Striker Yevhen Bokhashvili tak kunjung mendapat kontrak dari PSS Sleman. Ini menjadikan nasibnya tidak jelas di PSS. Pemain asal Ukraina ini pun belum dimainkan oleh pelatih Seto Nurdiantara. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

OLENAS.ID – Dari teka-teki dan kini kian tak jelas. Begitulah nasib striker Yevhen Bokhashvili di PSS Sleman. Eks penyerang tim nasional Ukraina U-21 ini belum juga disodori kontrak oleh PSS. Akibatnya, Yevhen tak kunjung dimainkan saat PSS bertarung di Piala Presiden 2019.

Di Grup D yang digelar di kandang sendiri di Stadion Maguwoharjo, Sleman, PSS sudah melakoni dua pertandingan melawan Madura United dan Borneo FC. Dan di dua laga itu, pelatih Seto Nurdiantara belum sekalipun menurunkan Yevhen.

Saat melakoni laga terakhir melawan Persija Jakarta, Jumat (15/3/2019), dirinya pun diragukan tampil. Ini berarti striker Kushedya Hari Yudo kembali menjadi andalan di lini depan Super Elang Jawa. Nasib Yevhen di PSS pun kian tak jelas.

Ini tentu menjadi teka-teki. Apakah Yevhen dalam kondisi tak fit atau memang pernah mengalami cedera seperti disebutkan OLENAS.ID sebelumnya? Apakah saat datang ke Indonesia, dirinya masih dalam proses pemulihan dari cedera yang dialaminya? Apalagi Yehven ternyata menjalani latihan secara terpisah dan mendapat pendampingan khusus dari fisioterapis PSS.

Nasib Yevhen pun sepertinya kian buram saat pelatih Seto seolah lepas tangan. Dirinya enggan berkomentar dan mengaku tidak tahu-menahu soal kedatangan Yevhen ke Sleman.

“Soal dia (Yevhen), saya tidak tahu pasti. Manajemen yang tahu. Saya tidak tahu secara pasti mengapa dia bisa sampai di sini. Manajemen dan PT (PSS) yang tahu,” ujar Seto.

Bila pelatih kepala sampai tidak tahu soal pemain asing yang datang, tentu ini menjadi pertanyaan besar. Apalagi dirinya kemudian melemparkan Yevhen ke manajemen dan PT PSS.

Mungkinkah Yevhen kurang diminati Seto? Bila tak diminati, apakah dia akan dipulangkan? Persoalannya, Yevhen berasal dari Ukraina yang jaraknya sangat jauh. Agak aneh bila pemain berusia 26 ini datang ke Indonesia hanya untuk melakukan trial dan kemudian dipulangkan ke negaranya.

Berbeda kalau Yevhen dari Klaten atau Wonogiri yang jaraknya tidak jauh dari Sleman. Tentu tak sulit memulangkannya bila performa atau kemampuan teknik, taktikal, fisik maupun mental dia tak sesuai ekspetasi.

Ini seperti tarik-ulur. Persoalannya, tentu bukan tanpa alasan bila PT PSS mendatangkan Yevhen ke Indonesia.

Problem Yevhen menunjukkan lemahnya tim scouting PSS atau mungkin klub memang tak punya tim scouting.  Saat masih berkompetisi di Liga 2 dan mencanangkan promosi ke kasta tertinggi, klub seharusnya mulai memantau pemain lokal dan asing, baik yang bermain di liga domestik maupun bertebaran di liga-liga Asia Tenggara, atau bahkan Asia seperti Jepang, China maupun Korea Selatan. Atau misalnya menjalin kerjasama dengan agen tertentu untuk memantau pemain Eropa Timur yang bermain di liga negaranya. Dengan demikian, klub tidak gelagapan mencari pemain asing setelah benar-benar promosi. Itu pun yang dialami Seto.

“Inilah resiko tim Liga 2. Tim promosi kesulitan mencari pemain. Jadi, kami mencari pemain secara pelan-pelan dan semoga bisa cepat mendapatkannya. Ada beberapa posisi yang masih dibutuhkan untuk tim ini,” ujar Seto memungkasi.