Gelandang Wolverhampton Wanderers Joao Moutinho saat membobol gawang Manchester United di Liga Premier Inggris. (Foto: olenas.id/thesun.co.uk)

OLENAS.ID – Bulan madu Manchester United bersama manajer Ralf Rangnick berakhir sudah. Man United menelan kekalahan pertama di bawah asuhan Rangnick setelah kalah 1-0 dari Wolverhampton Wanderers di Liga Premier Inggris, Selasa (4/1/2022) dini hari WIB. Apa pembelaan Rangnick?

Kekalahan Man United kian lengkap karena terjadi di kandang sendiri di Stadion Old Trafford. Ironis karena ini untuk kali pertama selama 42 tahun atau hampir setengah abad, Wolves bisa mengalahkan Man United di kandangnya yang mendapat sebutan Theatre of Dreams.

Namun sejak ditinggalkan manajer legendaris Sir Alex Ferguson, sebutan itu seolah sudah tak berbekas karena Old Trafford tak lebih dari Theatre of Nightmares bagi Man United. Kekalahan di kandang sendiri sudah menjadi hal yang biasa bagi The Red Devils. Hal yang tabu saat pemegang rekor juara Liga Inggris ini berada di tangan Ferguson.

Jelas, tak cukup bagus. Kami mengalami kesulitan dan tak bisa menguasai bola. Saat kehilangan bola, kami juga kurang agresif

Rangnick yang menggantikan Ole Gunnar Solskjaer telah gagal mempertahankan kehebatan Theatre of Dreams. Beruntung, Man United kalah dari tim papan tengah yang kini naik ke peringkat 8 dengan poin 28. Sementara, Man United tertahan di peringkat 7 dengan poin 31. Akibatnya, mereka menunda keinginan menggeser Tottenham Hotspur yang berada satu strip di atasnya dengan poin 33.

Cerita mungkin bisa berbeda bila Man United kalah dari tim papan bawah. Rangnick bisa bernasib sama dengan Solskjaer. Pasalnya, kekalahan telak 4-1 dari Watford yang merupakan tim papab bawah memaksa Solskjaer angkat kaki dari Old Trafford.

Namun bulan madu mereka memang berakhir setelah menelan kekalahan pertama dari 6 pertandingan Rangnick. Sosok yang pernah nyaris melatih AC Milan ini mulai dituntut untuk mengejar ketinggalan dari tim big six.

Gelandang Wolverhampton Wanderers Joao Moutinho (kanan) merayakan gol di laga melawan Manchester United di Liga Premier Inggris. (Foto: olenas.id/thesun.co.uk)

“Kami tidak bermain bagus secara individu dan kolektif,” kata Rangnick seperti dikutip The Guardian saat menanggapi kekalahan Man United. Bahkan pria asal Jerman ini menyebut permainan Man United tak berubah seperti sebelum dia datang menggantikan Solskjaer.

“Tim menghadapi problem sama seperti tiga atau empat pekan sebelum saya datang. Harus diakui ini bukan pekerjaan mudah mengembangkan sebuah DNA dengan atau tanpa bola,” ucapnya.

Kritik Keras Bek Luke Shaw

Sementara, bek Luke Shaw mengritik keras permainan rekan-rekannya. Dia mengakui tim bermain sangat buruk dan tidak layak menang.

“Jelas, tak cukup bagus. Kami mengalami kesulitan dan tak bisa menguasai bola. Saat kehilangan bola, kami juga kurang agresif. Kami gagal memaksa mereka bermain di bawah tekanan,” kata Shaw.

Manajer Manchester United Ralf Rangnick (tengah) kecewa dengan kekalahan tim dari Wolverhampton Wanderers di Liga Premier Inggris. (Foto: olenas.id/theguardian.com)

Shaw pantas kecewa karena Man United bermain di bawah performa. Bahkan Wolves justru yang mengendalikan menguasai permainan. Pada menit-menit pertama, tim tamu sudah melepaskan 15 tembakan dan 4 di antaranya mengarah ke gawang. Mereka juga mendapatkan 6 sepak pojok. Bandingkan dengan Man United yang hanya melepaskan 4 tembakan dengan satu target.

Di babak kedua, permainan tuan rumah sama sekali tak berubah. Mereka pun mendapat hukuman lewat tendangan Joao Moutinho di menit 82. Ini menjadi satu-satunya gol yang tercipta di laga tersebut.

Kekalahan yang terjadi di kandang sendiri membuat fans kecewa. Mereka merasa bosan dengan pembelaan maupun permintaan maaf. Kabar terakhir, Rangnick terancam posisinya dan tak perlu menunggu akhir musim. Mungkinkah sang legenda Zinedine Zidane yang sudah berulang kali menolak, segera merapat ke Old Trafford?*

Artikulli paraprakIronis, Pemain Persiku Kudus Mengadu kepada DPRD Gegara Tak digaji
Artikulli tjetërGabung PS Sleman, Eks Timnas U-19 Target Juara Liga 1. Mungkinkah?