Bek PSS Sleman Alfonso de la Cruz Calero sudah tertarik ingin menjajal sepak bola Indonesia sejak masih bermain di FA Selangor. Di Malaysia, dirinya bersahabat dengan dua pemain Indonesia, Evan Dimas dan Ilham Udin Armaiyn. (foto: olenas.id/Gonang Susatyo)

Alfonso de la Cruz Calero tidak secara tiba-tiba datang ke Indonesia. Meski berasal dari Spanyol, namun dirinya sempat bermain di Malaysia. Memperkuat FA Selangor di tahun 2018 menjadikan wakil presiden klub divisi tiga Spanyol CP Villarrobledo itu bersinggungan dengan Indonesia.

Ya, dia bermain bersama duo Indonesia di Malaysia, Evan Dimas dan Ilham Udin Armaiyn. Lewat Evan Dimas, pemain yang menempati posisi belakang ini mulai ‘berkenalan’ dengan Indonesia.

Dan di tahun ini, Alfonso pun menjejakkan kaki di Yogyakarta. Kini, dirinya menjadi pilar kekuatan PSS Sleman di kompetisi Liga 1. Berikut wawancara OLENAS.ID dengan pemain kelahiran Villarrobledo pada 17 Juli 1986 itu.

Apa yang menjadi pertimbangan Anda datang dan bermain di Indonesia? Apakah Anda sudah tahu tentang sepak bola Indonesia yang mungkin asing bagi pesepak bola Spanyol?

Bukan kebetulan saya datang ke Indonesia. Saya datang untuk bermain sepak bola di sini. Saya tahu sepak bola Indonesia juga bagus. Pemainnya banyak yang bagus. Saya kenal Evan Dimas dan Ilham Udin. Kami bermain bersama di FA Selangor. Saya berteman baik dengan Evan Dimas. Dia sarankan agar saya bermain di Indonesia. Saat itu, saya menjawab, ‘Oke, saya akan datang’. Dan, akhirnya saya datang.

Apakah tidak ada tawaran dari klub Malaysia sebelum Anda ke Indonesia?

Tentu ada. Saya mendapat banyak tawaran dari klub Malaysia. Jadi, bisa saja saya memilih tetap di Malaysia. Tetapi saya ingin pindah dan bermain di negara lain. Saya ingin berpindah klub. Ini yang membuat saya memilih bermain di Indonesia.

Sebelumnya, apakah pernah mengunjungi Indonesia?

Saya pernah ke Indonesia, tetapi saya ke Bali. Saya berlibur saja. Di sana, orang-orangnya baik dan ramah. Saya mendapat informasi kalau orang Indonesia memang baik. Ini yang membuat saya makin yakin untuk bermain di Indonesia setelah selesai di FA Selangor.

Bek Alfonso de la Cruz Calero menjadi benteng tangguh PSS Sleman. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Bagaimana dengan PSS? Mengapa Anda memutuskan menerima tawaran bermain untuk klub promosi di tahun pertama di Liga 1?

Ya, saya tahu PSS merupakan tim promosi. Dan sekarang klub berada di kasta tertinggi. Saya memang mendapat tawaran dari sejumlah klub di Indonesia karena mereka tahu saya ingin bermain di sini. Tetapi PSS sudah mengajukan penawaran lebih dulu. Saya tentu prioritaskan PSS dan tak ingin ke klub lain. Dan ternyata semua oke, tidak masalah. Saya senang di sini dan sampai saat ini tak punya alasan kuat untuk pindah ke klub lain. Sebagai tim promosi, saya tentu sangat berharap PSS bisa bertahan di kasta tertinggi.

Bagaimana dengan atmosfer saat pertandingan PSS? Tidak kesulitan beradaptasi dengan tim?

Luar biasa. Saya terkesan dengan suporter. Mereka sungguh luar biasa. Pertama kali saat saya menonton pertandingan saat melawan Borneo FC di Piala Indonesia. Suara suporter sungguh keras. Saya senang melihatnya. Saya juga bertemu Cristian Gonzales. Saat itu dia mengatakan kepada saya, ‘Alfonso, sebaiknya Anda bermain di sini. Orang-orangnya baik dan bagus. Kami sudah seperti keluarga di PSS. Presiden klub juga baik’. Saat itu pula saya yakin untuk bermain di sini. Dan saya tak sulit menyesuaikan diri. Apalagi saya sudah berlatih bersama mereka sebelum resmi bermain.

Bagaimana dengan pemain Indonesia yang rata-rata lebih pendek dibandingkan pemain Eropa? Anda terkejut karena berhadapan dengan pemain yang postur tubuhnya termasuk kecil?

Sepak bola itu bermain dengan bola. Fisik boleh beda, tetapi yang penting adalah memiliki kekuatan dalam pikiran. Dalam sepak bola, taktikal itu hal yang sangat penting. Evan Dimas adalah contoh pemain Indonesia yang sangat bagus. Bahkan di FA Selangor, dia diberi kebebasan di lapangan. Teknik dia memang fantastis.

Pemain Indonesia mungkin kecil, tetapi mereka cepat. Tidak hanya Evan Dimas, tetapi Ilham juga memiliki teknik yang menurut saya sangat bagus. Saya melihat permainan mereka.

Masih sedikit pemain dari Spanyol yang datang ke Indonesia. Mereka rata-rata tidak bertahan lama bermain di Indonesia. Pencapaiannya juga tak maksimal. Mungkin hanya Fernando Rodriguez yang sukses, tetapi dia juga hanya satu musim di Indonesia. Tanggapan Anda?

Mereka mungkin tidak sesuai dengan Indonesia yang memang panas. Belum lagi soal makanan. Kami biasa makan yang terasa manis. Tetapi di sini, makanannya pedas. Seperti terlalu banyak cabai. Yang jadi persoalan adalah perut. Itu yang sering dihadapi pemain Eropa seperti kami. Tetapi lama-kelamaan, saya makin terbiasa dengan makanan pedas. Dulu perut memang tidak kuat.

Ya, saya mengenal Rodriguez. Dia pemain bagus. Saya tak heran bila dia bisa sukses di Indonesia. Sayang dia tidak lama bermain di sini. Dia sekarang bermain di Malaysia.

Bek asal Spanyol Alfonso de la Cruz Calero berharap ingin lama bermain di Indonesia seperti Cristian Gonzales. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Bagaimana dengan Anda sendiri? Apakah ingin lama bermain di Indonesia? Atau cukup satu atau dua tahun di sini?

Saat ini memang baru satu tahun dulu. Tetapi saya tidak tahu bagaimana ke depannya. Kita lihat saja nanti. Saya tampaknya ingin bermain empat sampai lima tahun lagi di sini. Tetapi saya juga berharap bisa mengikuti jejak Gonzales yang sudah lebih dari 10 tahun bermain di sini. Saya ingin seperti dia. Tetapi sekali lagi, kita lihat saja nanti.

Anda biasa bermain sebagai pemain belakang. Tetapi Anda juga kerap didorong menjadi gelandang bertahan. Anda lebih merasa nyaman atau cocok bermain di posisi apa?

Saya memang pemain belakang. Tetapi saat di FA Selangor ada pergantian pelatih, saya kemudian ditempatkan sebagai gelandang. Bagi saya tidak ada masalah. Yang penting saya bisa bermain untuk klub. Saya sama-sama menikmatinya. Jadi, kini saya bisa menjadi bek atau gelandang bertahan.

Anda fan Barcelona atau Real Madrid?

Bukan keduanya? Saya penggemar Atletico Madrid. Orang Spanyol biasanya kalau tidak mendukung Barcelona, ya Real Madrid. Tetapi sejak dulu saya suporter Atletico. Mengapa? Sejak kecil, saya sudah sering diajak ayah menonton pertandingan Atletico. Jadi, saya penggemar Atletico.