Saul 'Canelo' Alvarez (kanan) melontarkan pukulan ke tubuh Billy Joe Saunders dalam pertarungan di AT&T Stadium, Arlington, Texas, AS pada 8 Mei 2021. (Foto: olenas.id/Ed Mulholland/Matchroom Boxing)

OLENAS.ID – Unifikasi gelar juara kelas menengah super WBA/WBC/WBO antara Saul ‘Canelo’ Alvarez kontra Billy Joe Saunders yang akan digelar di AT&T Stadium, Arlington, Texas, AS pada 8 Mei 2021 punya banyak sisi menarik. Lebih dari sekadar prediksi menang kalah, besarnya bayaran, maupun analisis teknik, pergelaran ini merupakan wujud pemberontakan.

Pemberontakan terhadap siapa? Tentu saja terhadap stagnansi akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan. Bayangkan, pemilihan Arlington sebagai lokasi laga yang menghadirkan penonton di arena bukannya tanpa risiko. Kasus Covid 19 di Texas masih bertambah dalam jumlah ribuan per hari, tapi itu tak menyurutkan rencana penyelenggara.

Pandemi nyaris membuat tinju pro di seantero dunia mati. Sebelum dunia didera pandemi, menurut data sepanjang 1 Maret-1 September 2019, ada 15.856 pertandingan tinju pro digelar di seluruh dunia. Di Amerika Serikat saja sepanjang kurun waktu itu, sebanyak 3.443 pertandingan digelar.

Kita harus berani memulai sekarang juga ketimbang menunggu lebih lama lagi, karena tidak pernah tahu kapan pandemi ini usai

Pasca pandemi melanda, terjadi kemerosotan yang luar biasa. Sepanjang 1 Maret-1 September 2020, di seluruh dunia hanya ada 5.150 pertandingan tinju di dunia. Merosot lebih dari 60 persen. Sementara di Amerika Serikat jumlah pertandingan tinju hanya tercatat 1.508 dalam periode yang sama.

Kondisi tontonan laga MMA sama saja. Kalau sepanjang 1 Maret-1 September 2019 ada 19,371 pertandingan di seluruh dunia, maka saat pandemi ada kemerosotan hingga 80 persen! Data menunjukkan hanya ada 3.764 laga MMA sepanjang 1 Maret-1 September 2020 di seluruh dunia.

“Kondisinya lebih parah ketimbang saat hari H Perang Dunia II tahun 1944. Ketika itu masih ada tiga pergelaran tinju di Kalifornia,” kata John Sheppard, pendiri situs data tinju BoxRec.

Tinju Tanpa Penonton, Rugi Besar

Jika promotor nekat menggelar pertandingan tanpa penonton, risiko rugi besar sudah menunggu. Menurut promotor Roy Englebrecht, penyelenggara bisa nombok hingga 20 ribu dolar AS atau lebih dari Rp285 miliar untuk memenuhi tetek-bengek prokes Covid-19, mulai tes hingga penyediaan fasilitas isolasi. Padahal pemasukan dari tiket nol.

Sementara jika promotor berharap pemasukan dari kontrak televisi juga tidak segampang membalik telapak tangan. Promotor yang tidak punya petinju papan atas, mustahil mengharapkan pemasukan besar dari televisi. Englebrecht adalah promotor yang mengangkat Deontay Wilder saat memulai karier tinju profesional.

Pastinya promotor harus cukup kaya untuk membayar segala kelebihan biaya. Di masa pandemi, jumlah partai dalam setiap pergelaran juga sangat dibatasi. Menurut promotor Lou DiBella, jika sebelum pandemi promotor bisa mementaskan hingga 15 partai dalam satu pergelaran, maka sekarang maksimum hanya tujuh. DiBella lebih memilih vakum dan menunggu ketimbang harus bangkrut.

“Tetapi kami petinju tak bisa menunggu terlalu lama sampai aman dan penonton datang lagi ke arena. Kita harus berani memulai sekarang juga ketimbang menunggu lebih lama lagi, karena tidak pernah tahu kapan pandemi ini usai,” ujar Callum Smith, mantan juara kelas menengah super WBA yang dikalahkan Canelo dalam pertarungan di San Antonio, Texas pada 19 Desember 2020.

Pertarungan Canelo vs Saunders yang dimenangi bintang tinju Meksiko itu lewat TKO ronde 8, dihadiri 70 ribu penonton di arena. Setelah itu tinju bakal marak lagi di AS. Terbaru adalah eksibisi Floyd Mayweather Jr vs Logan Paul di Hard Rock Stadium, Miami, Florida yang dihadiri 25 ribu orang.

Pementasan akbar yang segera menyusul adalah trilogi kelas berat Tyson Fury vs Deontay Wilder, yang akan digelar di T-Mobile Arena, Las Vegas pada 24 Juli 2021. Setelah itu menyusul duel kelas welter antara Manny Pacquiao vs Errol Spence Jr yang juga dijadwalkan di Las Vegas pada 21 Agustus. 

Risiko memang harus diambil, sebelum gemerlap tinju pro terlalu meredup.*

Artikulli paraprakKetika Sirkus Tinju Semakin Laku, Lalu?
Artikulli tjetërLawan Errol Spence Jr, Perhatian Manny Pacquiao Hanya Soal Usia