Ariono, pengamat sepakbola usia dini. (Ist)

OLENAS.ID – Pembinaan usia dini tidak boleh terhenti dengan situasi sulit di masa pandemi Covid-19 saat ini. Para pelaku sepakbola di Sekolah Sepakbola (SSB) hendaknya tidak menyerah, tetap bersemangat melakukan pembinaan.

“Di masa sebelum pandemi ini terjadi, kita tetap melakukan pembinaan bagi anak-anak yang mempunyai hobi bermain sepakbola. Bermimpi menjadi pemain yang baik. Semangat itu hendaknya tetap terjaga,” ujar pengamat sepakbola usia dini, Ariono dalam penjelasannya di Sleman, 12 Januari 2020.

Ariono yang juga pemilik SSB Bintang Putra Mlati (BPM) di Sleman, Yogyakarta mengatakan, prestasi suatu tim sepakbola sangat tergantung dari kualitas pemain di dalam tim tersebut. Sedangkan pemain yang berkualitas membutuhkan keterampilan atau teknik bermain, kondisi fisik, kemampuan taktik dan mental yang baik.

Berbagai kemampuan tersebut akan dapat dimulai dari usia muda 7-17 tahun hingga usia senior. Di sinilah peran SSB menjadi krusial, sangat stretegis dalam menentukan kemajuan prestasi sepakbola Indonesia.

Mengelola SSB, lanjut Ariono, tidaklah ringan. Iklim pembinaan usia muda di Indonesia berbeda jauh dengan di Eropa. Di sana pemerintah dan klub-klub professional punya kepedulian tinggai terhadap pengembangan sepakbola usia dini. Tak heran, jika beberapa pemain sudah mendapatkan kontrak professional agar bakat istimewanya dapat dikembangkan secara optimal.

Sayangnya di Indonesia pembinaan pemain dini masih banyak dilakukan oleh pihak swasta dan swadaya masyarakat yang peduli pada pengembangan sepakbola usia dini.

Perhatian PSSI baik di tingkat pusat, provinsi atau kabupaten masih dapat dikatakan belum optimal. Bisa dikatakan induk organisasi sepakbola Indonesia itu masih minim perhatiannya pada kompetisi usia dini.  


Padahal, kata Ariono, permasalahan pembinaan usia dini tak hanya pada masalah kualitas kompetisi. Masalah kurikulum, kualitas pelatih, sarana prasarana latihan juga menjadi kendala serius yang harus diselesaikan.

Akibat belum ada standarisasi atau syarat-syarat yang harus dipenuhi secara khusus membuat SSB mudah didirikan, tapi juga dengan mudah bubar di tengah jalan.

Di Sleman sendiri, saat ini terdapat 20 SSB yang masih aktif dan terus melakukan pembinaan usia muda.  Meski sempat terhenti, kini para pemain dini sudah berlatih Kembali sejak Oktober 2020 lalu. Tentunya dengan memperlakukan protokol kesehatan yang ketat.

Selain dilakukan cek suhu, menggunakan handsanitazer bagi pemain, para siswa wajib mengganti baju setelah berlatih dengan baju bersih.

Menjaga semangat anak-anak untuk tertap berlatih juga menjadi tantangan tersendiri bagi manajemen SSB. Sepakbola menjadi sarana untuk tetap menjaga imun anak-anak. Hal ini mendapatkan dukungan dari orangtua siswa, yang dengan setia tetap mendampingi para siswa berlatih. ***

Artikel sebelumyaPT LIB Percepat Pertemuan dengan Klub Bahas Liga
Artikel berikutnyaNemanja Matic Yakin Man United Siap Ladeni Liverpool