persija-jakarta-liburkan-tim-selama-sepekan

Oleh : Sugiyanto
Redaktur OLENAS.ID

Kompetisi Shopee Liga 1 2020 diawali dengan baik dengan jadwal yang lebih rapi. Jadwal kick off diajukan dan pertandingan demi pertandingan hingga pekan kedua sudah tersaji dengan apik. Memang sedikit ternoda dengan adanya kerusuhan supporter saat PSIS menjamu Arema FC. Tapi itu riak kecil dari sebuah perjalanan kompetisi yang diharapkan lebih baik dari sebelumnya.

Shopee Liga 1 2020 rencananya akan selesai di akhir Oktober 2020 mendatang, atau paling telat di bulan November. Jadwal ini bisa disebut seragam dengan liga-liga lainnya di Asia Tenggara. Thai League misalnya akan selesai Oktober 2020, Liga Malaysia, Vietnam dan Philipina juga tak berjarak jauh kick off maupun akhir kompetisinya.

Saat ini kompetisi Shopee Liga 1 2020 telah memasuki pekan ketiga. Sedangkan Liga 2 2020 baru saja melakukan kick off laga perdana pada Sabtu (14/3) dan Minggu (15/3) kemarin. 

Kini, tekel keras virus Corona menjadi ujian berat bagi kelangsungan kompetisi, yang sudah ditunda hingga akhir Maret 2020. Makin meluasnya persebaran Corona dan diperpanjangnya masa darurat oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang memperpanjang status darurat bencana akibat virus corona hingga 29 Mei 2020.

Diprediksi, PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) akan mengambil keputusan penundaan seluruh kompetisi lebih lama dari saat ini yang hanya dua pekan, hingga keadaan sudah kondusif. Dan diperkirakan itu akan lebih lama dari perkiraan, setidaknya lebih dari 3 bulan atau setelah Mei 2020.

Tentu hal itu merupakan pukulan tersendiri, karena lebih rapinya penyusunan jadwal kompetisi Liga 1 misalnya tak lepas dari tujuan lebih lamanya waktu bagi Timnas untuk bersiap menghadapi Piala AFF 2020 yang direncanakan berlangsung pada 14 Desember 2020.

Selain itu, jadwal yang rapi bisa menimalisir drama-drama pembatalan laga beberapa hari sebelum laga tersebut dihelat. Karena tentu sangat berpengaruh terhadap fokus tim itu sendiri.

Penundaan kompetisi selama dua minggu, seperti saat ini, jelas belum berpengaruh banyak bagi klub dan juga jadwal liga. Apalagi untuk Liga 1 yang memang tak ada jadwal dalam dua minggu ini. Namun bagaimana jika laga ditunda hingga 2-3 bulan mendatang?

PSSI sudah tanggap akan hal itu, seperti dalam pertemuan dengan perwakilan klub Liga 1 dan 2 di Jakarta, Senin (16/3/2020). Ketua Umum PSSI, Iwan Bule menyatakan PT LIB  diminta menyusun kembali jadwal pertandingan dan hal yang bersifat teknis serta adminsitratif terkait perkembangan persebaran virus Corona.

Selain itu, PSSI juga akan membantu LIB untuk melakukan kajian cost, manajemen risiko di masing-masing klub dalam kondisi terburuk usai dua pekan penghentian sementara kompetisi.Selain itu, PSSI juga akan membantu LIB untuk melakukan kajian cost, manajemen risiko di masing-masing klub dalam kondisi terburuk usai dua pekan penghentian sementara kompetisi.

Manajemen resiko itu yang sedari kini jadi focus setiap klub. Penghentian kompetisi, apapun alasannya, membuat neraca klub Liga 1 yang rata-rata belum kuat akan goyah. Satu sumber pemasukan yang jelas hilang adalah laga home atau jadi tuan rumah.

Laga kandang yang merupakan partai besar (big match) akan memberikan pemasukan yang bisa mencapai Rp 1 miliar bersih. Pendapatan yang jelas membuat klub bernafas lega, karena angka itu bisa menutupi gaji pemain selama satu bulan, setidaknya 60-75%.

Di sinilah kehadiran PT LIB sangat berarti bagi klub untuk memberi bantuan teknis dalam menghadapi resiko penghentian sementara kompetisi. Terutama bagi tim yang kemampuan finansialnya pas-pasan.

Bukan pekerjaan yang mudah memang, tapi bisa menjadi tantangan tersendiri bagi PT LIB. Seperti yang dikemukakan oleh DIrut PT LIB, Cucu Somantri bahwa perlu dibahas secara detail soal jadwal, resiko sampai hal-hal teknis. Tujuannya agar kompetisi tetap menarik, fair, berkualitas dan kompetitif.

Seperti halnya penantian penanganan virus corona di manapun, kita juga perlu bersabar atas situasi force majeur ini. Penghentian sementara kompetisi merupakan keputusan yang berat, tapi harus diamnbil demi semangat keselamatan khalayak, termasuk pesepakbola, fan, dan berbagai pihak lain yang turut ambil bagian dalam penyelenggaraan sebuah pertandingan.

Ada resiko-resiko yang harus didapat, tak hanya dari sisi klub tapi juga pemain. Mereka akan bernegosiasi untuk membicarakan situasi sulit yang dihadapi ini.

Bagi mereka yang membela klub dengan dana besar, tentu tak kehilangan banyak. Misalnya pemain tidak mendapatkan bonus bermain atau bonus kemenangan karena memang tidak pertandingan yang dilakoni. Hak dasar pemain yakni gaji tetap diterima setiap bulannya.

Masalahnya akan lain, bisa lebih pelik jika menyangkut klub dengan sumber dana terbatas. Negosiasi bisa berlangsung alot. Opsi terbaik bisa tercapai seperti pembayaran setengah gaji yang harus diterima oleh klub dan pemain hingga krisis ini berakhir, dan kompetisi kembali normal.

Hal lain yang juga akan membuat klub pusing tujuh keliling adalah soal sponsor. Pemilik uang yang membawa bendera berbagai produk tentu tidak menginginkan hilang atau mandeknya eksposer atau liputan di lapangan. Di sinilah pihak klub harus pandai-pandai melakukan negosiasi agar sponsor tetap mau mengucurkan dananya sesuai kontrak yang disepakati, dengan berbagai opsi yang saling menguntungkan.

Bila terjadi sebaliknya, yakni sponsor tidak mengucurkan uang sedangkan klub tak punya dana cadangan, pemain yang akan terkena getahnya. Jika dalam situasi normal, di luar bencana seperti virus corona, sebagian bisa bermian tarkam untuk menutupi kebutuhan rumah tangganya, saat ini hal tersebut mustahil dilakukan.

Sekali lagi, di sinilah kehadiran PT LIB sangat berarti sebagai bapak, sebagai induk klub-klub untuk bisa lebih tenang menghadapi force majeur yang juga dihadapi ratusan klub di seluruh dunia.

Semoga badai ini segera berlalu, dan kompetisi kembali berjalan normal, kehidupan dari sepakbola kembali bertalu. ***

Artikulli paraprakPSSI Minta PT LIB Susun Kembali Jadwal Pertandingan
Artikulli tjetërDejan Antonic yang Bahagia Karena Putranya Dipanggil Pelatnas U-19