Bonek membuat rusuh di Sstadion Gelora Delta. (Foto : Ist)

OLENAS.ID – Persebaya Surabaya, takluk dari RANS Nusantara FC membuat suporternya mengamuk, dan membuat kerusuhan di dalam Stadion Gelora Delta, Kamis (14/9/2022). Ini merupakan kekalahan tiga kali beruntun bagi Persebaya.

Dari video yang tersebar di media sosial, puluhan Bonek masuk ke lapangan begitu pertandingan usai. Mereka merusak sejumlah fasilitas seperti aboard dan menggulingkan bangku cadangan.

Awalnya serbuan suporter masih bisa ditahan oleh petugas keamanan. Namun akhirnya tak mampu mencegah Bonek yang berada di tribun utara, selatan dan timur menjebol pagar pembatas.

Suporter juga membentangkan spanduk berisi kritikan kepada M. Hidayat dkk. Mereka menuliskan “Ojok ita itu Persebaya. Seng enak maine dilereni fafifu’e” (Jangan begini-begitu Persebaya. Yang enak mainnya, diakhiri banyak bicaranya).

Persebaya sebenarnya unggul lebih dulu atas tamunya lewat tembakan Sho Yamamoto pada menit ke-28. Namun di babak kedua RANS mampu membalikkan keadaan dengan menceploskan dua gol Edo di menit ke-64 dan 88.

Serangan balik RANS membuat Persebaya keteteran, sehingga harus menerima kekalahan yang membuat Bonek makin meradang lalu menyerbu lapangan usai laga usai.

Direktur Utama PT Liga Indonesia Baru (LIB), Akhmad Hadian Lukita mengakui kerusuhan itu memalukan.

Lukita mengaku sudah mendapat kiriman foto dan video dari perwakilan LIB yang bertugas di lapangan.

Bisa dipastikan Persebaya akan mendapat denda akibat kerusuhan suporternya itu. Sebagai tuan rumah, panitia pelaksana pertandingan Persebaya tidak bisa menjamin jalannya pertandingan dari awal hingga usai berjalan dengan aman dan lancar.

Suporter Persebaya juga berpeluang mendapat sanksi, seperti tidak boleh mendampingi tim dalam sejumlah laga kandang dan tandang. Mengenai hal ini LIB tak ambil bagian karena merupakan wilayah Komdis PSSI. ***

Artikulli paraprakYUZU Isotonic Magelang Open 2022, Pebulutangkis Muda Harus Main Rangkap
Artikulli tjetërEksperimen Seto Gagal, PSS Sleman Keok di Kandang Persikabo 1973