Petinju Yordenia Ugas. (Foto: olenas.id/Boxing Scene)

OLENAS.ID – Enam kali Yordenis Ugas mencoba untuk kabur dari negaranya, Kuba. Enam kali pula dia tertangkap dan harus masuk bui atas upayanya melarikan diri ke Amerika Serikat.

Ugas tidak kapok demi menggapai cita-citanya berkarier sebagai petinju profesional. Baru pada percobaan ketujuh, 2010, dia berhasil mencapai daratan Amerika Serikat. Ugas harus menyeberang ke Meksiko lebih dahulu, sebelum akhirnya menginjakkan kaki di Texas.

Hanya, dia harus merangkak dari bawah di negeri impian. Predikat sebagai juara nasional Kuba, juara dunia amatir 2005, juara Pan American Games 2008, peraih perunggu kelas Welter di Olimpiade Beijing 2008, dan seabrek gelar amatir lain tidak otomatis mengubah hidup Ugas. Bahkan pria kelahiran 14 Juli 1986 ini hidup dalam kekurangan.

Saya ingin hidup merdeka, selamanya

“Melarikan diri adalah kisah klasik kebanyakan orang Kuba yang mendambakan kehidupan yang lebih sejahtera. Saya tak bakal lupa saat-saat berangkat dari Meksiko dengan perahu dan mencapai Texas. Itu adalah momen spesial bagi saya,” ujar Ugas berkisah.

“Di Kuba saya tinggal di rumah yang tidak pakai plafon. Saya ingin menafkahi keluarga di Kuba dengan layak, dan satu-satunya cara adalah dengan menjadi petinju profesional di Amerika. Ini cara yang saya tahu dan sukai. Saya ingin hidup merdeka, selamanya,” kisahnya lagi.

Kisah pelarian Ugas itu dia abadikan dengan julukan di ring, 54 Milagros atau Mukjizat 54. Pencantuman nomor 54 adalah penghormatan Ugas untuk koleganya, Aroldis Chapman, pitcher top dari klub bisbol profesional New York Yankees yang juga pelarian dari Kuba dan sukses berkarier sebagai atlet di Amerika Serikat.

Dalam berkarier di tinju pro, dia juga sepenuhnya mendapat pertolongan para imigran asal Kuba. Teknik bertinju Ugas dipoles Ismael Salas, pelatih asal Kuba yang menanganinya sejak 2016 hingga kini. Sebelumnya Eric Castanos yang melatih Ugas saat di Miami, Florida.

Perlu Sembilan Tahun

Perjuangan Ugas untuk menjadi juara dunia tinju pro memang jauh dari mudah. Status sebagai juara di berbagai turnamen tinju amatir level tertinggi tidak otomatis mendatangkan peluang. Ugas baru mendapatkan kesempatan 9 tahun sejak dia mendarat di Amerika Serikat.

Upaya pertamanya gagal, setelah dia kalah angka dari Shawn Porter dalam duel perebutan gelar kelas welter WBC di Carson, California pada 9 Maret 2019. Pada kesempatan kedua yang digelar di Los Angeles pada 6 September 2020, barulah Ugas berhasil. Dia menang angka atas Abel Ramos dalam perebutan gelar kelas welter WBA.

Sabuk ini sebenarnya milik Manny Pacquiao, yang lantas diperebutkan karena Pacman vakum sejak merebut dari Keith Thurman pada 2019. WBA tidak mencabut gelar juara Pacquiao, namun memberinya status “champion in reses”.

Dalam sejarah tinju pro Kuba, Ugas adalah juara kelas welter pertama asal negara pulau itu sejak 1969. Sebelum Ugas, petinju Kuba terakhir yang menjadi juara dunia kelas welter adalah Jose Napoles. Napoles mengalahkan Curtis Cokes dari Amerika Serikat lewat TKO 13 di Inglewood, California pada 18 April 1969.

Ugas seharusnya tampil melawan Fabian Maidana, sebagai laga pembuka Pacquiao vs Errol Spence Jr yang dibatalkan. Cedera Spence Jr menjadi berkah bagi Ugas, yang bakal menjalani duel terbesar sepanjang kariernya di T-Mobile Arena, Las Vegas pada 21 Agustus 2021.

“Laga ini bukan hanya untuk keluarga saya, tetapi juga untuk orang-orang Kuba yang berjuang untuk kebebasan mereka. Ini adalah tanggung jawab besar, tetapi pada saat yang sama saya sangat bangga. Keluarga dan seluruh bangsa Kuba selalu ada di pikiran saya saat mempersiapkan diri menghadapi Pacquiao, itu pasti!” kata Ugas.*

Artikulli paraprakSon Heung-min Mimpi Buruk Guardiola, Tenggelamnya Grealish dan Harry Kane
Artikulli tjetërBarcelona Kembali Ingin Boyong Aubameyang dari Arsenal