Rusuh suporter usai final Euro 2020 Italia melawan Inggris di Stadion Wembley. (Foto: Olenas.id/Thesun.co.uk)

OLENAS.ID – Stadion Wembley menjadi zona perang. Begitulah tabloid The Sun menggambarkan suasana kerusuhan suporter usai kekalahan Inggris dari Italia di final Euro 2020, Senin (12/7/2021) dini hari WIB. Suporter Inggris seperti menunjukkan wajah asli, berperilaku rasis dan bertindak anarkis, setelah tidak menerima kekalahan 3-2 (1-1) lewat drama adu penalti.

Bak api dalam sekam. Api akhirnya membesar. Kekalahan Inggris di final Euro 2020 sepertinya tidak bisa diterima suporter. Nyanyian ‘It’s (Football) Coming Home’ tak lagi bergema setelah kiper Gianluigi Donnarumma berhasil memblok sepakan penalti Bukayo Saka.

Di luar stadion terjadi aksi anarkis yang dilakukan tidak kurang 2.500 suporter yang tidak memiliki tiket. Dalam situasi mabuk, mereka berusaha masuk stadion. Situasi berubah rusuh. Suporter Inggris yang selama ini cukup santuy justru menjadi beringas.

Bagi Anda yang mengejek rasisme kepada pemain, saya katakan Anda memalukan

Pada era sebelumnya, suporter dari Inggris pernah mendapat stempel negatif yang memunculkan hooligan. Suporter yang gemar bikin rusuh dengan suporter lain maupun polisi. Puncaknya rusuh di Stadion Heysel, Brussels, Belgia, saat Liverpool bertemu Juventus (lagi-lagi duel klub Inggris melawan klub Italia) di final Piala Champions (sekarang Liga Champions 1995. Kerusuhan yang berujung kematian 39 suporter Juve. Final itu sendiri dimenangkan Juve dengan skor 1-0 lewat penalti Michel Platini.

Akibat insiden yang kemudian dikenal Tragedi Heysel, suporter dan klub Liverpool dan Inggris dikenai sanksi. Mereka dilarang berkompetisi di Eropa selama satu dekade. Sejak itu, suporter Inggris memang berubah. Mereka lebih santun dan tak pernah lagi ada insiden rusuh.

Namun kesantunan itu berubah total di Euro 2020. Kerusuhan di luar Wembley begitu mencekam sehingga membuat keluarga pemain ketakutan. Bagaimana tidak, suporter masuk ke pintu tribun tempat keluarga pemain. Termasuk di antaranya anak dan istri Harry Kane, John Stones, Raheem Sterling dan Harry Maguire.

“Semua keluarga pemain berada di sana. Ini sungguh menakutkan. Istri, pacar dan anak-anak, semua menangis. Ada perkelahian juga,” ujar sumber seperti dikutip The Sun.

“Tak ada yang pernah menyaksikan hal seperti ini. Saat mereka tiba, kursinya sudah dikuasai fans yang tidak memiliki tiket. Mereka sangat kasar dan agresif. Suasana benar-benar kacau dan menyedihkan. Tidak cukup petugas stadion dan tidak terlihat polisi,” katanya.

Mural striker Inggris Marcus Rashford yang jadi sasaran rasisme tetapi kemudian ditutup oleh fans. (Foto: Olenas.id/Thesun.co.uk)

Atas insiden itu, polisi mengamankan 86 orang di London, termasuk 53 di Wembley. Mereka ditangkap karena mabuk, bertindak anarkis dan berbuat kriminal. Sedangkan total 19 petugas terluka saat mengamankan situasi.

Kepala Polisi Inggris Ken Marsh menyebut aksi anarkis ini ‘memalukan bangsa’. Sementara FA menyampaikan permintaan maaf.

Tak hanya bertindak rusuh, suporter juga menunjukkan perilaku rasis. Para pemain yang gagal menyelesaikan eksekusi penalti, Marcus Rashford, Jadon Sancho dan Saka, yang kebetulan berkulit hitam, menjadi sasaran rasisme.

Ironis karena ini dilakukan suporter sendiri. Lebih dari itu, sepak bola Inggris dikenal antirasisme. Bahkan klub atau pemain selalu menyuarakan semangat antirasis. Pasalnya pemain klub Inggris yang berkulit hitam kerap jadi sasaran rasisme saat berlaga di kompetisi Eropa.

Para pemain tersebut ejekan bernada rasisme di dunia maya. Tak hanya itu, mural Rashford di dinding di daerah kelahirannya di Withington, Manchester, ikut menjadi sasaran rasisme. Bintang muda Manchester United ini menuturkan dia menerima kritik terkait dengan penampilannya. Namun Rashford tak akan meminta maaf terkait dengan siapa dirinya dan dari mana dia berasal.

“Saya tak tahu harus mulai dari mana. Bahkan saya tak tahu bagaimana harus mengungkapkan perasaan saya saat ini. Saya menjalani musim yang sulit. Menurut saya semua tahu hal itu. Saya mungkin merasa kurang percaya diri saat menghadapi laga final,” kata Rashford.

“Saya selalu berusaha memotivasi diri saat mengambil penalti. Namun semua tidak berjalan dengan benar. Saya telah membuat rekan tim kecewa. Saya merasa telah membuat siapa pun kecewa,” ucap dia.

Dilanjutkan Rashford terkait dengan coretan rasisme di mural, “Saya menerima banyak pesan bernada positif setelah melihat apa yang terjadi di Withington yang membuat saya menangis.”

Striker Inggris Marcus Rashford kecewa setelah eksekusi penalti gagal di final Euro 2020 melawan Italia. (Foto: Olenas.id/Thesun.co.uk)

“Masyarakat di sana selalu menyambut saya dengan hangat. Mereka juga tetap mendukung saya. Saya Marcus Rashford, 23 tahun, seorang berkulit hitam dari Withington dan Wythenshawe, Manchester Selatan. Saya tak ada lagi yang hendak saya katakan,” ujar Rashford.

Atas insiden rasisme yang dialami, Rashford dkk mendapat dukungan dari manajer Gareth Southgate, pemain timnas, klub sampai Perdana Menteri Boris Johnson. Bahkan Perdana Menteri meminta kepolisian mengusut dan menangkap pelaku untuk dibawa ke pengadilan.

“Bagi Anda yang mengejek rasisme kepada pemain, saya katakan Anda memalukan. Saya berharap Anda merangkak kembali ke tempat Anda muncul,” kata Johnson yang kesal dengan perilaku suporter.

Sementara, Southgate berkata, “Timnas mendukung siapa pun. Kebersamaan kami akan berlanjut. Kami telah menunjukkan kekuatan bangsa kami saat bersama.” *

Artikulli paraprakItalia Juara Euro 2020, It’s Coming Rome Not Home
Artikulli tjetërKurang Etis Shin Tae-yong Jadi Komentator Olimpiade 2020.