Petinju Roberto Cammarelle (kanan) saat menghadapi Anthony Joshua dalam final kelas berat super Olimpiade London 2012. Cammarelle yang berprofesi sebagai polisi di Italia tidak pernah menjadi petinju pro, meskipun prestasinya di amatir sangat hebat. (Foto: Olenas.id/Skysports)

OLENAS.ID – Italia juara di cabang sepak bola adalah hal yang jamak. Negeri Piza itu sudah menjuarai Piala Dunia sebanyak empat kali. Jika Senin (12/7/2021) dini hari WIB, Italia mampu mengalahkan Inggris di final Euro 2020, maka itu akan menjadi gelar juara Eropa kedua bagi mereka. Bila Gli Azzurri sukses di sepak bola, namun mereka KO kalau urusan tinju.

Italia jago di sepak bola tetapi memble di tinju. Banyak petinju berdarah Italia yang menjadi juara dunia, tetapi kebanyakan mereka adalah imigran di Amerika Serikat. Sementara petinju yang asli berasal dari Italia sangat jarang berprestasi dunia di tinju profesional.

Ini kontras di tingkat amatir karena Italia punya jawara-jawara kelas dunia. Sebut saja Francesco Damiani peraih perak kelas berat Olimpiade Los Angeles 1984, Paolo Vidoz peraih perunggu kelas berat Olimpiade Sydney 2000.

Tradisi medali di Olimpiade berlanjut saat Roberto Cammarelle berlaga di Beijing 2008. Dia meraih emas kelas berat super Dan, empat tahun berikutnya di London, dia dikalungi medali perak. Selain itu ada Clemente Russo yang meraih perak di kelas berat di Beijing dan perak di Olimpiade London 2012.

Hanya mereka tak pernah menjadi besar di dalam negeri. Damiani menjadi juara WBO setelah hijrah Amerika, demikian juga Vidoz yang merintis karier profesional di Negeri Paman Sam. Sementara Russo dan Camarelle yang sukses di Olimpiade tidak pernah merambah kancah tinju profesional.

Bukan Olahraga Utama

Tinju memang bukan olahraga arus utama di Italia, meskipun tidak bisa juga dikatakan sama sekali mati. Namun tinju pro kalah pamor dibandingkan sepak bola, bola basket, bola voli, balap mobil, balap motor, bahkan balap sepeda. Ingat, Italia punya Giro d’Italia yang merupakan satu dari tiga lomba balap sepeda kategori Grand Tour, yang paling bergengsi di dunia selain Tour de France dan Vuelta a Espana.

Kalau media di Italia bisa memuat berita tentang sepak bola dan pernak-perniknya sepanjang 365 hari dalam setahun, maka untuk tinju setahun sekali pun belum tentu menjadi berita nasional. Bahkan tinju tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan berita soal fantasy soccer di Italia.

Pada tahun 1995 saat bekerja di Tabloid Bola saya berniat menulis soal petinju Italia paling top saat itu, Giovanni Parisi. Dia adalah peraih emas kelas bulu Olimpiade Seoul dan menjadi juara kelas ringan WBO tahun 1992.

Poster promosi pertarungan petinju Italia, Giovanni Parisi melawan legenda tinju Meksiko, Julio Cesar Chavez di Las Vegas pada 8 April 1995. (Foto: Olenas.id/picclick.co.uk)

Parisi menantang legenda tinju Meksiko, Julio Cesar Chavez dalam perebutan gelar kelas ringan super WBC di Caesars Palace, Las Vegas pada 8 April 1995. Sebab itu saya ingin mengulasnya. Agar lebih afdol, saya meminta rekan koresponden di Roma, Rayana Jakasurya, untuk melakukan wawancara langsung. Namun dia menjawab, “Memang ada ya petinju Italia yang mau menantang juara dunia?”

Begitulah nasib tinju pro di Italia. Parisi yang meninggal akibat kecelakaan mobil pada tahun 2009 memang meraih gelar juara dunia WBO di Roma. Tetapi pertarungannya di Arena Palasport menghadapi Antonio Rivera dari Puerto Rico ditonton tak lebih dari 5000 orang. Itu adalah rekor jumlah penonton tinju pro di Italia yang bertahan hingga sekarang.

Masalah Promotor

Italia juga tak punya banyak promotor berkelas dunia. Satu nama yang paling dikenal adalah Salvatore Cherchi. Dia menjadi terkenal hanya karena dua kali mementaskan kejuaraan dunia di Italia yang melibatkan petinju Amerika Serikat, Cory Spinks.

Pada tahun 2002 dan 2003 Spinks yang berada di bawah promotor Don King, dibawa Cherchi untuk berlaga di Campione d’Italia melawan jago lokal Michele Piccirillo. Mereka bertarung memperebutkan gelar juara kelas welter IBF. Dari dua kali pertarungan di Italia tersebut, Spinks sekali kalah dan sekali menang. Keduanya lewat penghitungan angka.

Di Italia ada pepatah lama: di negeri ini keadaannya selalu buruk, tapi tidak pernah benar-benar buruk. Pepatah itu untuk menyindir perilaku orang-orang kaya Italia yang selalu bilang bisnis sedang jelek, tidak ada uang, dan segala penderitaan yang dia alami. Sementara di saat yang sama dia menyetir mobil mewah, mengenakan setelan mahal, minum anggur kelas satu, atau makan di restoran bintang lima. Dengan kata lain, sebenarnya banyak orang kaya yang berpotensi mengembangkan tinju pro di Italia namun mereka enggan melakukannya.

Taipan media yang mantan PM Italia, Silvio Berlusconi pernah berusaha mengangkat pamor tinju dengan menjadikannya suguhan utama di televisi. Berlusconi yang juga mantan pemilik klub AC Milan itu mencoba menjadikan tinju sebagai salah satu sajian olahraga utama di Mediaset, jaringan media miliknya. Namun proyek itu tak berlangsung lama karena dianggap kurang menguntungkan.

Minim promotor, tiket murah, antusiasme penonton yang minim, atensi media yang kurang, dan tidak ada sponsor adalah biang keladi tinju profesional kurang berkembang di Italia. Meskipun sebenarnya bibit petinju hebat tidak kurang, karena Italia punya juara-juara tinju amatir berlevel Olimpiade. Tinju di Italia lebih sebagai tontonan kelas daerah, bukan nasional apalagi dunia.

Tak heran jika petinju-petinju profesional Italia kebanyakan bekerja di bidang selain tinju. Profesi sebagai petinju hanya pekerjaan sambilan, demi mendapatkan ekstra penghasilan.

Toh istilah-istilah tinju tetap dipakai untuk merayakan kemenangan atlet Italia dalam suatu ajang kompetisi akbar. Seperti yang menjadi headline Mediaset saat bintang tenis Matteo Berrettini mengalahkan Hubert Hurkacz dari Polandia di semifinal Wimbledon 2021, dan menjadi petenis Italia pertama lolos ke final turnamen Grand Slam itu.

Berrettini Nella Storia: Primo Italiano In Finale A Wimbledon! Hurkacz KO In Quatfro Set” (Berrettini Dalam Sejarah: Orang Italia Pertama di Final Wimbledon! Hurkacz KO Dalam Empat Set)*

Artikulli paraprakFinal Copa America 2021, Lionel Messi: Brasil dan Neymar Lawan yang Sulit
Artikulli tjetërFinal Euro 2020, Giorgio Chiellini: Inggris Tak Hanya Harry Kane