Pertandingan melawan Keith Thurman pada 20 Juli 2019 berimbas besar pada karier politik Manny Pacquiao (kanan). (Foto: olenas.id/istimewa)

OLENAS.ID – Manny Pacquiao sudah mendapatkan semua dalam hidup dan kariernya. Dia petinju sukses dengan 8 gelar juara dunia di kelas berbeda, hasil dari 72 kali pertarungan selama 26 tahun menjadi petinju profesional. Dia juga politikus sukses.

Dari tinju, Pacquiao meniti karier gemilang di panggung politik. Dirinya menjadi salah satu dari 12 senator Filipina untuk periode 2016-2022. Terkini, Pacquiao juga seorang kandidat Presiden Filipina dalam pemilihan yang akan digelar pada 9 Mei 2022.

Pernikahan Pacquiao dengan Jinkee Jamora yang sudah berlangsung 25 tahun dan membuahkan 5 anak, juga masih awet. Pokoknya, Pacquiao sudah mendapatkan kehidupan jauh lebih baik ketimbang yang dia impikan saat masih menjadi pemuda miskin di kota asalnya, General Santos.

Puji Tuhan robekan di mata Errol segera ditemukan, sebelum kerusakannya bertambah parah

Seumpama cangkir yang diisi air, isinya pasti sudah luber ke mana-mana. Tetapi hebatnya Pacquiao, dia bisa mengalirkan semua limpahan itu ke wadah yang benar. Karier politik lancar, keluarga awet, dan terus bertinju saat usianya sudah memasuki 42 tahun.

Pertanyaan yang menggelitik saat ini adalah: mengapa Pacquiao masih terus bertinju?

Pertarungan Pacquiao vs Yordenis Ugas di T-Mobile Arena, Las Vegas pada 21 Agustus 2021 mempunyai banyak dimensi. Itu lebih dari sekadar pertarungan tinju biasa.

Sulit membayangkan Pacquiao menjaga kondisi fisiknya di usia 42 tahun untuk bertahan di kelas welter. Dia tidak jadi gendut seperti kebanyakan politikus yang lebih sering menghabiskan waktu dengan duduk di ruangan ber-AC, atau ngobrol ngalor-ngidul soal program pro rakyat.

Biasanya seorang atlet top harus lebih dahulu pensiun, sebelum melanjutnya kariernya di bidang politik. Hal itu tidak berlaku untuk Pacquiao.

Pacquiao tetap fit, meskipun lama tak bertanding sejak mengalahkan Keith Thurman pada 20 Juli 2019. Lepas dari dia adalah bibit istimewa, manusia super, program ketat untuk menjaga kondisi tetap harus dilakukan.

Bagi seorang petinju, menjaga berat badan agar masuk timbangan adalah siksaan. Semua petinju, kecuali kelas berat, pasti bakal tersiksa setidaknya selama dua bulan untuk menjaga agar berat badan stabil hingga saat timbang menjelang pertandingan. Ini adalah bukti bahwa Pacquiao adalah orang yang super disiplin. Tak bisa dibantah.

Bawa Misi Politik

Pacquiao jelas membawa misi politik dalam pertarungan yang akan datang. Sikap permisif sebagai politikus dia tunjukkan ketika menyikapi pembatalan laga lawan Errol Spence Jr. Pacquiao menunjukkan sikap simpatinya terhadap musibah cedera retina mata yang dialami Spence Jr. Bukan kekecewaan yang dia tampilkan.

“Puji Tuhan robekan di mata Errol segera ditemukan, sebelum kerusakannya bertambah parah. Semoga dia segera pulih,” ujar Pacquiao menyikapi kabar cedera yang dialami Spence Jr.

Bagi Pacquiao saat ini, siapapun lawan yang dia hadapi bukan masalah. Dia sudah menghadapi semua nama besar di tinju dunia: Oscar De La Hoya, Floyd Mayweather, Juan Manuel Marquez, Marco Antonio Barrera, Erik Morales, dan seterusnya.

Tinju pro adalah panggung terbaik untuk Pacquiao menunjukkan eksistensinya di mata dunia, sebagai petinju maupun politikus. Kelebihan itu tak dimiliki para politikus saingannya di Filipina.

Ketika gagal melawan Spence Jr yang digadang-gadang sebagai petinju kelas welter terbaik saat ini, tim Pacquiao langsung melakukan pembenahan.

Alur cerita semula soal petinju tua lawan jagoan muda segera diubah. Ugas yang seharusnya tampil dalam partai tambahan dinaikkan. Ketidakpoluleran Ugas ditutupi dengan cerita Pacquiao mengubah latihan dan strategi bertanding, karena Spence Jr kidal sedangkan Ugas tidak.

Intinya, Pacquiao harus tetap bertanding. Siapapun lawannya bukan hal pokok, yang penting Sang Senator naik ring. Orang-orang harus tetap berduyun-duyun ke arena, membeli tiket, menonton siaran televisi berbayar, dan pasang taruhan di rumah judi. Ring tinju adalah panggung maha penting dan dahsyat untuk Pacquiao.

“Tinju adalah gairah saya.” Entah sudah berapa ribu kali kalimat itu dilontarkan Pacquiao untuk menjawab pertanyaan soal motivasinya terus bertinju. Tentu saja jawaban itu selalu disertai senyum yang tersungging, seperti layaknya politikus.

Di luar ring, sepak terjang Pacquiao jarang diikuti langsung masyarakat dunia. Tidak banyak yang tahu kalau dia pernah menyumbang ratusan motor tempel untuk nelayan di Filipina. Mendirikan sekolah untuk komunitas miskin, atau membangun 1000 rumah bagi kaum papa di kampung halamannya. Semua itu memang dia lakukan, namun bukan jadi perhatian utama masyarakat internasional. Itu panggung politik biasa, seperti kebanyakan politikus.

Senator Pacquiao diyakini bakal maju ke Pemilu Presiden Filipina tahun depan. Saat ini peluangnya menang menurut survei belum mencapai level tertinggi. Pacquiao masih harus bekerja ekstra keras untuk mengatrol popularitasnya sebagai kandidat presiden.

Pertentangan dengan Presiden Rodrigo Duterte juga problem yang harus dia hadapi. Meskipun berasal dari satu partai politik, PDP-Laban, hubungan Pacquiao dan Duterte tidaklah mesra. Pacquiao mengritik sikap Duterte yang dia anggap terlalu lunak terhadap China dalam masalah sengketa wilayah di Laut Cina Selatan.

Belum lagi soal sangkaan korupsi yang dilontarkan Pacquiao terhadap Duterte. Pacquiao mempertanyakan lambatnya penanganan Covid-19 di Filipina, serta ketidakjelasan penggunaan dana penanggulangan pandemi yang mencapai 10,4 miliar USD atau sekitar Rp 149 triliun.

Duterte yang tidak senang atas tuduhan Pacquiao membalas, dengan menyebutkan bahwa petinju itu sedang “punch drunk”, mabuk pukulan. Duterte mengolok-olok Pacquiao agar “belajar lagi politik internasional”, dan menantang pembuktian tuduhan korupsi.

Lantaran tidak sejalan dengan Pacquiao, Duterte berencana memajukan putrinya Sara sebagai kandidat Presiden Filipina pada Mei 2022 sementara sang ayah menjadi wakilnya. Bukan perkara mudah bagi Pacquiao untuk mengalahkan nepotisme Duterte. Sang Legenda Tinju harus berlatih politik di “sasana” yang berbeda, dan pelatih yang berbeda pula

“Saya benci korupsi. Dan satu-satunya jalan untuk memajukan bangsa dan negara Filipina adalah dengan memberantas korupsi,” kata Pacquiao.

Pacquiao adalah petinju senator, politikus yang sedang meniti jalan ke tangga tertinggi. Dia sangat terkesan dengan petuah dari Winston Churchill yang terpampang di dinding Wild Card Gym, sasana tempat dia berlatih: “Anda tidak akan pernah mencapai tujuan jika Anda berhenti dan melempar batu ke setiap anjing yang menggonggong.”

Di Filipina saat ini beredar spekulasi bahwa Pacquiao sedang berjuang keras mengatrol posisi sebagai kandidat presiden, entah itu lewat tambahan dana maupun popularitas. Ring tinju sudah membuktikan punya korelasi dengan posisi politik Pacquiao.

Seusai mengalahkan Thurman yang jauh lebih muda, lebih besar, dan lebih kuat popularitas Pacquiao sebagai politikus naik pesat. Duel melawan Spence Jr sebenarnya diharapkan memberikan efek serupa, namun gagal. Ugas tetap memberikan efek meski tidak besar.

Banyak juga yang tidak peduli soal lawan. Yang penting Pacquiao menang dan tidak cedera parah, sehingga mengganggu kesehatannya sebagai kandidat Presiden Filipina.

Pelatih Pacquiao, Freddie Roach bahkan punya pandangan lebih futuristik.

“Saya ingin Manny bertanding dua kali lagi. Saya ingin dia menang di pertarungan nanti, dan satu lagi saat dia menjadi Presiden Filipina yang mempertahankan gelar juara tinjunya,” kata Roach. Sungguh menarik seumpama harapan Roach itu terjadi.

Artikulli paraprakBarcelona Kembali Ingin Boyong Aubameyang dari Arsenal
Artikulli tjetërDatangkan Dari Chelsea, Roma Beli Tammy Abraham Rp676 miliar