Webinar dari JOY yang mampu menarik perhatian. (Foto : Susanto)

OLENAS.ID – Klub-klub Liga 1 saat ini tak lagi berdarah-darah tapi sudah hancur dengan tak adanya kepastian kapan kompetisi Liga 1 2020 bergulir. Sejak persiapan awal Januari 2020 hingga kini sudah Rp 7,5 miliar kerugian yang diderita.

“Saya rasa semua klub merasakan tahun ini remuk redam, ajur, tinggal debu. Kalau dihitung kerugian per hari ini sekitar 7,5 miliar,” ujar CEO PSIS Semarang, Yoyok Sukawi saat menjawab pertanyaan Viola Kurniawati yang jadi moderator dalam webinar bertemakan “Kompetisi, Antara Bisnis dan Kemanusiaan”, Sabtu (17/10/2020).

Webinar yang diadakan oleh Jurnalis Olahraga Yogyakarta (JOY) itu juga menghadirkan Direktur Keuangan PT Putra Sleman Sembada (PSS), Andy Wardhana, Rahmad Darmawan (pelatih Madura Unite) dan Asep Saptura (Manajer Kompetisi PT Liga Indonesia Baru, operator kompetisi).

Kegiatan yang kedua kalinya dari JOY itu didukung oleh First Media, Signature Coffee Shop, Laya Cultural Coffee House, PS Sleman dan PT Liga Indonesia Baru itu menyedot perhatian kalangan pelaku sepakbola. Hingga akhir acara sebanyak 100 peserta tetap mengikuti webinar tersebut.

Besaran kerugian itu, lanjut Yoyok Sukawi yang juga anggota Komite Eksekutif PSSI, dihitung dari ppersiapan tim sejak Januari 2020. Mulai dari uang muka (dp) pemain, fasilitas rumah, latihan dan lainya yang menelan biaya Rp 4 miliar.

Setelah kompetisi diliburkan akibat pandemi Covid-19, lalu ada kabar di bulan Agustus akan berlangsung kembali, biaya operasional pun bertambah. Pemain asing dipanggil lagi, apartemen kembali dibuka, mobil disewa, latihan diadakan. Ini semua menelan biaya Rp 3-4 miliar.

Besaran angka itu diamini oleh Direktur Keuangan PT PSS, Andy Wardhana meski ia tidak menyebut nominal yang diderita oleh klub PS Sleman.

“Kalau besaran angka tiap klub punya angka yang berbeda-beda ya. Cukup banyak, itu jelas, untuk pemain dan fasilitasnya seperti mess dan sewa lapangan untuk latihan. Seperti disampaikan pak Yoyok kurang lebih angkanya segitu,”jelas Andy Wardhana.

PSS sendiri, lanjut Andy, mengharapkan Estraordinary Meeting yang diadakan di Yogyakarta minggu lalu itu menghasilkan
sesuatu yang pasti ‘jalan atau tidak jalan’. Hal ini untuk mempermudah langkah kita untuk menentukan langkah
berikutnya apa yg harus dilakukan.

“Dari sisi pemegang saham dan manajemen untuk tetap komit bisa melewati situasi berat yang ada saat ini. Kita juga mau menjaga kebutuhan semua pihak, jika pun kurang ya sama-sama merasakan kondisi yang memang berat ini sampai batas tertentu yang cukup wajar dan tidak memberatkan semua pihak,” tegas Andy Wardhana. ***