Pemain berlaga di Yuzu Isotonic Akmil Open 2021. (Foto: olenas.id/istimewa)

OLENAS.ID – Turnamen Yuzu Isotonic Akmil Open 2021 menjadi momentum bangkitnya kejuaraan bulutangkis berskala nasional di masa pandemi Covid-19. Turnamen ini sekaligus menjadi titik balik perputaran ekosistem bulutangkis di Tanah Air.

Pandemi menjadikan event olahraga terhenti sama sekali. Termasuk turnamen dan kejuaraan bulutangkis sehingga menimbulkan berbagai persoalan. Dari sisi klub misalnya, proses pembentukan atlet yang kelak mengharumkan nama bangsa menjadi tertunda. Buntutnya program regenerasi tersendat. Pupuk Kaltim Badminton Club, asal Bontang, Kalimantan Timur, merasakan hal itu.

“Tidak adanya kejuaraan membuat kami kehilangan momentum dalam memupuk mentalitas atlet ketika bertanding,” ucap pelatih Pupuk Kaltim Badminton Club, Bagas Mahardika, Senin (1/11/2021).

Menurut saya, kejuaraan ini cukup menarik. Gairahnya kembali timbul setelah dua tahun tidak ada kejuaraan atau turnamen resmi

“Kami berterima kasih kepada Yuzu Isotonic dan Djarum Foundation, karena kejuaraan ini melepaskan dahaga yang sudah lama menunggu kejuaraan berskala nasional demi menjaga daya juang atlet agar tidak hilang,” kata dia.

Menurut Bagas klub tak menyia-nyiakan peluang saat kejuaraan kembali bergulir. Di turnamen ini, Bagas menurunkan empat atlet yang berlaga di beberapa kategori yakni Ganda Remaja Putra U-17, Tunggal Remaja Putra U-17, Ganda Remaja Campuran U-17, dan Tunggal Taruna Putri U-19.

Antusiasme terhadap kejuaraan yang digelar di dua gedung olahraga di Magelang ini, dirasakan para pemain klub PB Jaya Raya Jakarta. Sebanyak 28 atlet yang bertanding dapat merasakan kembali atmosfer kompetisi yang sempat menghilang karena pandemi.

“Pertandingan seperti ini bisa membangkitkan kembali semangat anak-anak. Kejuaraan ini juga meriah, bagus, tertata dan mengikuti prokes (protokol kesehatan) ketat. Yang paling penting, mereka ikut kompetisi agar latihannya tidak sia-sia,” ucap pelatih PB Jaya Raya, Maulana Chrissandi.

Lebih lanjut Maulana menuturkan pada masa awal pandemi, klub tempatnya bernaung sempat ditutup. Sekitar setengah tahun PB Jaya Raya meniadakan kegiatan latihan hingga awal tahun 2021. Para atlet yang berlatih di klub juara Olimpiade Tokyo 2020 Greysia Polii dan Apriyani Rahayu ini, harus pulang ke rumah masing-masing.

“Baru pada awal tahun ini kami kembali latihan, dengan porsi dua kali lipat dari biasanya,” tutur Maulana.

Sigit Budiarto

Sementara, legenda bulutangkis Indonesia yang besar di klub PB Djarum, Sigit Budiarto mengatakan Yuzu Isotonic Akmil Open 2021 terbukti menjadi pengobat rindu para atlet. Jumlah peserta yang mencapai ribuan atlet dari berbagai kota di Tanah Air, menurutnya, menjadi indikator awal kebangkitan kompetisi bulutangkis nasional.

“Menurut saya, kejuaraan ini cukup menarik. Gairahnya kembali timbul setelah dua tahun tidak ada kejuaraan atau turnamen resmi,” tutur dia.

Sigit Budiarto, legenda bulutangkis Indonesia. (Foto: olenas.id/istimewa)

“Dan semangat mereka sangat luar biasa. Jumlah peserta saja hampir 1.500 orang. Ini menandakan kejuaraan sangat penting bagi mereka dan mengobati rasa rindu bertanding,” kata Sigit yang mengantarkan Indonesia meraih Piala Thomas tiga kali berturut-turut pada 1998, 2000 dan 2002.

Selain dari sisi klub dan atlet, gelaran Yuzu Isotonic Akmil Open 2021 menjadi angin segar bagi para perangkat pertandingan, khususnya referee dan wasit. Pasalnya, tak kalah pelik dengan kondisi atlet yang kekurangan turnamen untuk asah kemampuan, para pengatur dan pengadil pertandingan ini pun minim jam terbang selama pandemi.

Siswanto, Sub Bidang Referee dan Perwasitan Pengprov PBSI Jateng, menuturkan adanya problem wasit dan referee yang minim jam terbang. Selain itu jumlah mereka terus menurun karena pensiun.

“Dengan adanya penurunan jumlah referee dan wasit ini, jelas berpengaruh ketika nantinya mulai banyak turnamen. Di Yuzu Isotonic Akmil Open 2021, kebutuhan wasit sekitar 40 orang. Sedangkan yang tersedia 30 wasit sehingga kami meminta bantuan wasit nasional dari Yogyakarta dan Jawa Timur,” kata Siswanto.

Kekurangan wasit, Pengprov menjadikan turnamen sebagai ajang ujian terhadap wasit-wasit muda dari berbagai kota dan kabupaten di Jateng.

“Ada 15 wasit baru yang kami tugaskan. Untuk itu kami berharap penyelenggaraan kejuaraan ini bisa berjalan dengan lancar tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Bila ada turnamen atau kejuaraan lainnya, wasit sudah memiliki jam terbang yang memadai,” kata Siswanto.

Protokol kesehatan menjadi aspek penting dalam bergulirnya YUZU Isotonic Akmil Open 2021. Demi menghindari kerumunan, penyelenggaraan seluruh pertandingan tanpa penonton.

“Kejuaraan ini mengadopsi prokes ketat sehingga tidak ada penonton di GOR. Para pecinta bulutangkis, bukan hanya di Indonesia tapi di dunia, dapat menyaksikan pertandingan di YouTube PB Djarum. Kami telah menayangkan kejuaraan ini sejak hari pertama. Ada puluhan pertandingan dari lima lapangan di GOR Djarum Magelang setiap hari,” jelas Ketua Panitia Pelaksana Lius Pongoh.*

Artikulli paraprakBrace Irfan Jaya Melegakan Dejan Antonic, Perlahan PSS Meninggalkan Zona Degradasi
Artikulli tjetërArthur Irawan Tak Lagi Jadi Bagian PSS Sleman