Pelatih EDF Eladio Antonio Rojas Reyes. (Foto: istimewa)

OLENAS.ID – Gorengan ternyata bisa menjadi problem bagi pesepak bola muda. Soal gorengan juga menjadi sorotan pelatih Estrellas Del Futbol (EDF) LaLiga Academy, Eladio Antonio Rojas Reyes. Ini menjadi keprihatinan asal Chile dalam webinar bertemakan Akademi di Tengah Pandemi: Tetap Oke Bina Pemain yang digelar Jurnalis Olahraga Yogyakarta (JOY), akhir pekan lalu.

Sentilan pelatih dari luar Indonesia soal kegemaran atlet menyantap gorengan. Hanya, siapa tak suka gorengan. Penganan atau camilan pisang, tempe (mendoan), bakwan sampai ketela goreng memang sangat nikmat. Apalagi bila dinikmati bersama teh hangat atau kopi.

Menurut Reyes kesukaan makan gorengan menjadi masalah serius bagi kebugaran pemain-pemain Indonesia. Diakui oleh dia, ini bisa terjadi karena ketidakdisiplinan mereka dalam memilih makanan.

Semua program yang dijalankan dipantau dari LaLiga Spanyol. Mereka mengatur program untuk diterapkan di akademi

Di akademi EDF, asupan yang dikonsumi anak asuhan mereka memang sangat diperhatikan. Namun hal sama tak bisa dijalankan karena pemain binaan akademi juga makan di rumah masing-masing.

“Akademi kami sangat memperhatikan menu yang dikonsumsi pemain binaan. Persoalannya di Indonesia, tidak bisa dijalankan sempurna. Anak-anak juga makan dan minum di rumah masing-masing,” kata Reyes.

Reyes menuturkan bila ini terkait dengan budaya di Indonesia. Orang memang biasa makan gorengan yang mudah ditemukan, apakah itu di jalan, mangkal atau bahkan di rumah sendiri.

“Apalagi ini terkait budaya, di Indonesia anak-anak itu suka makan gorengan, ya gorengan,” tuturnya.

Mantan bek yang pernah membela klub LDU Quito ini mengatakan bila pelatih di EDF selalu memberikan nasihat kepada anak asuhnya agar lebih memperhatikan asupan yang dikonsumsi. Termasuk di antaranya melarang pemain makan makanan berat sebelum pertandingan.

Reyes menuturkan bila dirinya telah mengamati perkembangan pemain-pemain muda Indonesia. Menurut dia menu latihan yang diberikan kepada pemain-pemain di akademi berasal dari LaLiga Spanyol. LaLiga memberikan menu latihan tersebut lantaran menilai, ada kemiripan antara pesepak bola Indonesia dan Spanyol dalam cara bermain.

“Semua program yang dijalankan dipantau dari LaLiga Spanyol. Mereka mengatur program untuk diterapkan di akademi,” kata Reyes melanjutkan.

Meski demikian dia mengakui ada sedikit kendala dalam melatih pemain-pemain Indonesia. Menurut dia program yang diberikan kurang bisa maksimal karena fasilitas sepak bola di Indonesia masih tertinggal jauh dari Spanyol.

Webinar itu sendiri menampilkan empat narasumber. Selain Reyes ada Rudy Eka Priyambada (CEO Safin Pati Football Academy), Guntur Cahyo Utomo (Direktur PSS Development) dan Mat Halil (pengelola SSB El Faza Surabaya).

Menurut Mat Halil selama mengelola SSB dia menghadapi keterbatasan. Namun hal itu bukan menjadi halangan besar untuk tetap berkonsentrasi di pembinaan sepak bola usia dini.

SSB El Faza rintisannya dibangun untuk memaksimalkan potensi yang tersebar di wilayah Surabaya dan sekitarnya. Bahkan ia sempat minder dengan tidak menyematkan nama akademi, dan memilih SSB sebagai wadah pembinaannya.

“Saya membangun SSB untuk mewadahi anak-anak yang punya potensi dan bakat tetapi kurang mampu. Di Surabaya, ada banyak lapangan tetapi rata-rata kurang bagus. Berbeda dengan akademi yang pasti lebih baik,” kata Mat Halil.

“Kami dihadapkan pada keterbatasan. Namun itu bukan menjadi halangan,” ucap legenda Persebaya Surabaya ini. *

Artikulli paraprakPS Sleman Sudah Amankan 8 Pemainnya
Artikulli tjetërPS Sleman Rekrut 8 Pemain Baru, Termasuk Irfan Jaya dan Kim Kurniawan