Shandy Joan Permana saat beraksi melakukan juggling di Youth Fun Juggling Competition di Semarang. (Foto: Olenas.id/Gonang Susatyo)

OLENAS.ID – Kemampuan juggling yang diperlihatkan Shandy Joan Permana memang mengesankan. Siswa SMPN 20 Semarang ini memang jago juggling bola. Tidak tanggung-tanggung dia bisa juggling selama 5 menit 13 detik saat tampil di kegiatan “Main Bola Yuk, Youth Fun Juggling Competition”, yang digelar Kementerian Pemuda dan Olah Raga bekerja sama dengan PSSI, Minggu (29/11/2020). Ini menjadikan Shandy tampil sebagai pemenang di kompetisi itu.

Uniknya, Shandy sesungguhnya anak Sekolah Sepak Bola (SSB) yang menempati posisi kiper. Lebih hebat lagi, dia ternyata pernah juggling sampai lama. Dia beratraksi dengan menendang-nendang tanpa menjatuhkan bola sampai 15 menit. Catatan menit terlama Shandy yang sejak menekuni sepak bola langsung memilih posisi kiper.

“Saya pernah melakukannya sampai 15 menit. Saya memang seorang kiper, tetapi sudah melakukan juggling sejak kecil,” kata Shandy.

Teknik itu nomor dua. Sedangkan mental dan attitude jadi nomor satu dalam memilih pemain

Shandy yang mengasah kemampuan bermain bola di SSB Elang Timur, Semarang, ini sudah sering berlatih juggling sehingga tak sulit menunjukkan aksi. Hanya catatan waktu yang ditorehkan di Juggling Competition ini ternyata masih kalah jauh dibandingkan saat dia melakukannya dalam keseharian. Meski demikian keberhasilan melakukan juggling selama lebih dari 5 menit sudah mengantarkannya sebagai pemenang.

Shandy menyisihkan 310 siswa perwakilan dari 14 SSB di Kota Semarang di kegiatan “Youth Fun Juggling Competition”. Sebanyak 30 siswa hadir secara langsung di Patra Hotel, Semarang. Sedangkan sisanya 280 anak mengikuti secara virtual di SSB masing-masing.

Juggling, Teknik Dasar di Sepak Bola

Mantan gelandang PSIS Semarang, M Irfan menuturkan bila juggling merupakan salah satu teknik dasar yang berkaitan dengan motorik pemain sepak bola. Namun kemampuan itu harus diimbangi dengan intelegensia, fisik, teknik dan terutama mental.

“Teknik itu nomor dua. Sedangkan mental dan attitude jadi nomor satu dalam memilih pemain,” kata Irfan yang menjadi mentor “Youth Fun Juggling Competition” di Semarang ini.

Shandy Joan Permana tampil sebagai juara di Youth Fun Juggling Competition di Semarang. (Foto: Olenas.id/Gonang Susatyo))

“Bagi yang menjadi juara belum tentu menjadi pemain di liga bila tidak memiliki kemampuan dasar lain. Namun yang terutama adalah pembentukan karakter. Pemain harus dikuatkan mental agar lebih terarah,” ujar eks pemain PSIM Yogyakarta yang kini menjadi asisten pelatih PON Jateng ini.

Sebagai informasi, kompetisi juggling yang dilakukan penuh kegembiraan ini digelar sebagai bentuk dukungan tim nasional U-20 yang akan berlaga di Piala Dunia U-20 2021. Kebetulan lagi, Indonesia menjadi tuan rumah dari gelaran turnamen sepak bola yunior terakbar di dunia ini.

Melalui kompetisi itu diharapkan muncul bibit muda bertalenta di cabang sepak bola. Harapan itu disampaikan Menpora Zainudin Amali saat membuka gelaran sosialisasi kompetisi juggling itu secara virtual di Bali, Sabtu (5/12/2020) lalu.

“Tujuan kegiatan ini untuk menyemarakkan sepak bola di tengah situasi pandemi. Karena kegiatan ini untuk anak-anak SSB, maka juggling dilakukan secara fun atau penuh kegembiraan,” kata Menpora.

Kegiatan sendiri digelar di 36 kota dan kabupaten di enam provinsi yang berlangsung sampai 14 Desember 2020. Dalam setiap kegiatan diikuti 310 peserta berusia 12-16 tahun.*

Artikulli paraprakSabar, Pelatih Shin Tae-yong Segera Kembali ke Indonesia
Artikulli tjetër“Omah PSS”, Kantor Baru PT PSS