Pertarungan petinju populer Denmark, Mikkel Kessler kontra Joe Calzaghe menjadi salah satu duel tinju terlaris di Inggris Raya. (Foto: Olenas.id/The Ring)

OLENAS.ID – Inggris mengalahkan Denmark 2-1 dalam semifinal Euro 2020. Dan, untuk kali pertama, Inggris melaju ke final untuk menghadapi Italia. Denmark boleh jadi lawan Inggris di Piala Eropa, namun di arena tinju mereka adalah kawan.

Di kancah sepakbola, kedua negara adalah musuh bebuyutan karena sudah 22 kali bertanding. Inggris menang 13 kali, Denmark 4 kali, 5 sisanya berakhir imbang. Denmark boleh berbangga karena pernah memenangi Piala Eropa. Denmark yang dimotori kiper Peter Schmeichel juara di Euro 1992.

Sayangnya, Kasper Schmeichel, gagal mengikut jejak sang ayah yang merupakan kiper legendaris timnas dan Manchester United ini. Meski tampil gemilang, kiper Leicester City yang pernah diincar Man United ini tak mampu membawa Denmark ke final setelah dikalahkan Inggris.

Kini, Inggris berharap bisa menyamai prestasi Denmark saat melawan Italia di Stadion Wembley, Senin (13/7/2021) dini hari WIB. Meski pernah juara Piala Dunia 1966, Inggris pun ingin mengangkat trofi Eropa.

Lain di sepakbola, lain di tinju. Di cabang tinju, khususnya tinju pro, Inggris dan Denmark justru berkawan. Inggris di sini mencakup Inggris Raya, bukan hanya Inggris tapi juga Wales, Skotlandia, dan Irlandia Utara.

Petinju Inggris sangat populer di Denmark. Mereka adalah panutan petinju-petinju Denmark dan juga para penggemarnya di sana. Bahkan bisa disebut publik tinju Denmark tergila-gila pada petinju dari Inggris Raya.

Mikkel Kessler adalah petinju terpopuler Denmark di abad ini. Dia mantan juara dunia kelas menengah WBA dan WBC. Saat berada di puncak kejayaan Kessler pada awal hingga pertengahan tahun 2000-an, dia sudah menghadapi tiga petinju top Inggris Raya: Brian McGee, Carl Froch, dan Joe Calzaghe.

Kessler tercatat dua kali menghadapi Froch masing-masing di Herning (Denmark) dan London. Hasilnya, dia sekali menang angka dan sekali kalah angka. Menghadapi McGee, Kessler menang KO dalam duel di Herning. Sementara melawan Calzaghe, Kessler kalah angka.

Duel Kessler vs Calzaghe di Cardiff, Wales, pada 3 November 2007 menjadi salah satu laga tinju paling banyak ditonton di Inggris Raya. Sekitar 50 ribu penonton hadir di Stadion Millennium yang dijadikan arena pertarungan.

Selepas Kessler pensiun, Denmark tak lagi punya petinju idola. Namun kecintaan publik tinju di Negeri Dongeng itu terhadap petinju-petinju Inggris tak lekang. Tyson Fury dan Anthony Joshua adalah dua petinju Inggris terkini yang populer di Denmark.

Dukungan Kultur Judi

Mengapa petinju Inggris termasuk populer dan bahkan jadi idola di Denmark? Ternyata, ini terkait dengan kegemaran judi olahraga orang Denmark. Masyarakat di negara yang juga melahirkan pebulu tangkis top dunia ini punya kultur judi yang kuat. Kegemaran bertaruh itu pula yang membuat popularitas petinju Inggris di sana tetap bertahan.

Orang-orang Denmark menyadari bahwa ada banyak faktor yang perlu dipertimbangkan saat bertaruh dalam tinju. Jadi, ada banyak hal yang diperhatikan dan diteliti sebelum bertaruh pada tinju. Salah satu cara untuk melakukan penelitian tersebut adalah dengan melihat tips taruhan tinju di Odds.dk, situs taruhan di Denmark.

Orang-orang Denmark selalu mengikuti sepak terjang petinju Inggris, agar mereka dapat menentukan taruhan dengan benar. Kebiasaan ini tentu saja menambah popularitas petinju Inggris di Denmark, karena seluk beluk mereka selalu diikuti para penjudi yang ingin memenangi taruhan dalam setiap pertandingan tinju.

Dalam waktu dekat ada beberapa pertarungan besar yang melibatkan petinju Inggris. Promotor berlomba-lomba membuat pertarungan yang lebih besar dari pesaingnya.

Bagi orang Denmark tontonan pertarungan tinju yang akbar adalah daya tarik besar untuk bertaruh. Antusiasme di meja taruhan itu juga menjadi faktor pendorong media di Denmark untuk memberitakan petinju-petinju Inggris.

Seperti simbiosis mutualisme. Pecandu tinju dan petaruh di Denmark begitu mencermati dan menaruh perhatian besar terhadap petinju-petinju Inggris yang saat ini bertebaran di pasar tinju dunia. Demikian juga media di Denmark yang gencar memberitakannya.

Bagi para petinju Inggris pilihannya hanya satu, mempertahankan performa terbagus mereka selama mungkin. Promotor pun akan berlomba-lomba membuat pergelaran terbaik. Sementara para pencandu tinju, petaruh, dan bandar di Denmark berimajinasi meraih keuntungan besar dari pasar taruhan. Menarik bukan?*

Artikulli paraprakMisteri Corona dan Kesempatan Kedua
Artikulli tjetërFinal Copa America 2021, Lionel Messi: Brasil dan Neymar Lawan yang Sulit