Petinju Gervonta Davis (kiri) dan Mario Barrios saat mempromosikan duel mereka yang dijadwalkan di Atlanta, 26 Juni 2021. (Foto: Olenas.id/Amanda Wescott/SHOWTIME)

OLENAS.ID – Gervonta Davis adalah kisah klasik cerita sukses petinju profesional di berbagai sudut dunia. Berasal dari keluarga papa, lantas sukses berkarier di ring tinju bayaran. Mampukah dia meladeni Mario Barrios dalam duel perebutan gelar kelas ringan super, Minggu (27/6/2021) pagi WIB?

Davis akan kembali naik ring akhir pekan ini. Dirinya menantang Barrios yang merupakan satu bagian episode hidupnya yang kelak menjadi cerita. Ya, Davis vs Barrios merupakan duel perebutan gelat kelas ringan super (63,5 kg) WBA yang digelar di State Farm Arena, Atlanta, Amerika Serikat, Sabtu (26/6/2021) atau Minggu pagi WIB. Barrios sendiri berstatus juara bertahan.

Duel ini memang termasuk menarik karena Davis berlaga di kelas baru. Sudah jamak memang petinju berpindah-pindah kelas. Namun jarang seperti yang dilakukan Davis, melompat dua kelas dalam waktu singkat, dari bulu super (58,9 kg) ke ringan super.

Davis hanya dua kali melakoni duel di kelas ringan (61,2 kg). Mungkin hanya Henry Armstrong (petinju Amerika tahun 1930-an) yang pernah melakukannya, melompat langsung dari kelas bulu (57 kg) ke welter (66 kg) dan sukses menjadi juara.

Kisah perjalanan hidup Davis memang pahit. Mungkinkah ini yang menjadikan dia sebagai sosok petinju yang tergesa-gesa, tidak sabaran, emosional. Saat kecil, Davis sudah tak diurus orang tua sehingga diasuh neneknya. Lantaran terlalu bengal dan sering berkelahi di jalanan, sang paman lantas membawa Davis latihan tinju.

Davis dititipkan ke pelatih tinju Calvin Ford, mantan narapidana yang pernah dibui selama 10 tahun karena kasus narkoba. Lepas dari bui, Ford yang mengenal tinju saat dalam tahanan mendirikan Upton Boxing Club untuk mengatasi kenakalan remaja di sekitar Baltimore. Di situlah Davis bergabung hingga kini.

Davis sering datang terlalu cepat sebelum tempat latihan dibuka pukul 16.00 karena dia selalu tergesa-gesa sepulang sekolah. Begitu cerita yang dikisahkan Ford tentang Davis kecil.

Dasar berbakat, Davis menjadi salah satu petinju yang diandalkan Ford dari belasan yang dia latih di Upton Boxing Club. Satu petinju lain yang jadi andalan Ford adalah Malik Hawkins. Bakat Davis tercium Floyd Mayweather Jr, yang kemudian menjadi promotornya.

Davis menjadi anak emas Mayweather Promotions. Kariernya melesat cepat, berhasil menjadi juara dunia kelas bulu dan ringan. Namun di sisi lain, mental Davis masih tidak stabil. Sebagai juara dunia di dua kelas berbeda, Davis terlalu sering menunjukkan perangai tak terpuji.

Kehebatannya dalam bertinju sering dia praktekkan di luar ring. Davis masih suka berkelahi di jalanan, ribut di tempat umum. Dia juga pernah punya kasus kekerasan terhadap mantan pacarnya yang sudah memberikan satu anak. Terakhir, Davis terlibat kasus tabrak lari dengan korban luka empat orang pada November 2020. Kasus ini belum divonis, namun jika Davis terbukti bersalah atas 14 tuntutan pelanggaran maka dia terancam hukuman 7 tahun penjara.

Ingat juga, gelar juara kelas bulu super WBA milik Davis pernah dicoret setelah dia gagal masuk timbangan saat menghadapi juara IBF, Francisco Fonseca pada 26 Agustus 2017. Padahal saat itu seharusnya Davis bisa menjadi juara WBA dan IBF karena dia menang KO atas Fonseca, namun itu tak terjadi karena Davis overweight. Apakah karena terdesak banyak masalah hukum, lantas Davis jadi tergesa-gesa menjalani kariernya saat ini?

Barrios Lebih Kalem

Di sudut lain, Barrios menunjukkan kepribadian yang bertolak belakang. Petinju muda keturunan Meksiko dari San Antonio, Texas ini tampak sangat kalem.

Dalam urusan kasih sayang keluarga, Barrios lebih beruntung dibandingkan Davis. Barrios diurus orang tuanya hingga lepas masa remaja. Bahkan sang ibu sendiri, Isabel Soto, yang membawanya berlatih tinju untuk kali pertama.

Lingkungan tempat tinggalnya di San Antonio juga tidak cuek. Barrios mendapatkan gelar warga kehormatan kota itu setelah memenangi gelar juara dunia kelas ringan super WBA dengan mengalahkan Batyr Akhmedov di Los Angeles pada 28 September 2019.

“Saya pernah ingin menjadi petinju setelah menonton pertandingan Roberto Duran, Sugar Ray Leonard, dan Christy Martin bersama ayah. Namun lingkungan saya tinggal di Wisconsin saat itu tidak mendukung menjadi petinju,” kata Isabel.

“Tetapi setelah kami pindah ke San Antonio dan Mario lahir, saya melihat tinju begitu disukai di sana. Jadilah saya dengan persetujuan suami memasukkan Mario ke sasana,” ujar Isabel lagi, seperti ditulis kolumnis tinju Michael Rosenthal.

Davis Diunggulkan

Di luar segala masalah yang menghantui, Davis masih diunggulkan atas Barrios dalam pertarungan akhir pekan ini. Ketenaran, kontroversi, serta sosok Mayweather yang berada di belakangnya, membuat Davis lebih dilirik ketimbang Barrios. Apalagi teknik bertinjunya memang oke punya.

Sama-sama berusia 26 tahun dan berada di performa terbaik sebagai atlet, Davis dianggap punya keunggulan teknik dan talenta dibandingkan Barrios. Kekurangan Davis ada pada postur yang lebih kecil dibandingkan Barrios. Selain itu Barrios jauh lebih mapan di kelas ringan super.

Keduanya juga petinju tak terkalahkan. Rekor Davis mengerikan dengan 24-0-0 (23 KO), sementara Barrios mengusung 26-0-0 (17 KO). Bisa jadi duel mereka nanti akan berakhir KO, mengingat keduanya punya senjata pamungkas di kepalan mereka.

Pertanyaan yang muncul sekarang bukan soal siapa pemenang Davis vs Barios, atau laga akan berakhir KO atau angka?

Seandainya Barrios yang menang, maka persaingan di kelas welter yunior akan berlangsung tanpa banyak gejolak. Namun jika Davis yang menang, maka akan muncul pertanyaan: apakah kebintangannya bakal lama bersinar? Mengingat Davis punya segepok masalah yang berpotensi merusak masa depan kariernya.

Kalau tak segera membenahi tingkah lakunya, sinar Gervonta Davis bakal segera redup secepat kemunculannya sebagai bintang.*

Artikulli paraprakTidak Cukup Punya Nama Besar dan Hanya Puas Sudah Masuk PSS
Artikulli tjetërTaklukkan PS Sleman, Pelatih AHHA PS Pati Soroti Kekurangan Skuat