Barito Putera babak belur saat hadapi Madura United, Sabtu (23/7/2022). Foto : ligaindonesiabaru

OLENAS.ID – BRI Liga 1 2022/2023 berpotensi menciptakan nilai ekonomi yang besar dibandingkan kompetisi sebelum pandemi. Diperkirakan bisa melebih Rp 2,7 triliun seperti sebelum masa pandemi.

Hal itu dikemukakan Kepala Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global Lembaga Penyelidikan Ekonomi & Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Mohamad Dian Revindo dalam keterangan resmi, Kamis (4/8/2022).

“Bahkan bisa melebihi Rp 2,7 triliun seperti sebelum masa pandemi. Hal ini dikarenakan antusiasme penonton dan fans yang tetap tinggi. Mobilitas masyarakat yang berangsur normal sehingga dapat mendorong penonton datang ke stadion. Makin kuatnya bisnis hiburan TV dan saluran digital, serta pulihnya perekonomian,” ujarnya

Revindo menilai antusiasme publik sepakbola di Indonesia cukup luar biasa, terbukti dari tingginya jumlah penonton di stadion sejak dilonggarkannya aturan mobilitas pasca pandemi mereda. Antusiasme penonton yang tinggi untuk menonton tim kebanggaannya secara langsung di stadion terlihat pada pertandingan Piala AFF 2022 dan Piala Presiden 2022.

Hal itu, turut diperkuat oleh pertumbuhan ekonomi 2021 yang tercatat positif 3,7%, dan diperkirakan akan berlanjut lebih dari 5% pada 2022. Dimana secara tidak langsung mengindikasikan mulai pulihnya daya beli masyarakat.

“Pemulihan daya beli ini diiringi dengan keinginan yang kuat untuk bepergian dan hiburan, di mana pertandingan sepak bola bisa menjadi salah satu alternatif yang murah. Dan antusiasme untuk hadir di stadion ini tidak akan mengurangi nilai dari tontonan TV dan saluran digital. Karena pandemi telah membuat masyarakat lebih dekat dengan gawai,” ujarnya.

Prospek ekonomi dari sepakbola sangat bergantung dari pengendalian pandemi Covid-19 varian baru, vaksinasi booster, kebijakan mobilitas masyarakat, dan efektivitas komunikasi publik atas kebijakan terkait. Termasuk efektivitas koordinasi antara aparat keamanan dengan panitia penyelenggara pertandingan dan klub.

Lebih lanjut, Revindo menggambarkan secara rinci efek ganda prospek ekonomi Liga 1 dengan berkaca pada data musim kompetisi 2018-2019 atau sebelum masa pandemi. Pada 2019 perputaran uang langsung dalam kompetisi Liga 1 diperkirakan mencapai Rp1,35 triliun.

Rinciannya, pada tahun tersebut pengeluaran untuk tiket penonton mencapai Rp171, 82 miliar dengan menarik sekitar 2,86 juta penonton. Pengeluaran penonton untuk transportasi diperkirakan mencapai Rp 85,91 miliar, dengan pengeluaran untuk makan minum di angka yang sama.

Sedangkan pengeluaran untuk merchandise dari penggemar mencapai Rp300 miliar. Sementara iklan untuk kompetisi musim tersebut senilai Rp 180 miliar, iklan televisi Rp354 miliar dan sponsor klub Rp 180 miliar.

Dari sisi ekonomi, produk akhir dari industri olahraga sepak bola ada dua, yaitu acara tontonan di stadion dan acara siaran pertandingan di televisi. Untuk produk akhir berupa hiburan tontonan stadion, perputaran uang berada di industri sewa stadion, pembelian tiket, transportasi, dan biaya makan minum penonton, serta kostum, dan pernak-pernik (merchandise).

“Pada masa sebelum pandemi, untuk nilai ekonomi tontonan stadion diperkirakan total nilai ekonominya sekitar Rp 644 miliar satu musim kompetisi untuk liga teratas saja. Belum termasuk liga level yang lebih rendah,” ujarnya.

Sementara untuk produk akhir yang berupa hiburan tontonan televisi, perputaran uang berada di industri penyiaran, periklanan dan teknologi informasi. Baik iklan untuk penyelenggara kompetisi, iklan pada stasiun televisi dan sponsor klub, nilainya total mencapai Rp 714 miliar.

“Kemudian, uang yang berputar dalam industri ini pada gilirannya bisa memicu kegiatan ekonomi di sektor-sektor lainnya. Sektor ekonomi yang terdampak positif terutama adalah Informasi dan Komunikasi, Perdagangan, Industri Pengolahan, dan berbagai jasa lainnya. Keseluruhan dampak ekonomi yang tercipta secara nasional mencapai tak kurang dari Rp2,7 triliun dan penciptaan 25.000 kesempatan kerja,” tambahnya.

Sehingga dengan potensi ekonomi yang besar tersebut Revindo mengaku tidak heran jika BRI berkomitmen untuk menjadi sponsor utama Liga 1 yakni liga sepak bola kasta tertinggi di Indonesia. Menurutnya, BRI sebagai bank BUMN yang selama ini identik dengan layanan keuangan untuk UMKM dan masyarakat pedesaan menjadi sponsor juga menarik untuk dicermati.

“Dari sisi produk, layanan BRI dan penonton sepak bola tidak beririsan sempurna, tetapi jangkauan dan pengenalan BRI yang luas di seantero nusantara berpotensi meningkatkan citra dan gairah dari kompetisi sampai ke pelosok dan semangat kedaerahan untuk mendukung tim kesayangan juga akan kuat,” pungkas dosen UI tersebut. ***

Artikulli paraprakPresiden Jokowi Berjanji Bangun Pusat Pelatihan Sepak Bola di IKN
Artikulli tjetërErling Haaland Dapat Tips dari ‘Top Scorer’ Liga Premier Inggris