Petinju Deontay Wilder terkena jab Tyson Fury dalam laga di Las Vegas, 22 Februari 2020. (Foto: Olenas.id/CBS Sports)

OLENAS.ID – Sikap diam petinju Deontay Wilder dalam konferensi pers trilogi kontra Tyson Fury di Los Angeles, pekan lalu, menjadi pemandangan ganjil. Acara tersebut digelar sebagai ajang promosi duel Fury vs Wilder III yang dijadwalkan di Las Vegas pada 24 Juli 2021.

Sesuai kelaziman dalam promosi duel tinju profesional, acara itu seharusnya dipenuhi sesumbar antara petinju yang akan bertanding. Apalagi Fury vs Wilder III adalah pertarungan level teratas dunia, perebutan gelar juara kelas berat WBC. Sudah kewajiban bagi keduanya untuk mempromosikan secara maksimal.

Tetapi Wilder menunjukkan sikap yang kontradiktif. Dia sama sekali tidak melontarkan sesumbar. Bahkan diam saja tanpa bicara saat dia dan Fury dihadapkan di atas panggung. Wilder diam dengan tetap mengenakan headphone dan kaca mata hitamnya.

Wilder harus mengubah pikiran ingin membalas kekalahan KO dengan kemenangan KO pula

Ada apa dengan Wilder? Selama ini dia dikenal sebagai petinju yang banyak sesumbar. Seperti julukannya Bronze Bomber, Wilder tak hanya meledak di atas ring namun juga di setiap panggung acara. Boom Squuuaaaaaad!…Begitulah dua kata yang selalu lantang Wilder teriakkan saat mempromosikan kedahsyatan kepalan tinjunya.

Wilder sering memancing lawan potensialnya untuk ribut, sehingga menjadi cerita menarik di media. Ingat ketika Wilder ribut dengan Dominic Breazeale di sebuah hotel, saling memaki dengan Shannon Briggs, sesumbar kalau mampu meng-KO Mike Tyson di masa jaya, dan banyak lagi sesumbar lainnya.

Bujukan dan pancingan dari pembawa acara Top Rank Promotions, Crystina Poncher tetap membuat Wilder bergeming. Sudah diminta untuk omong, mulut Wilder masih saja terkatup.

Harus Tahan Nafsu

Buddy McGirt, pelatih tinju yang pernah mendampingi Derrick Gainer dalam duel melawan Chris John di Jakarta pada 22 April 2005, mengatakan adalah penting bagi Wilder untuk menguasai hawa nafsu. Nafsu untuk balas dendam harus disingkirkan jauh-jauh.

“Wilder akan mendapatkan masalah jika fokus pada keinginan membalas dendam. Dendam yang terlalu besar justru menjadi bumerang, karena akan menghancurkan mental dan energi positif yang dimiliki,” kata McGirt.

“Wilder harus mengubah pikiran ingin membalas kekalahan KO dengan kemenangan KO pula,” imbuhnya.

Wilder dan Fury bertarung seri dalam duel pertama di Los Angeles pada 1 Desember 2018. Dalam rematch di Las Vegas pada 22 Februari 2020, Wilder kalah TKO.

Dalam pernyataan usai kedua laga yang berbeda hasil tersebut, tak satu pun pujian yang dilontarkan Wilder terhadap Fury. Wilder lebih sibuk menyalahkan pihak lain, yang dianggap punya andil merugikan dirinya.

Usai laga pertama, Wilder mengatakan bahwa dia dirugikan penilaian hakim. Begitu pun setelah laga kedua, Wilder menuding tiga penyebab kekalahannya: kostum yang terlalu berat, Fury yang melakukan kecurangan dalam pemakaian sarung tangan, dan pelatih Mark Breland yang disebutnya tidak loyal.

Tak sekalipun Wilder bilang bahwa lawannya bertarung lebih baik, dan dia kurang bagus. Wilder seakan tidak mau mengoreksi kekurangan dalam dirinya. Sedikitlah merendah sebagai pihak yang kalah.

Fury Sangat Percaya Diri

Di sisi lain, Fury sangat percaya diri. Dia begitu santai menghadapi perjumpaan pertamanya dengan Wilder sejak kemenangan tahun lalu.

Sejak berangkat dari kamp latihannya di Las Vegas dengan pesawat carteran, Fury yang didampingi Shane, adiknya, pelatih Sugar Hill Steward, dan beberapa orang lain banyak tertawa. Begitu mendarat di Los Angeles, mereka berfoto-foto. Fury lantas mengajak timnya ngopi di bandara sambil menunggu jadwal berangkat ke acara konferensi pers.

Dalam sebuah obrolan dengan mantan bintang UFC asal Inggris, Michael Bisping, Fury mengibaratkan situasi yang dialami Wilder persis dengan mantan juara dunia sejati kelas welter asal Amerika, Donald “Cobra” Curry.

Curry tak terkalahkan dalam 25 laga awal dengan 20 kemenangan KO, saat masa jayanya di awal 1980-an. Namun dalam laga ke-26 Curry kalah TKO dari petinju Inggris yang tidak diunggulkan, Lloyd Honeygan dan kehilangan gelar. Setelah itu Curry penampilan melemah, dan menjadi mudah dikalahkan.

“Ini menggambarkan mental Deontay yang jatuh setelah kekalahan yang dia alami. Kekalahan itu sangat menghancurkan mentalnya,” kata Fury menanggapi sikap diam Wilder dalam konferensi pers.

“Saya sebenarnya ingin menghiburnya, mengangkat mental Wilder. Tetapi dia lebih memilih sibuk dengan headphone-nya. Yang pasti saya sudah melakukan tugas saya di sini, mempromosikan pertarungan dan berbicara kepada media,” ujar Fury lagi.

Wilder mendapatkan kesempatan trilogi melawan Fury setelah memenangi gugatan di pengadilan soal hak dia menuntut duel ulang jika kalah. Klausul menuntut pertarungan ulang dengan segera bagi pihak yang kalah memang ada dalam kontrak laga Fury vs Wilder II.

Dalam kontrak itu disebutkan, pihak yang kalah diberi waktu 30 hari setelah tanggal pertarungan untuk menentukan tanggal rematch. Wilder melakukannya dan sudah menentukan tanggal 18 Juli 2020.

Namun rencana duel ulang itu dianggap gugur oleh pihak Fury karena tak kunjung digelar hingga tanggal yang ditentukan. Bob Arum sebagai promotor Fury pada Oktober 2020 mengumumkan bahwa rencana trilogi Fury vs Wilder batal karena tak kunjung ada kepastian.

“Kontrak menyebutkan hak tanding ulang Wilder sudah habis pada Oktober, dan saya yakin dalam kontrak ditunjukkan dengan jelas bahwa dia tidak bisa menuntut klaim untuk laga ketiga,” kata Arum dalam wawancara dengan Marc Gatford dari Betway Insider.

“Wilder menjalani operasi karena alasan cedera, tetapi itu bukan alasan karena dalam kontrak disebutkan ada tambahan 90 hari jika memang kondisi seperti itu dialami,” ujar promotor gaek itu.

Kubu Wilder tak kunjung menggelar rencana duel ulang karena alasan pandemi. Mungkin ada pasal force majeur dalam kontrak sehingga gugatan Wilder dimenangkan pengadilan. Pengadilan memenangkan gugatan Wilder dengan alasan bahwa klausul pertarungan ketiga dalam kontrak duel kedua adalah mengikat. Wilder langsung tancap gas, dan dia minta rencana duel unifikasi Fury vs Anthony Joshua yang dijadwalkan Agustus 2021 dibatalkan.

Wilder menolak tawaran uang pengganti yang konon sebesar 20 juta USD, yang diberikan agar dia memberikan kesempatan lebih dahulu kepada Fury vs Joshua. Trilogi melawan Fury tetap bisa digelar, namun tidak segera.

Wilder sudah tidak sabar. Dia bernafsu membalas kekalahan untuk membuktikan kalau masih layak juara.

Atau mungkin sebenarnya Wilder tahu kalau kariernya sudah habis, dan ingin menggaet bayaran besar terakhir sebagai bekal pensiun dengan cara terhormat?*

Artikulli paraprakJerman Vs Hungaria, Kondisi Thomas Mueller Masih Tanda Tanya
Artikulli tjetërPengalaman Piala Menpora Hindarkan Liga 1 dari Covid-19