Pukulan kanan Manny Pacquiao mengenai muka Timothy Bradley saat mereka bertanding di Las Vegas pada 12 April 2014. (Foto: olenas.id/istimewa)

OLENAS.ID – Pecandu tinju pasti tahu jika Manny Pacquiao adalah petinju bergaya kidal, yang dalam istilah tinju disebut sebagai southpaw. Tetapi apakah dia benar-benar seorang kidal?

Tidak. Pacquiao melakukan aktivitas menulis, memegang sendok saat makan, dan sebagainya dengan tangan kanan. Kidal hanya dipakai petinju Filipina ini saat bertanding di atas ring, dan itu dilakukan dengan sengaja.

“Manny menularkan ilmu itu kepada saya. Tujuannya agar membingungkan lawan. Dan, teknik itu memang memberi hasil luar biasa,” kata Nonito Donaire, petinju top Filipina yang menjuarai empat kelas berbeda.

Saya melawan sesama kidal, dan tangan ini akan memegang kunci menuju kemenangan

Donaire yang saat ini juara kelas bantam WBC merupakan generasi di bawah Pacquiao. Dia dikenal dekat dengan sang legenda itu. Kebetulan lagi, keduanya sama-sama hobi menyanyi, dan Donaire mengakui banyak belajar dari sang mega bintang terutama soal bertinju dengan gaya kidal.

Banyak petinju bergaya kidal yang sebenarnya bertumpu pada tangan kanan untuk aktivitas sehari-hari. Sebut saja di antaranya, Marvin Hagler, Sergio Martinez, Naseem Hamed, dan Vasyli Lomachenko.

Tetapi sebaliknya ada juga orang kidal yang saat bertinju justru menjadi ortodoks, atau bertumpu pada tangan kanan. Mereka juga nama-nama terkenal, seperti Oscar De La Hoya, Miguel Cotto, dan Mike Tyson.

Pemilihan gaya yang bertolak belakang dengan kebiasaan alami seorang petinju diyakini bertujuan untuk menempatkan pukulan terkuat di depan. Sebab itu petinju-petinju seperti Pacquiao maupun Tyson memiliki pukulan jab yang kuat.

Soal pemilihan gaya kidal bagi pelaku olahraga tinju maupun MMA pernah diteliti oleh Thomas Richardson, seorang peneliti evolusi biologi dari Universitas Manchester, Inggris dan dipublikasikan dalam jurnal ilmiah BioRiv.

Richardson meneliti hampir 10 ribu petinju maupun petarung. Dia menemukan bukti bahwa mereka yang menerapkan gaya kidal menunjukkan persentase kemenangan lebih tinggi.

Variabel penelitian Richardson tidak asal-asalan. Dia juga memperhitungkan kualitas lawan, serta ukuran-ukuran lain untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Hasil penelitiannya menunjukkan kidal punya peluang menang lebih besar dibandingkan ortodoks. Angkanya menunjukkan sekitar 54 persen.

“Efeknya memang kecil, namun itu sangat penting menentukan kemenangan seorang petinju,” kata Richardson, yang sampel penelitiannya adalah petinju pria seperti dikutip CNN.

Petinju Kidal

Kembali ke soal Pacquiao yang saat ini tengah bersiap naik ring menghadapi Errol Spence Jr. Laga mereka dijadwalkan di Las Vegas pada 21 Agustus 2021, dan kemungkinan digelar di MGM Grand Arena.

Pacquiao akan melawan sesama petinju kidal. Yang membedakannya, Spence adalah kidal sejati, bukan ortodoks yang bergaya kidal. Pacquiao juga sudah lama tak menghadapi lawan kidal. Petinju kidal terakhir yang dihadapinya adalah David Diaz pada 28 Juni 2008. Dia menang TKO ronde 9.

Pacquiao selalu berkata bahwa meskipun bergaya kidal, namun pukulan andalannya adalah yang meluncur dari tangan kanan. Senjata itulah yang dia yakini bakal membingungkan Spence dalam laga mereka nanti.

“Saya melawan sesama kidal, dan tangan ini akan memegang kunci menuju kemenangan,” kata Pacquiao sembari mengangkat tangan kanannya, seperti diceritakan Nick Giongco, kolega wartawan Filipina yang sangat dekat dengan Pacquiao.

Pukulan kanan Pacquiao selama ini telah terbukti ampuh menjatuhkan lawan. Miguel Cotto, Ricky Hatton, Lucas Matthysse, dan Keith Thurman adalah empat dari banyak lawan yang sudah merasakan sengatan pukulan kanan Pacquiao.

Pelatih Freddie Roach adalah orang yang memoles Pacquiao untuk lebih mengaktifkan pukulan kanan sang petinju, dan mempertahankan gaya kidalnya. Roach tidak pernah berusaha mengubah Pacquiao menjadi ortodoks.

Bagaimana dengan Spence? Dia mengaku sudah menunjukkan kesiapannya dan yakin bakal membuat Pacquiao pensiun.

“Saya sudah memasuki masa latihan. Bersiap yang terbaik yang saya bisa, untuk mencapai kondisi terbaik serta terkuat yang saya bisa lakukan. Semua demi meng-KO Pacquiao dan membuatnya pensiun,” kata Spence sesumbar.

Namun seperti biasa,  Pacquiao (42 tahun) tenang saja menanggapi sesumbar calon lawannya yang 11 tahun lebih muda itu. “Saya sudah mempelajarinya. Saya tahu apa yang harus dilakukan,” kata Pacquiao lagi soal Spence Jr.*

Artikulli paraprakInpres No. 3 2019, Kompetisi Berjenjang Jadi Target
Artikulli tjetërEks Pemain Asing Berulah, PSS Sleman Tuntut Klarifikasi dan Permintaan Maaf