Manajer PS Sleman Danilo Fernando. (Foto: Olenas.id/PSS Sleman)

OLENAS.ID – Pemberlakuan PPKM Darurat akibat situasi pandemi Covid-19 tak terhindarkan meski berujung ditundanya kompetisi Liga 1 dan Liga 2. PS Sleman menilai situasi tersebut tidak mudah. Industri sepak bola mengalami kerugian tetapi manusia dan kesehatan memang menjadi pertimbangan.

Kompetisi sepak bola masih belum bisa digulirkan kembali usai penyelenggaraan Piala Menpora 2021. Sukses pelaksanaan turnamen pramusim ini menjadikan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator kompetisi bisa menggelar Liga 1 dan Liga 2. Polri pun sudah memberikan izin kegiatan keramaian.

PT LIB menetapkan Liga 1 digulirkan pada 9 Juli 2021. Hanya, rencana itu berantakan setelah angka Covid-19 tak lagi melandai. Sebaliknya angka yang terpapar kian naik dan menjadi tinggi sehingga diberlakukan PPKM di Jawa dan Bali. Padahal kompetisi rencananya dipusatkan di Jawa.

Tak hanya dari aspek finansial, yang sudah pasti diderita klub-klub, tapi juga kondisi pemain dan psikis yang menurun

Namun PSSI akhirnya memutuskan kompetisi kembali ditunda. Bahkan kapan pelaksanaan liga masih tanda tanya. Beredar kabar, liga digulirkan pada Agustus 2021. Namun rencana ini disebut-sebut mundur menjadi September.

Dalam situasi seperti sekarang ini, keputusan PSSI merupakan langkah terbaik, meski secara signifikan merugikan industri sepakbola. Terutama bagi klub Liga 1 yang sudah mempersiapkan tim secara matang untuk mengarungi kompetisi.

“PS Sleman sudah mempersiapkan diri secara matang untuk kick off yang seharusnya bergulir pada 9 Juli 2021. Tapi kami bisa mengerti karena memang berat situasi pandemi Covid-19 saat ini,” ujar Manajer PSS, Danilo Fernando di Sleman, Jumat (16/7/21).

Menurut dia situasi perkembangan Covid-19 saat ini sangat mengkhawatirkan. Di Brasil misalnya yang masih dengan 40 ribu kasus per hari sudah tersalip oleh Indonesia yang lebih dari 50 ribu kasus.

“Banyak kerugian dari situasi ini. Tak hanya dari aspek finansial, yang sudah pasti diderita klub-klub, tapi juga kondisi pemain dan psikis yang menurun. Program yang disiapkan oleh tim pelatih menjadi sia-sia,” kata Danilo menegaskan.

Meski begitu, tambahnya, ada sisi positif juga yang bisa dipetik. Para pemain bisa berkumpul bersama keluarganya. Tidak lagi khawatir karena berjauhan dan bisa saling menjaga.

Tentang bagaimana para pemain menjaga performanya, Danilo menilai jika dibilang efektif dengan latihan mandiri tentu tidak tepat. Pemain bola harus ada kegiatan di lapangan. Namun dengan latihan mandiri setidaknya jika nanti kembali berlatih di lapangan performa pemain tidak menurun secara drastis.

“Idealnya, pengembalian performa itu tergantung pada masa PPKM. Jika sebulan, maka dibutuhkan 40 hari untuk mengembalikan performanya. Sebaliknya jika lebih dari sebulan, bisa 6 minggu,” tuturnya.

Pada sisi lain, Danilo berharap kompetisi bisa kembali bergulir. Masyarakat bisa mendapatkan hiburan di rumah, sedangkan pemain dan ofisial mempunyai penghasilan setiap bulannya. Meski begitu tetap yang diutamakan adalah manusia, kesehatannya.*

Artikulli paraprakKurang Etis Shin Tae-yong Jadi Komentator Olimpiade 2020.
Artikulli tjetërOlivier Giroud, Striker Gaek yang Diharapkan Hapus Kutukan No 9 AC Milan