Ultimatum Bupati Sleman kepada manajemen PT Putra Sleman Sembada (PT PSS). Foto : twitter Kustini Sri Purnomo

OLENAS.ID – Intervensi kepala daerah merupakan tindakan tidak baik bagi perkembangan sepakbola profesional Indonesia. Euforia belasan tahun lalu dengan lahirnya sepakbola profesional berdasarkan semangat menghindari, atau lepas dari intervensi pemerintah daerah, termasuk kepala daerah.

“Lahirnya sepakbola profesional di Indonesia sudah jelas semangatnya, adalah menghindari dan lepas dari intervensi pemerintah daerah. Jangan sampai kepala daerah diberi kesempatan untuk manggung dan memanfaatkan kecintaan masyarakat kepada klub. Dalam hal apapun,” ujar pengamat olahraga nasional, Eko Noer Kristiyanto,akrab disapa Eko Maung, dalam channel BobotohTV Youtube, 17 Oktober 2021.

Eko Maung dalam tayangan video bertajuk “Aksi Ludah dan Pentingnya Suporter Memahami Batasan” berbicara tentang berbagai aksi suporter yang melakukan aksi protes terhadap klubnya. Kebanyakan protes itu terkait dengan prestasi timnya yang dinilai belum memenuhi harapan suporter.

Dalam hal batasan suporter, kalimat yang biasanya sering terucap ketika ada yang berbicara tentang klub lain adalah “urus saja klubmu.”. Namun, hal menarik adalah tentang batasan suporter dan intervensi kepala daerah.

Intervensi, tambahnya, juga tak hanya dalam bentuk keterlibatan kepala daerah ikut turun dalam persoalan klub. Adanya desakan dari suporter untuk tidak memainkan pemain tertentu juga merupakan suatu intervensi.

Eko Maung merujuk pada Bupati Sleman, Kustini Sri Purnomo yang memberikan ultimatum kepada manajemen PT Putra Sleman Sembada (PT PSS) terkait dengan tuntutan para suporter yang menginginkan Marco Gracia Paulo (CEO PT PSS), Dejan Antonic dan Arthur Irawan (pelatih dan pemain PSS Sleman) keluar dari PSS.

“Bayangkan, kepala daerah memberi ultimatum kepada Perseroan Terbatas. Padahal PT itu tanggungjawabnya kepada para pemegang saham. Iini logika PT menurut UU No.40 thn 2007 tentang PT, Keputusan tertingginya ada di Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),”ujar Eko Maung.

Ia mempertanyakan, apa sebenarnya yang terjadi dalam konflik di Sleman. Baginya, itu konflik internal, yang akhirnya meluas sampai akhirnya melibatkan birokrat.

“Telepas dari soal manggung, dan kepala daerah beralasan adanya kaitan emosi, tapi kalau sampai memberikan ultimatus jelas tidak baik untuk sepakbola profesional,”tambahna.

Peneliti Hukum di Kementerian Hukum dan HAM itu menjelaskan, apa yang terjadi di Sleman adalah konflik internal yang meluas sampai akhirnya melibatkan birokrat.

“Jadi soal PSS itu masalah internal, diselesaikan saja antara para pihak di situ. Jangan banyak hal politisnya, karena itu tidak sehat,”tegasnya.

Dari pengalamannya melakukan riset tentang klub sepakbola, suporter punya karakter yang unik, cenderung spontan, sporadis dan rasa kebanggaannya gampang sekali disulut. IEksploitasi itu yang membuatnya khawatir hal itu dimanfaatkan oleh pihak tertentu.

“Ini terlepas dari manggung, juga alasan kaitan emosinal, tapi kalau sampai memberikan ultimatum, tak baik untuk sepakbola nasional,”tegasnya.

Di masa lalu, ketika klub dibiayai oleh APBD hal itu masih masuk akal ketika mengatakan “Ini klub milik saya.”. Namanya ikatan histori dan emosi tak bisa terhapus, tapi di era sepakbola profesional ada aturan mainnya.

Eko Maung berharap suporter lebih rasional, membatasi diri di masa pandemi. Seperti apa yang terjadi di Bandung. Jika sampai CEO PT PSS, Marco Gracia Paulo sampai meninggal dunia, itu bisa jadi perkara pidana. Mereka yang bertemu Marco, yang menggerakkan massa, juga suporter Bandung yang mengakomodir kedatangan suporter Sleman bisa terkena pidana. Tentu hal ini tak diinginkan.

Adanya mobilisasi massa di tengah pandemi, kerumuman tanpa mempedulikian prokes jelas jadi sorotan pemerintah. Memang dari teori gestur publik pihak yang berwenang bisa melarang atau diam. Namun, dalam diam mereka bisa mengeluarkan keputusan sanksi berat, misalnya kompetisi dihentikan satu-dua minggu.

“Jadi kelakuan atau suatu hal di satu kota imbasnya bisa keseluruhan. Kita tak mau Bandung, Sleman atau Solo dianggap sebagai biang keladi oleh suporter lain. Mari kita selesaikan liga saat ini, dan melihat dinamika di musim depan,”pungkasnya. *

Artikel sebelumyaMarco Gracia Paulo Bantah Kurangnya Komunikasi Dengan Suporter PSS Sleman
Artikel berikutnyaPT LIB Tegaskan, Pertandingan BRI Liga 1 2021/2022 Tetap Tanpa Penonton