Albert Batyrgaziev (ROC) melapaskan pukulan ke wajah Duke Ragan (AS) dan memenangi final tinju kelas bulu Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: olenas.id/istimewa)

OLENAS.ID – Keterlibatan petinju profesional dalam Olimpiade akhirnya membuahkan hasil. Di Olimpiade Tokyo 2020, dua petinju pro meraup emas.

Petinju pro yang berlaga di Tokyo 2020 tercatat 36 putra dan 7 putri. Jumlah itu jauh lebih banyak dibandingkan yang berlaga di Rio 2016, ketika petinju pro untuk pertama kali diizinkan tampil di Olimpiade. Hanya di Rio tidak ada petinju pro yang mampu merebut medali.

Cerita berbeda di Olimpiade Tokyo 2020. Albert Batyrgaziev bakal dicatat dalam sejarah sebagai petinju pro yang merebut emas Olimpiade. Batyrgaziev mewakili Russian Olympic Committee (ROC), setelah Rusia dilarang tampil sebagai entitas negara di Tokyo 2020.

Semua atlet yang bersaing di Olimpiade bisa disebut profesional, karena dedikasi yang sangat tinggi terhadap olahraga yang digeluti

Tampil di final kelas bulu, Batyrgaziev menang angka 5-0 atas lawannya, Duke Ragan asal Amerika Serikat. Hebatnya, ini adalah final antara sesama petinju pro. Sepanjang sejarah Olimpiade, baru kali ini terjadi final sesama petinju pro.

Batyrgaziev masih berusia 23 tahun dan memiliki rekor pro 3-0-0 (3 KO). Tokyo 2020 adalah Olimpiade pertama bagi petinju kidal yang melakukan debut pro pada Juni 2020 ini.

“Menurut saya arti profesional tidak melulu berkaitan dengan uang. Semua atlet yang bersaing di Olimpiade bisa disebut profesional, karena dedikasi yang sangat tinggi terhadap olahraga yang digeluti,” ujar Batyrgaziev yang berasal dari Republik Dagestan, bagian dari Negara Federasi Rusia.

Bakhodir Jalolov (Uzbekistan) berteriak kegirangan setelah mengalahkan Richard Torrez Jr (AS) di final kelas berat super Olimpiade Tokyo 2020. (Foto: olenas.id/istimewa)

Ragan yang juga berusia 23 tahun memasuki kancah pro pada Agustus 2020. Di ring tinju pro, rekornya masih 4-0-0 (1 KO). Tokyo 2020 juga penampilan pertamanya di Olimpiade.

“Tampil di Olimpiade bagi saya adalah berkah, apalagi berhasil mendapatkan medali. Pastinya ini akan menambah nilai jual saya sebagai petinju profesional, karena saya akan selalu diperkenalkan sebagai: Duke Ragan sang peraih perak Olimpiade,” kata Ragan, yang bernaung di bawah Top Rank Promotions dalam karier pronya.

Jalolov Raih Emas Kelas Berat Super

Satu petinju pro lain peraih emas Olimpiade Tokyo 2020 adalah Bakhodir Jalolov dari Uzbekistan. Dia meraih emas kelas berat super pada hari terakhir Tokyo 2020 dengan menang angka atas petinju Amerika Serikat, Richard Torrez Jr.

Jalolov, petinju kidal berusia 27 tahun dengan tinggi 201 cm adalah alumni Olimpiade Rio 2016. Saat itu, dia hanya mencapai perempat final, setelah kalah angka oleh Joe Joyce dari Inggris yang akhirnya meraih perak.

Lepas Olimpiade Rio 2016, Jalolov masuk pro pada Mei 2018 dan berkarier di Amerika Serikat. Di Tokyo 2020 dia termasuk petinju pro dengan rekor pertarungan terbanyak, yaitu 8-0-0 (8 KO).

Jalolov berada di bawah DiBella Promotions. Dia disebut-sebut sebagai salah satu generasi baru kelas berat paling berbakat, dan diprediksi bakal menjadi juara dunia setelah era Anthony Joshua, Tyson Fury, serta Deontay Wilder.

“Jalolov adalah petinju kelas berat dengan postur raksasa, namun kelincahan dia bergerak seperti petinju kelas menengah. Dia adalah talenta istimewa di kelasnya,” ujar Lou DiBella, promotor Jalolov melontarkan pujian.

Pertemuan Jalolov dan Torrez merupakan yang kedua di tinju amatir tingkat dunia. Perjumpaan pertama mereka terjadi di Kejuaraan Dunia Amatir 2019 di Yekaterinburg, Rusia. Saat itu Jalolov menang KO ronde pertama.

Pada awalnya mengizinkan petinju pro bertanding di Olimpiade sempat dinilai sebagai ide konyol. Petinju pro dianggap tidak akan mampu bersaing melawan petinju amatir, karena teknik bertinju dan cara penilaian mereka yang berbeda. Di Rio 2016 petinju pro memang gagal unjuk gigi, tetapi di Olimpiade Tokyo 2020 terbukti petinju pro mampu bersaing di ring amatir.*

Artikulli paraprakLionel Messi Tinggalkan Barcelona, Ini Penyebabnya
Artikulli tjetërLiga 1 Mundur Lagi, Kickoff Jadi 27 Agustus