Marco Antonio Barrera vs Erik Morales, pertarungan klasik yang berakhir dengan kemenangan angka namun dengan keseruan luar biasa. (Foto: Olenas.id/Istimewa)

OLENAS.ID – Bagian dari menikmati olahraga adalah memahami aturannya. Tinju, meskipun tampak primitif dengan mempertontonkan dua orang yang baku pukul, mencoba untuk menjatuhkan satu sama lain, ada banyak nuansa halus pada keseluruhan teknik dan strategi yang dimainkan.

Tidak setiap pertandingan tinju berakhir dengan KO yang spektakuler. Banyak pertandingan dengan hasil akhir di tangan hakim. Pernahkah Anda bertanya-tanya bagaimana mereka menghasilkan skor di akhir pertandingan untuk menentukan pemenang? Dalam tinju profesional, ada tiga hakim yang duduk di pinggir ring untuk menentukan dengan tepat pemenang kontes.

Hakim bertugas untuk menentukan pemenang dari setiap ronde. Pemenang setiap ronde mendapat 10 poin sementara yang kalah mendapat 9.

Dalam kasus knockdown, keuntungan satu poin diberikan kepada petinju yang mencetak knockdown, dengan poin dikurangi dari lawannya untuk setiap jumlah knockdown yang dihitung dalam ronde itu. Jika satu petinju benar-benar dominan dalam satu ronde, hakim juga dapat memilih untuk memberi petinju itu poin ekstra dan memberi skor 10-8 pada ronde tersebut. Dalam kasus ketika ronde terlalu ketat, hakim juga memiliki opsi untuk memberi skor seri 10-10 pada ronde tersebut.

Jika dianggap perlu oleh wasit, ia dapat mengambil satu atau dua poin untuk pelanggaran yang disengaja. Dia bisa melakukan hal yang sama untuk pelanggaran yang tidak disengaja, tetapi itu biasanya terjadi setelah petinju mendapat peringatan. Di akhir pertarungan skor dihitung, dan petinju dengan poin terbanyak menang.

Bagaimana hakim menentukan pemenang di setiap ronde? Dengan latihan bertahun-tahun dan pengalaman menangani pertarungan, para hakim tinju telah mengembangkan mata yang tajam untuk detail dan dapat dengan benar membedakan seluk-beluk sebuah pertarungan.

Untuk membantu agar lebih memahami bagaimana ronde dinilai dalam tinju, berikut adalah beberapa hal yang diperhatikan hakim saat memutuskan pemenang

1. Efektivitas Serangan

Seorang petinju tidak bisa begitu saja menyerang secara asal-asalan, mencoba untuk mendaratkan pukulan dengan cara apa pun yang dia bisa. Meskipun ini adalah serangan dan hakim biasanya condong ke arah penyerang dalam pertarungan, ini bukanlah serangan yang efektif. Serangan yang efektif dibangun lewat rencana permainan yang solid dan keterampilan teknis. Ada metode tertentu agar sebuah serangan membuahkan hasil.

Dengan penggunaan tipuan, kombinasi, dan gerak kaki yang cerdas, serangan yang efektif adalah keindahan untuk dilihat ketika dieksekusi dengan benar. Petinju fighter yang tahu cara memotong ring dan menjebak lawan mereka ke tali atau di sudut, biasanya diberikan nilai lebih.

Petinju agresif yang hanya mengikuti lawan mereka di atas ring, sering kali tidak mampu melakukan serangan yang signifikan. Ini menjadi lebih jelas jika melawan petinju dengan teknik pertahanan hebat, yang tahu cara memasang jebakan. Hakim selalu mencari petinju yang tahu cara menyerang secara efektif, serta mengatasi segala pukulan yang dilontarkan lawan.

2. Penguasaan Ring

Penguasaan ring adalah seni menggunakan gerak kaki untuk memanfaatkan seluruh area ring. Ini termasuk mengetahui cara memotong ring untuk menjebak lawan, mendesak ke tali atau di sudut, serta mengetahui cara keluar dari posisi terdesak.

Ini mencakup penguasaan petinju atas ring, dan kemampuannya untuk melakukan manuver terhadap lawan dengan melakukan pivot seperti pemain basket, pemosisian kaki yang superior, dan gerakan tubuh bagian atas yang hebat. Seorang petinju dengan penguasaan ring yang hebat selalu tampak memegang kendali penuh atas posisinya, dan menguasai pertarungan dengan baik.

Penguasaan ring juga berjalan seiring dengan agresi yang efektif. Seorang petinju tidak hanya harus menunjukkan gerakan kaki yang baik, ia juga harus menggabungkan ini dengan agresi yang efektif. Seorang petinju dengan penguasaan ring yang hebat dan serangan yang efektif, biasanya merupakan pemenang dalam setiap ronde.

3. Pukulan Telak dan Bersih

Tinju memiliki beberapa zona penilaian, terutama di kepala dan tubuh. Namun pukulan yang diblokir atau ditangkis, termasuk yang mendarat di siku, lengan bawah, dan sarung tangan tidak dihitung sebagai raihan nilai seorang petinju. Dalam tinju, prioritas penilaian diberikan pada pukulan telak dan bersih ke sasaran di kepala serta badan.

Ada kasus ketika seorang petinju mendaratkan pukulan bersih yang lebih banyak daripada lawannya, namun tidak menimbulkan efek berat. Sedangkan lawannya mendaratkan pukulan bersih yang lebih sedikit, tetapi menimbulkan efek lebih berat. Dalam kasus seperti ini hakim punya kebijaksanaan untuk menentukan serangan mana yang lebih efektif.

Petinju yang mampu secara konsisten mendaratkan pukulan yang bersih, telak, dan merusak akan muncul sebagai pemenang dalam setiap ronde. Jika kedua petinju mampu mendaratkan pukulan yang bersih dan keras, maka ronde tersebut biasanya jatuh ke tangan petinju yang memiliki pukulan terbaik di ronde tersebut, meskipun ini juga tergantung pada hakim yang menilai di kartu skor.

4. Pertahanan dan Strategi

Tinju tidak melulu soal serangan. Bagaimanapun, tinju adalah tentang memukul dan tidak terpukul. Tinju yang punya sebutan keren The Sweet Science juga memiliki komponen defensif, dengan hakim memperhatikan keterampilan dan strategi defensif keseluruhan petinju.

Beberapa petinju lebih suka melawan serangan dengan cara agresif, pukul balas pukul. Cara ini cenderung merugikan petinju yang lebih lamban. Dalam kasus ini, petinju defensif dinilai berdasarkan kemampuannya untuk mengelak dan menghindari pukulan, ditambah dengan kemampuan untuk membalas serangan secara efektif.

Karena tinju masih tentang bagaimana pukulan bersih mendarat, petinju defensif tidak dapat memenangkan ronde berdasarkan pertahanan saja. Inilah sebabnya mengapa mereka dinilai berdasarkan seberapa efektif keterampilan melawan, serta kemampuan ring seorang petinju.

Seorang petinju yang menunjukkan strategi pertarungan yang baik di setiap ronde, juga diberikan nilai lebih. Kematangan strategi berperan besar untuk memenangi setiap ronde. Hakim sering kali lebih suka serangan  daripada pertahanan, namun pertahanan tetap tidak boleh diabaikan.

Di akhir setiap pertarungan, skor dihitung. Siapa pun yang meraih nilai terbanyak setelah pertandingan dinyatakan sebagai pemenang. Pertarungan tinju profesional berkisar dari 4 hingga 12 ronde, dengan pertarungan kejuaraan biasanya terdiri dari 12 ronde penuh.

Jika dua hakim menyepakati pemenang yang sama dan satu hakim memenangkan lawannya, hasilnya disebut Split Decision atau menang tipis. Jika dua hakim memberikan hasil imbang dengan hanya satu hakim yang memilih pemenang, pertandingan berakhir dengan Majority Draw. Jika dua hakim memenangkan petinju yang sama, sedangkan satu hakim menilai imbang, itu disebut Majority Decision. Jika kedua petinju punya jumlah poin yang sama dari semua hakim, pertandingan berakhir dengan Draw atau seri. Jika ketiga hakim menyepakati satu pemenang, maka pertandingan adalah Unanimous Decision atau kemenangan mutlak.

Ada banyak cara dalam mengakhiri pertarungan. Tidak ada KO bukan berarti sebuah laga membosankan atau kurang aksi. Inilah keindahan tinju, karena dua petarung dapat dinilai berdasarkan keterampilan yang mereka tunjukkan di atas ring.*

Artikulli paraprakMataram Utama FC, Klub Bentukan Wartawan Yogyakarta Siap Berlaga di Liga 3
Artikulli tjetërMarc Klok Resmi ke Persib Bandung Usai Hengkang dari Persija Jakarta