Dirut PT PSS, Marco Gracia Paulo saat berbicara di akun Instagramnya. (Foto : Instragram)

OLENAS.ID – Tudingan bahwa manajemen PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) tidak atau kurang berkomunikasi dengan suporter dibantah dengan tegas oleh Direktur Utama PT PSS, Marco Gracia Paulo. Ia merasa bingung atas hal itu, karena komunikasi dengan suporter selalu dilakukan dan mendapat dukungan atas langkah-langkah yang akan dilakukan oleh manajemen.

Semisal tentang jawaban manajemen ketika suporter menduduki Omah PSS (kantor PT PSS), usai dikalahkan oleh Persebaya Surabaya 1-3, dan menuntut mundurnya Dejan Antonic, pelatih PSS Sleman.

“Tetapi yang saya bingung, kenapa dibilang tidak bisa berkomunikasi. Kita berbicara dengan suporter, termasuk saat bersama merumuskan jawaban terhadap tuntutan yang ada. Tapi kemudian itu tidak diakui, katanya tidak mewakili semuanya. Lalu seperti apa perwakilan yang ada?,”ujar Direktur Utama PT PSS, Marco Gracia Paulo dalam tayangan video di akun Instagram pribadinya, yang diunggah Selasa, 12 Oktober 2021 pagi.

Dalam video dengan durasi 15 menit itu, dengan judul huruf kapital SAYA BUKA SUARA, tampak Marco Gracia Paulo masih mengenakan infus. Dia memberikan penjelasan sambil duduk di ranjang dengan pakaian pasien.

Mantan Deputi Sekjen PSSI itu tak hanya berbicara tentang apa yang terjadi saat pertemuan dengan suporter di Bandung pada 3 Oktober 2021 malam, yang membuat ia pingsan karena terkena serangan jantung ringan. Setelah dirawat beberapa hari di Bandung, Marco lalu ke Jakarta untuk menjalani perawatan selanjutnya.

Dalam video itu, Marco juga membeberkan berbagai komunikasi yang sudah terjadi sebelum mulainya protes dari suporter yang menghendaki pelatih kepala PSS, Dejan Antonic dikeluarkan dari tim.

Seperti pertemuan dengan suporter di akhir Agustus 2021 lalu di salah satu hotel di Sleman. Saat itu, jelasnya, sudah dibeberkan tentang beratnya tantangan PSS di awal kompetisi. Hal itu tak lain karena memang tim terlambat memulainya, dengan penjelasan kenapa hal itu terjadi.

“Begitu juga dalam dialog selanjutnya di Omah PSS. Teman-teman suporter mengerti situasinya dan sangat mendukung langkah manajemen,” tambah Marco.

Mantan Deputy Sekjen PSSI itu juga berbicara tentang Statement atau Pernyataan PSS pada 30 September 2021 terkait tuntutan suporter soal Dejan Antonic. Pernyataan dalam 5 poin itu merupakan hasil komunikasi dengan suporter, artinya disepakati bersama isinya yang antara lain adanya evaluasi ketat terhadap pelatih usai serie 2.

“Nah satu jam kemudian tiba-tiba saya ditelfon kembali bahwa mereka tidak terima. Bahwa tetap semua menuntut Dejan out pada hari itu. Nah itu yang saya memang juga jadi emosi. Kenapa? Karena memang buat saya kita udah bikin komitmen,” jelas Marco yang akrab dipanggil MGP.

Menurutnya, perwakilan sudah cukup mewakili suporter. JIka kemudian kesepakatan yang ada dalam Pernyataan itu dianggap tidak semua bisa menerima, lalu sebenarnya seperti apa perwakilan suporter yang sah itu seperti apa.

“Nah saya rasa ini yang nanti mungkin akan saya coba cari lebih dalam lagi sebenarnya perwakilan fans yang sah ini seperti apa. Supaya ketika kita bikin kesepakatan dan menjalin komunikasi ternyata itu bisa valid gitu ya,” ujarnya dengan nada bertanya.

Di akhir pernyataannya, Marco kembali menegaskan bahwa apa yang ia jelaskan bukanlah pembelaan diri, juga bukan menyerang siapapun.

Selain itu, ia juga percaya masa sulit bagi PSS Sleman saat ini akan bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Tetap berjalan mewujudkan cita-cita untuk menjadi salah satu klub yang sukses dan terbaik.

“Saya Marco Gracia Paulo menyodorkan fakta supaya ini tidak terus di putarbalikkan di media sosial dan tidak lagi diperpanjang,” pungkasnya. *

Sy

Artikel sebelumyaLawan Persik Kediri di Liga 1, Ini Target PSIS Semarang
Artikel berikutnyaIntervensi Kepala Daerah Tidak Baik Bagi Perkembangan Sepakbola Profesional