Kapten PSS Sleman Bagus Nirwanto saat berdiskusi dengan wasit di sebuah pertandingan. Pemain lokal maupun asing harus menaruh sikap hormat kepada wasit, apa pun keputusannya. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

OLENAS.ID – Kompetisi Liga 1 tinggal satu bulan lagi. Tim-tim pun sudah mematangkan persiapan. Mereka yang masih bertahan di Piala Presiden 2019 setidaknya bisa menguji kemampuan dan mental bertanding tim.

Tak hanya itu, pemain yang baru didatangkan pun bisa langsung beradaptasi dengan tim. Turnamen pramusim ini menjadi wadah tepat bagi pelatih untuk menguji pemain anyar.

Sedikit berbeda dengan PSS Sleman yang lebih disibukkan dengan latihan fisik. Di pekan pertama April, pelatih Seto Nurdiantara terfokus pada peningkatan fisik pemain. Kondisi fisik pemain menjadi sorotan sang pelatih bila mengacu dari penampilan tim di babak penyisihan Piala Presiden.

Persiapan tim yang berangkat dari kasta kedua ini memang berbeda dibandingkan tim-tim Liga 1. Bila tim penghuni kasta tertinggi langsung bersiap tak lama setelah kompetisi berakhir, PSS justru disibukkan dengan penunjukan manajer anyar usai diberhentikannya Sismantoro.

Perekrutan pemain pun masih menunggu negosiasi kontrak. Saking lamanya negosiasi, netizen sampai menyindir pembahasan kontrak pemain seperti ‘tawar-menawar cabai di pasar’. Repotnya banyak pemain yang layak dipertahankan justru dilepas. Sebut saja Ichsan Pratama, pemain terbaik Liga 2, dan Cristian Gonzales.

Belum lagi mendatangkan legiun asing. Keinginan Seto mendatangkan pemain yang belum merasakan kompetisi di Indonesia seharusnya sudah ditindaklanjuti sebelum tim mengakhiri Liga 2. Setidaknya, klub bisa meminta bantuan para agen untuk memantau pemain asing yang bertebaran di liga-liga Asia Tenggara atau memboyong langsung dari negaranya.

Gelandang PSS Sleman Haris Tuharea saat merayakan gol di pertandingan Piala Indonesia. Persiapan PSS menghadapi Liga 1 termasuk telat karena saat ini pelatih Seto Nurdiantara terfokus pada pembenahan fisik pemain. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Namun tidak ada pergerakan sama sekali untuk membangun skuat yang akan mengarungi Liga 1. Perekrutan pemain pun baru dilakukan saat tim-tim lain sudah mematangkan persiapan menatap Piala Presiden. Buntutnya semua pemain terbaik asing, lokal maupun naturalisasi sudah mendapatkan klub.

Perekrutan yang telat menjadikan skuat PSS tak lengkap saat mengikuti Piala Presiden. Begitu pula saat kompetisi tinggal satu bulan lagi karena kick-off ditetapkan pada 8 Mei 2019, PSS masih sibuk memperbaiki fisik pemain. Pasalnya Seto menginginkan pemain yang aktif bergerak di lapangan. Pemain yang mau bekerja di lapangan dan memiliki determinasi tinggi. Namun PSS punya keyakinan meski persiapannya mepet, tetapi itu bukan halangan bagi tim menghadapi liga.

“Waktu yang mepet tidak menjadi halangan untuk mempersiapkan skuat. Apalagi, pelatih fokus melanjutkan program yang telah disusun. Pelatih sedang berusaha meningkatkan kondisi fisik pemain dan berencana uji tanding dengan klub Liga 1,” kata Johannes Sugianto, Humas PT PSS.

Agak unik bila pemain yang berkompetisi di Liga 1 masih dihadapkan dengan problem fisik sehingga harus digenjot di masa persiapan tim. Bagi tim Liga 2, ini mungkin hal yang biasa. Setelah kompetisi berakhir, tim dibubarkan seiring berakhirnya kontrak. Klub baru mulai mencari pemain saat liga akan digulirkan dua atau tiga bulan lagi. Karena fisik pemain kerap menurun, pelatih pun selalu mengawali persiapan dengan menggenjot fisik mereka.

Striker PSS Sleman Kushedya Hari Yudo saat mendapat provokasi oleh pemain lawan di pertandingan Piala Presiden. PSS masih menjalani lathan fisik untuk menghadapi Liga 1. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Kelengkapan Skuat

Persiapan terkait kelengkapan pemain asing PSS juga masih tersendat. Saat ini, PSS baru memiliki gelandang serang Brian Ferreira (Argentina) dan bek Alfonso de la Cruz (Spanyol). Sebaliknya, dua pemain lagi, Guilherme Felipe ‘Batata’ de Castro (Brasil) dan Yevhen Bokhashvili (Ukraina) masih belum dipatenkan.

PSS Sleman baru melengkapi skuat dengan dua pemain asing, Alfonso de la Cruz (kiri) dan Brian Ferreira. Meski Liga 1 tinggal satu bulan lagi, skuat PSS masih belum komplet. (foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

Informasi yang beredar, Bokhashvili sempat terkendala medis meski kemudian dinyatakan lolos. Sementara Felipe alias Batata dihadapkan dengan problem perilaku mengingat dirinya pernah diganjar sanksi berat saat bermain di India.

Pemain asal Brasil ini disanksi All India Football Federation (AIFF), berupa larangan bermain selama satu tahun, akibat meludahi wasit. Saat itu, Batata yang memperkuat Gokulam Kerala berhadapan dengan Shilong Lajong, 22 Februari lalu.

Bila perilakunya tidak berubah, Batata bisa menjadi problem bagi PSS. Apalagi pemain asing yang menjadi debutan di kompetisi Tanah Air kerap ‘terkejut’ dengan kinerja wasit lokal. Bila terpancing emosi, mereka tak urung melancarkan protes. Repotnya bila protes dia sampai berlebihan.

“Hal yang biasa bagi pemain asing yang baru pertama kali bermain di Indonesia. Ada pelanggaran yang sudah pasti mendapat peringatan keras bila itu terjadi di negaranya. Tetapi di sini, pelanggaran seperti itu dibiarkan wasit. Akibatnya mereka protes wasit. Mereka tentu masih belajar bagaimana bermain di Indonesia. Pemain saya dari Brasil menghadapi situasi seperti itu. Paling saya katakan ke mereka, ‘Welcome to Indonesia’,” ujar Jackson F. Tiago, pelatih Barito Putera, menanggapi problem para debutan asing di Indonesia.

Bila pemainnya bisa menyesuaikan diri, tentu mereka tak menjadi masalah bagi klub. Persoalannya bila pemain malah gampang terpancing emosi gara-gara kinerja wasit yang tidak seperti di negaranya. Bakal repot bila pemain asing lebih sering di kartu kuning dan bahkan sampai dikartu merah.

Padahal, pemain asing didatangkan ke Indonesia tidak hanya memberi contoh skill yang harus lebih baik dibandingkan pemain lokal tetapi juga perilaku sportif dan menjunjung fair play. Perilaku yang menaruh hormat pada wasit apa pun keputusannya.

Apa pun, PSS bakal mengawali Liga 1 dengan langkah berat. Bisa jadi tiga sampai lima laga pertama menjadi ujian tak mudah bagi jawara Liga 2 ini. Repotnya bila mereka lebih banyak menjalani laga tandang. Ini jadi tantangan bagi Seto dan pasukannya.