku pada pembentukan skuat saja.

Langkah Soekeno untuk bergegas membenahi dan mempersiapkan klub tidak akan berarti jika tidak diikuti oleh yang lain. Buang segera pola pikir Liga 2 lalu, ini era Liga 1 yang membutuhkan kejelian, gerak cepat dan responsif. Barulah kita bisa berharap Elang Jawa tetap mengepakkan sayapnya, bertahan di Liga 1 2019 nanti.

Kyai Gringsing suka menulis, menikmati aroma kehidupan yang tersaji dari kaki ke kaki.