Logan Paul saat menghadapi Floyd Mayweather Jr (kanan) di Miami, Florida pada 6 Juni 2020. (Foto: olenas.id/istimewa)

OLENAS.ID – Floyd Mayweather Jr vs Logan Paul yang digelar di Miami, Florida pada 6 Juni 2021 bukanlah awal, apalagi akhir dari “sirkus tinju”. Bukan tak mungkin pertunjukan semacam itu bakal semakin laku di masa datang.

Kehadiran media alternatif, media sosial memang mengubah banyak perikehidupan manusia. Cara manusia berkomunikasi berubah, cara bersosialisasi berubah, hingga cara bekerja pun berubah. Paul yang menjadi lawan Mayweather adalah salah satu pelakunya.

Profesi Paul adalah youtuber. Akunnya dalam berbagai platform media sosial diikuti puluhan juta orang, laku keras. Isi unggahan Paul soal kehidupan sehari-hari dengan kemasan sedikit nyeleneh. Awal 2018 akunnya malah sempat ditutup akibat unggahan soal bunuh diri di Jepang. Paul lantas berusaha mencari konten berbeda untuk mendongkrak popularitas akunnya lagi.

Pertengahan 2018 dia mendapatkan ide untuk bertinju melawan youtuber terkenal asal Inggris, Olajide Olayenka Williams atau biasa dikenal sebagai KSI. Pertandingan dikemas secara amatir di Manchester, Inggris 25 Agustus 2018. Duel mereka disiarkan secara berbayar lewat kanal YouTube. Ternyata tinju amatiran itu laku keras.

Sampai sebulan setelah hari pertarungan, Paul vs KSI ditonton 115 juta orang yang kebanyakan adalah followers mereka. Saat hari pertandingan, sebanyak 25 ribu orang datang ke Manchester Arena untuk menonton pentas sirkus tinju amatir itu, dan membayar!

Promotor asal Inggris, Eddie Hearn melihat peluang. Lewat usaha kepromotoran miliknya, Matchroom Boxing, Hearn menawarkan duel ulang. Laga kedua Paul vs KSI digelar di Los Angeles pada 9 November 2019. Laga kedua itu dikemas sebagai tinju profesional, bukan eksebisi karena dicatat resmi dan di bawah pengawasan otoritas olahraga profesional California, California State Athletic Commission.

Duel itu juga laku keras, meskipun tidak dijual secara bayar per tayang lewat YouTube. Siaran langsungnya diadakan oleh DAZN, saluran televisi streaming asal Inggris. Penjualannya pada 2019 menempati peringkat ketiga tayangan tinju DAZN, di bawah Anthony Joshua vs Andy Ruiz II dan Canelo Alvarez vs Sergey Kovalev.

Kesuksesan itu membuat manajemen Paul ketagihan. Desember 2020 mereka merancang ide eksibisi melawan Mayweather dan disetujui. Mereka kesulitan mendapatkan izin karena ide menandingkan dua kemampuan tinju yang jauh berbeda akan sangat berbahaya. Ingat, tinju adalah olahraga paling rawan benturan kepala dan paling berbahaya nomor dua setelah balap mobil F1.

Mereka akhirnya mendapatkan tempat di Miami, namun dengan kemasan berbeda. Hanya eksibisi 4 ronde. Miami State Athletic Commissions tidak memberikan izin resmi pertandingan, sehingga Mayweather vs Paul digelar tanpa juri. Tidak ada kalah menang angka, kemungkinan KO pun kecil karena ini bukan tinju sungguhan. Dan hasilnya diketahui tanpa pemenang, setelah mereka ‘bermitra tanding’ selama 8 ronde.

Seusai acara, dalam jumpa pers Mayweather mengakui kalau dia tidak berlatih serius untuk menghadapi Paul. Dalam sepekan, dia paling berlatih selama dua hari.

Tetap Laku

Toh sirkus tinju Mayweather vs Paul tetap laku. Sayang angka-angka penjualan siaran tayangan itu belum dirilis. Hanya saja, konon Mayweather mendapatkan tidak kurang dari 30 juta USD sebagai bayaran ditambah persentase penjualan siaran, sementara Paul 250 ribu USD ditambah persentase penjualan siaran. Penonton yang datang ke Hard Rock Stadium di Miami juga mencapai 25 ribu orang, termasuk mantan juara dunia kelas berat Evander Holyfield ada di antaranya.

Sirkus tinju dan olahraga pertarungan lain bukanlah barang baru. Pada 26 Juni 1976 Muhammad Ali sudah menggelar sirkus tinju melawan pegulat asal Jepang, Antonio Inoki di Tokyo.

Larry Holmes juga sempat melakukan eksibisi tinju di Istora Senayan, Jakarta pada 18 Maret 1990, melawan Tim Whiterspoon. Tiket menonton sirkus tinju Holmes vs Whiterspoon di sisi ring, pada saat itu dijual 1000 USD dan laku.

Mantan juara dunia Chris John juga pernah melakukan eksibisi tinju menghadapi Gubernur NTT, Viktor Laiskodat. Namun aksi tersebut tidak dikemas secara profesional.

Gulat bebas profesional WWF juga layak dikategorikan sirkus olahraga. Pertarungan dalam ajang tersebut bukan sungguhan, meskipun para pegulat WWF berlatih keras untuk melakukan aksi-aksi akrobatik di atas ring yang didesain khusus. Toh pertarungan sandiwara tersebut laku keras di seluruh dunia. Bahkan sempat membuat orang tua di Indonesia khawatir, sebab anak-anak mereka ikut-ikutan melakukan aksi berbahaya bak pegulat WWF yang populer dengan sebutan smack down.

Mayweather pun sempat menjadi bintang tamu dalam ajang sirkus gulat WWF. Tyson juga pernah menjadi bintang tamu.

Saat ini dengan media sosial yang semakin ngehit, sirkus tinju adalah sebuah keniscayaan yang sulit dihindari. Youtuber top seperti Paul, KSI, maupun Jake Paul dengan mudah menjadi lebih populer dengan berlagak menjadi petinju, menghadapi petinju-petinju uzur yang sudah pensiun namun masih menyisakan nama besar.

Sebuah kenyataan yang menyakitkan bagi kebanyakan pelaku olahraga pertarungan profesional. Juara kelas berat UFC, Francis Ngannou misalnya sinis menyikapi perilaku para pelaku sirkus tinju. Menurut pandangan Ngannou, pelaku-pelaku sirkus tinju tidak membawa akibat positif bagi olahraga tinju selain meraih banyak uang dengan memanfaatkan tinju, namun mengandalkan popularitas di luar tinju.

Petinju kelas berat asal Swedia, Otto Wallin memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, petinju profesional justru harus membuka diri, lebih melek dengan apa yang disebut promosi. Petinju harus semaksimal mungkin memanfaatkan media sosial untuk membuat mereka lebih populer. Cara itu diharapkan mampu menyaingi para youtuber yang kini menguasai tinju pro, dengan kemampuan rendah namun dibayar tinggi.

Petinju Indonesia mantan juara PABA, David Koswara juga berpandangan positif terhadap tren sirkus tinju. Baginya tinju profesional memang untuk mencari uang, bukan mempertahankan idealisme. Jadi mau dimodifikasi dalam bentuk apapun, selama aktivitas tinju itu menghasilkan bukanlah hal tabu.

Di tengah pandemi ini, apapun bentuk tontonan termasuk tinju profesional memang surut. Penurunan pementasan tinju dan profesional di dunia mencapai lebih dari 60 persen, yang tentu berimbas pada pendapatan para petinju.

Menggelar sirkus tinju memang bukan solusi ideal untuk meningkatkan kualitas olahraga tinju. Namun setidaknya menjadi alternatif sumber pendapatan para petinju. Entah untuk sementara, atau selamanya. Pastinya Logan Paul berminat untuk menggelar duel kedua sirkus tinju melawan Floyd Mayweather Jr.

Kalau Anda tidak setuju atau anti sirkus tinju, jalan keluar terbaik adalah tidak menontonnya.*

Artikulli paraprakItalia Bukan Unggulan di Euro 2020
Artikulli tjetërTinju Tak Bisa Terlalu Lama Menunggu