Petinju Manny Pacquiao memeluk pelatihnya, Freddie Roach usai laga melawan Yordenis Ugas di T-Mobile Arena, Las Vegas, Sabtu 21 Agustus 2021 malam. Pacquiao kalah angka mutlak dalam pertarungan itu. (Foto: olenas.id/MP Promotions)

OLENAS.ID – Dukungan sebagian besar dari 17.438 penonton di T-Mobile Arena, Las Vegas, ternyata tak cukup bagi Manny Pacquiao memenangi duel kontra Yordenis Ugas pada Sabtu 21 Agustus 2021 malam. Pacquiao, Sang Legenda, kalah angka mutlak dari Ugas, penantang asal Kuba yang di pasar taruhan posisinya hanya 1:19. Sangat tidak diunggulkan.

Pacquiao sudah berusaha keras memenuhi harapan para pemujanya di seluruh dunia. Dia mempromotori sendiri pertarungannya, berlatih keras selama dua bulan, menggalang dukungan dengan membagikan 2000 tiket gratis untuk para kolega, kerabat, pesohor, dan penggemar beratnya. Toh, PacMan tetap kalah.

Tak ada yang perlu disesali dari musnahnya harapan menyaksikan Pacquiao meraih kemenangan. Legenda Filipina ini sudah menunjukkan dedikasi terhebat untuk tinju, profesi yang sangat dia cintai sepenuh hati. Rekor bertanding total 62-8-2 (39 K0), 18-5-2 rekor di kejuaraan dunia, dan juara di 8 kelas berbeda dari karier tinju pro selama 26 tahun sudah lebih dari cukup untuk membuktikan siapa Pacquiao.

Jauh dalam lubuk hati, saya masih ingin terus bertinju

Ada hal berbeda yang terjadi di ruang ganti menjelang pertarungan. Pacquiao tiba pukul 18.30 waktu Las Vegas, disertai keluarga dan tim. Bukannya melakukan pemanasan, hal pertama yang dilakukan PacMan adalah pijat kaki. Ini tugas Sean Hampton, terapis yang secara khusus menangani masalah kaki Pacquiao sejak berlatih di Wild Card Gym, Hollywood. Ini bukan pemandangan yang biasa di ruang ganti sang petinju menjelang pertandingan.

Puluhan orang yang merupakan kerabat dan kolega Pacquiao berseliweran, menanti giliran masuk ke ruang ganti untuk memberi selamat. Presiden WBA, Gilberto Mendoza Jr, adalah salah seorang di antaranya.

“Jangan khawatir,” kata Pacquiao kepada Mendoza Jr yang coba memberi dukungan.

Ponsel Pacquiao pun puluhan kali berdering. Salah satunya dari taipan pemilik Alibaba Grup, Jack Ma. Panggilan video lewat aplikasi FaceTime dari Ma, membuat Pacquiao harus menghentikan sementara proses pemasangan pembalut tangannya.

“Halo saudaraku. Terima kasih, terima kasih,” kata Pacquiao menjawab panggilan Ma yang ikut memberi dukungan.

Waktu terus berlalu. Pukul 19.49 wasit Russell Mora Jr masuk ke ruang ganti Pacquiao. Wasit yang pernah memimpin duel Pacquiao vs Adrien Broner pada 19 Januari 2019 itu mengingatkan Sang Legenda agar selalu menjaga diri sepanjang laga, jangan lengah.

Setelah itu Pacquiao mengenakan sepatu, lantas kaos berwarna putih bertuliskan God’s Warrior. Setelah semua persiapan dirasakan beres, pelukan diberikan kepada istrinya Jinkee Jamora, anak-anak, dan kerabat lainnya. Pacquiao dan tim pun menuju ring.

Kaki Pacquiao Terasa Kaku

Duel dimulai. Seru, sorak-sorai pendukung Pacquiao memenuhi arena. Hanya saja ada yang kurang dari penampilan ‘Fighter of Decade’ pada era 2000 ini tak banyak bergerak. Kakinya seakan tertanam di lantai ring. Asisten pelatih Buboy Fernandez beberapa kali menanyai sang petinju di tengah jeda ronde, memakai Bahasa Tagalog tentunya.

Tumigas ang paa mo?” tanya Fernandez, kawan semasa kecil Pacquiao.

“Apakah kakimu kaku?” Begitu artinya dalam Bahasa Indonesia. Pacquiao tidak menjawab, tetapi dia hanya menunjukkan lewat isyarat tangan bahwa ada yang tidak beres pada kakinya. Kondisi itu cukup sebagai jawaban penyebab kekalahan Pacquiao dari Ugas.

Kalah angka 113-115, 112-116, dan 112-116 adalah hasil akhir perjuangan Pacquiao. Belum lagi bengkak di bawah mata kanan dan lebam di beberapa bagian wajahnya, melengkapi kram yang dikeluhkan Pacman sejak di ruang ganti. Rasanya komplet untuk membuktikan bahwa usia 42 tahun adalah garis akhir dari karier tinju Pacquiao yang gilang-gemilang.

“Jauh dalam lubuk hati, saya masih ingin terus bertinju. Namun saya juga harus mempertimbangkan kemampuan tubuh,” kata Pacquiao usai laga.

Pacquiao Tunjukkan Kecintaan pada Tinju

Jika ini memang akhir karier tinju Pacquiao, maka biarlah itu terjadi. Tetapi ada satu saat spesial yang bakal selalu dikenang. Bukan soal duel lawan Ugas atau hasrat untuk diakui sebagai petinju terbaik, pound per pound.

Keistimewaan itu tak lain adalah momen di ruang ganti ketika semua orang dekatnya: istri, anak, kerabat, sahabat, pelatih, sampai kolega menyemangatinya untuk bertarung sampai akhir meskipun ada yang dirasakan tidak beres di kaki. Pacquiao berjuang untuk membuktikan profesionalitas, dedikasi dan kecintaan pada tinju, lebih dari sekadar kemenangan.

“Saya berterima kasih kepada media atas semua kisah yang disuguhkan, tentang apa yang sudah Manny Pacquiao lakukan dalam tinju,” ujar dia.

Pacquiao memang belum secara resmi mengumumkan gantung sarung tinju. Namun bukan mustahil pelukan Pacquiao kepada orang-orang dekatnya di ruang ganti T-Mobile Arena malam itu adalah pelukan terakhirnya sebagai seorang petinju.*

Artikulli paraprakPolesan Surealis ala Shin Tae Yong
Artikulli tjetërPSSI-LIB Tanggung Biaya Prokes Liga, Termasuk PCR