Muhammad Ali saat menghadapi Zbigniew Pietrzykowski di final kelas berat Olimpiade Roma 1960. (olenas.id/Sports Illustrated)

OLENAS.ID – Muhammad Ali masih bernama Cassius Clay saat menjuarai tinju kelas berat ringan di Olimpiade Roma 1960. Gelar juara Olimpiade membuatnya sangat bangga, namun juga mengecewakan dirinya.

Ali masih berusia 18 tahun ketika terpilih memperkuat tim tinju Amerika Serikat. Saat itu, dia baru enam tahun menjadi petinju. Ali nyaris gagal berangkat ke Roma karena takut terbang, ketika pesawat yang hendak membawa rombongan terkendala cuaca buruk di Kalifornia.

Ali muda harus dibujuk oleh pelatihnya, Joe Martin agar mau naik ke pesawat. Konon Ali minta dibekali parasut untuk berjaga-jaga jika pesawatnya jatuh. Itu adalah perjalanan pertama Ali ke Eropa.

Membawa Amerika menjadi yang terhebat adalah cita-cita saya. Sebab saya mengalahkan orang Rusia, juga orang Polandia

Di Roma, Ali sama sekali tidak dikenal dalam persaingan tinju amatir. Dia masih bocah bau kencur. Pesaingnya, Gennady Shatkov (Rusia) dan Zbigniew Pietrzykowski (Polandia) jauh lebih terkenal. Shatkov adalah peraih emas kelas menengah dan Petrzykowski perunggu menengah ringan di Olimpiade Melbourne 1956.

Tetapi Ali mampu membuktikan sesumbarnya sedahsyat prestasinya. Setelah menang RSC ronde 2 atas Yvon Becaus (Belgia) di pertandingan pertama, Ali menyingkirkan Shatkov lewat angka di perempat final.

Di semifinal, Ali menang angka 5-0 atas Antony Madigan dari Australia dan lolos ke final. Pietrzykowski yang menunggu di final juga dia kalahkan dengan skor 5-0. Ali pun meraih emas. Peristiwa itu digelar di Palazzo dello Sport, Roma, 5 September 1960.

Ali memenangi emas Olimpiade Roma 1960 bersama dua petinju AS lain. Mereka adalah Wilbert McClure di menengah ringan dan Eddie Cook Jr di menengah. Tuan rumah Italia menjadi juara umum cabang tinju, disusul AS di urutan kedua dan Polandia di urutan ketiga.

Ali sangat bangga menjadi juara Olimpiade. Dia mengatakan, membawa Amerika menjadi bangsa terhebat adalah cita-citanya.

“Membawa Amerika menjadi yang terhebat adalah cita-cita saya. Sebab saya mengalahkan orang Rusia, juga orang Polandia. Saya suka Italia, tetapi harus kembali ke Amerika. Mereka sudah menyiapkan pesta di Louisville,” ujar Ali dalam buku Ali Rap.

Saking bangganya, medali emas Olimpiade Roma 1960 terus dia kenakan selama 48 jam. Bahkan terus dikalungkan di lehernya saat tidur.

“Untuk kali pertama dalam hidup, saya harus tidur telentang. Saya harus lakukan itu agar medalinya tidak menyakiti dada,” kata Ali.

Tetapi kebanggaan Ali muda hanya sampai di situ. Diskriminasi rasial yang zaman itu masih kental di AS tetap dia rasakan, meskipun pernah mengharumkan negaranya di Olimpiade.

Dalam otobiografinya yang diterbitkan tahun 1975, The Greatest: My Own Story, Ali merasa sangat kecewa ketika dia diusir dari sebuah restoran di Louisville milik seorang kulit putih yang rasis.

“Pemilik restoran bilang: kami tidak melayani Negro! Kujawab: aku pun tidak makan Negro. Lantas dia berteriak: Hei bocah, keluar! Setelah kejadian itu Aku memandangi medali dan berpikir, benda ini sama sekali tidak berharga. Bahkan untuk mendapatkan hamburger pun tidak bisa,” kata Ali berkisah.

Ali menceritakan kalau medali emas Olimpiade Roma 1960 itu lantas dia buang ke Sungai Ohio yang melintasi Louisville, kota kelahirannya. Medali yang hilang itu kemudian diganti dengan replika, yang diserahkan kepada Ali saat pergelaran Olimpiade Atlanta 1996.

Ali lantas menjadi petinju profesional pada 29 Oktober 1960. Dia terinspirasi pada pegulat profesional berkulit putih, Gorgeus George. Menurut Ali, orang berbondong-bondong menonton George karena ingin melihat dia kalah. Yang terjadi justru sebaliknya, George lebih sering menang.

Ali mencetak rekor amatir 100 menang dan 5 kalah. Di ring profesional, dia menjadi orang pertama sebagai juara dunia kelas berat tiga kali. Sampai pensiun tahun 1981, Ali mencetak rekor pro 56-5-0 (37 KO).

Muhammad Ali lahir sebagai Cassius Marcellus Clay Jr di Louisville, Kentucky pada 17 Januari 1942. Meninggal di Scottsdale, Arizona pada 3 Juni 2016 setelah lama mengidap sindrom Parkinson.*

Artikulli paraprakLatihan Virtual Pesepak bola Muda Bersama Pemain PSS Kim Kurniawan
Artikulli tjetërGibran Bantu Vaksinasi untuk Suporter Persis Solo