Petinju Tyson Fury (kiri) dan Deontay Wilder dalam jumpa media di Los Angeles pada 15 Juni 2021 menjelang trilogi mereka yang dijadwalkan di Las Vegas, 24 Juli 2021. (Olenas.id/istimewa)

OLENAS.ID – Petinju Tyson Fury akan menghadapi Deontay Wilder untuk kali ketiga. Mereka dijadwalkan bertarung memperebutkan gelar kelas berat WBC di T-Mobile Arena, Las Vegas, 24 Juli 2021.  

Mereka sudah secara resmi dipertemukan dalam jumpa media di Los Angeles, Kalifornia, Selasa (15/5/2021) lalu. Jumpa media itu dirasakan ganjil, karena hanya Fury yang bicara sementara pernyataan Wilder lebih banyak diwakili oleh pelatih barunya, Malik Scott.

Keberadaan Scott sebagai pelatih baru Wilder sangat menarik. Dia menggantikan posisi Mark Breland, pelatih lama Wilder yang jauh lebih berpengalaman dibandingkan Scott.

Urusan saya dengan Deontay sudah selesai, demikian juga dengan kariernya yang saya anggap juga sudah habis

Breland adalah peraih emas Kejuaraan Dunia Amatir di Munich 1982 dan Olimpiade Los Angeles 1984, keduanya di kelas welter. Dia diakui sebagai petinju amatir terbaik Amerika yang pernah ada, dengan rekor 110-1. Breland kemudian terjun ke tinju pro dan sukses menjadi juara dunia kelas welter versi WBA pada 1989-1990. Pensiun dari ring tahun 1997, Breland menjadi pelatih.

Di dunia kepelatihan, reputasi Breland tak kalah cemerlang. Dia pernah menangani mantan juara dunia kelas welter WBC yang kini sudah almarhum, Vernon Forrest. Di luar urusan tinju pro, Breland juga melatih para pemeran film bertema laga atau tinju.

Deontay Wilder dan Mark Breland, pelatih yang membawanya menjadi juara dunia kelas berat. (Foto: Olenas.id/Sky Sports)

Wilder ditanganinya sejak 2008. Brelan melengkapi pelatih Wilder sejak amatir yang sama-sama berasal dari Tuscaloosa, Alabama, Jay Deas. Hanya, Breland kemudian dipecat setelah Wilder dikalahkan Fury pada Februari 2020. Sebaliknya, Deas tetap dipertahankan.

Perpisahan Wilder dibumbui cerita tidak sedap. Wilder menyebut Breland pelatih yang tidak loyal, sengaja membiarkan kubu Fury melakukan sejumlah kecurangan, dan meracuni air minumnya sehingga lemas saat bertanding yang kedua melawan Fury.

Breland marah, dan membalas penyataan mantan petinjunya itu dengan tak kalah sengit.

“Deontay sebenarnya tidak pernah menempatkan latihan sebagai prioritas. Dia mulai susah dilatih dan mengabaikan segala masukan saya. Kalau dia bilang Fury curang saat memakai sarung tinju, itu ngawur. Deas ada di sisi Fury saat mengawasi pemasangan sarung tinju. Jadi bagaimana bisa Deontay bilang dicurangi?” kata Breland di berbagai media usai dipecat Wilder, akhir 2020.

“Urusan saya dengan Deontay sudah selesai, demikian juga dengan kariernya yang saya anggap juga sudah habis,” kata Breland lagi.

Sandiwara Scott

Pemilihan Scott sebagai pengganti Breland mengejutkan banyak orang. Selain belum berpengalaman, Scott juga dikenang akibat kekalahan KO ronde pertama dari Wilder di Bayamon, Puerto Riko pada 15 Maret 2014.

Kekalahan KO itu disebut-sebut sebagai sandiwara. Scott dituduh pura-pura roboh setelah terkena dua pukulan Wilder.

Dalam rekaman tampak bahwa hook kiri Wilder tertangkis tangan kanan Scott sehingga tidak telak mengena, disusul straight kanan yang juga mengenai double cover. Toh Scott tetap roboh dan tidak bangun lagi.

Awalnya penonton di arena pertandingan dibuat kagum, bersorak sorai melihat kekuatan pukulan Wilder. Namun pujian sontak berubah jadi cemoohan setelah adegan Scott roboh KO ditayangkan ulang di layar lebar.

“Terlalu gamblang kalau Scott berpura-pura jatuh. Itu yang membuat opini publik kalau dia sengaja mengalah susah dibantah,” tulis Dan Rafael, kolumnis tinju dari ESPN.

Sehari usai duel yang dianggap sandiwara itu, beredar meme di media sosial yang menggambarkan Scott adalah anggota tim renang dan loncat indah Amerika. Dia diilustrasikan bercakap dengan salah satu perenang legendaris Amerika, Michael Phelps.

“Bagaimana dive-ku Bro?” tanya Scott dalam ilustrasi itu. “Dive-mu aku nilai 8, tapi aktingmu nilainya 10,” begitu jawaban Phelps.

Deontay Wilder (paling kiri) saat menjadi mitra latih Tomasz Adamek bersama pelatih Roger Bloodworth dan Malik Scott (kanan). (Foto: Olenas.id/Super Express/Adamek Team)

Bagaimanapun, Wilder percaya kepada Scott. Alasannya hanya karena Scott adalah teman lama. Wilder bahkan menyebut Scott jenius.

“Malik jenius dalam pemikiran, dia tahu harus berbuat apa. Dia hanya tidak punya kemampuan fisik untuk menyatakan ide-idenya. Saya adalah atlet yang bakal mewujudkan ide-idenya nanti,” kata Wilder seperti dikutip Sky Sports.

Wilder dan Scott berteman dekat setidaknya 10 tahun terakhir, saat mereka sama-sama menjadi mitra latih petinju kelas berat asal Polandia, Tomasz Adamek. Saat itu Adamek tengah bersiap menghadapi laga perebutan gelar kelas berat WBC melawan Vitali Klitschko di Wroclaw, Polandia pada 10 September 2011.

Keberadaan Scott di dalam tim Wilder dianggap Fury tak akan membawa perubahan apa pun. Fury menyebut Scott sekadar asisten, bukan pelatih. Scott akan mengiyakan semua kemauan Wilder, bukannya memberikan arahan. Begitulah anggapan Fury.

Fury Tanpa Konflik

Situasi berbeda dijumpai dalam kubu Fury, ketika dia mengalihkan kepelatihan dari Ben Davison kepada Javan ‘Sugar Hill’ Steward.

Davison menangani Fury saat dia kembali ke ring pada 2018. Davison tidak pernah menjadi petinju pro, namun justru pesepakbola profesional yang bermain untuk klub Stevenage Borough di League Two, divisi terendah Liga Inggris.

Tyson Fury bersama pelatih Ben Davison menjelang laga melawan Tom Schwarz pada 11 Juni 2019). (Foto: Olenas.id/istimewa)

Petinju pro pertama yang ditangani Davison adalah Billy Joe Saunders, yang juga teman lamanya. Davison dikenal punya metode hebat untuk mengembalikan kebugaran atlet.

Fury yang vakum sejak mengalahkan Wladimir Klitschko pada 2015, memerlukan Davison untuk mengembalikan kebugarannya. Davison berhasil, sampai akhirnya mencapai duel pertama melawan Wilder di Los Angeles pada 1 Desember 2018.

Fury berhasil memaksakan hasil seri, meskipun dia dua kali mengalami knock down. Hasil seri itu tak membuat petinju Inggris itu puas. Dari evaluasi yang dilakukan, mereka berkesimpulan bahwa Davison berhasil mengembalikan kebugaran Fury namun gagal menambah kekuatan pukulan.

Atas saran Andy Lee, mantan juara dunia kelas menengah WBO yang masih sepupu Fury, dipanggilah Steward untuk menggantikan Davison.

Tyson Fury dan Javan “Sugar Hill” Steward usai mengalahkan Deontay Wilder dalam duel kedua di Las Vegas, 22 Februari 2020. (Foto: Olenas.idThe Sun)

Steward adalah keponakan pelatih legendaris yang sudah almarhum, Emanuel Steward. Sugar Hill Steward pernah menangani Lee, Wladimir Klitschko, Adonis Stevenson, dan banyak lagi petinju yang bernaung di Sasana Kronk Boxing, Detroit.

Hasil kerja Steward langsung kelihatan, yaitu kemenangan Fury TKO ronde 7 atas Wilder dalam duel ulang di Las Vegas pada 22 Februari 2020.

“Tugas utama saya sebagai pelatih Tyson saat itu adalah membenahi mentalnya. Tetapi pada akhirnya kerja sama profesional memang harus berakhir, dan kami sadar ini untuk kepentingan masa depan karier masing-masing,” kata Davison yang kini melatih Josh Taylor, juara dunia sejati kelas welter junior.

Perpisahan Fury dan Davison yang dilakukan tanpa tendensi negatif dan didasari optimisme, terbukti berbuah gemilang. Berbeda dengan Wilder yang pisah dengan Breland karena kecurigaan dan putus asa.

Apakah penggantian Breland dengan Scott juga akan berbuah baik untuk Wilder dalam trilogi kontra Fury?*

Artikulli paraprakEks Pemain Asing Berulah, PSS Sleman Tuntut Klarifikasi dan Permintaan Maaf
Artikulli tjetërAkhiri Dualisme, Arema FC Ingin Beli Arema Indonesia