Gas Air Mata dalam tragedi Kanjuruhan (Foto : Twitter)

OLENAS.ID – Dugaan penggunaan gas air mata yang telah kadaluwarsa akan menjadi penyelidikan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) dalam tragedi Kanjuruhan, Malang. Selain itu juga akan didalami apakah para korban yang meninggal dalam kejadian itu akibat sesak nafas atau ada penyebab lain.

“Gas pasti punya kedaluwarsa itu akan menjadi kunci kami tanya ke medis,” kata Komisioner Komnas HAM, Muhammad Choirul Anam dalam jumpa pers di Malang, Jawa Timur, Senin (3/9/2022).

“Apakah ini karena sesak nafas, kadar oksigen dan lainnya seperti apa,” tambahnya.

Penggunaan gas air mata sendiri dilarang keras dalam pengamanan pertandingan sepak bola menurut regulasi FIFA. Meski di sisi lain, polisi menyatakan penggunaan gas air mata saat kerusuhan di Kanjuruhan telah sesuai prosedur.

Anam mengaku juga telah berkoordinasi dengan Aremania, sebutan suporter Arema FC untuk menyelidiki kasus tersebut. Termasuk dengan keluarga para korban.

Menurut Anam, Aremania adalah salah satu suporter terbaik di Indonesia. Kepada dirinya, Anmk mengaku diminta Aremania agar melihat peristiwa tersebut secara objektif.

Anam mengatakan Komnas HAM telah membawa tim dalam jumlah besar untuk menyelidiki insiden yang menewaskan sedikitnya 125 korban jiwa tersebut.

“Saya bawa tim besar dan saya pimpin sendiri,” katanya.

Tragedi Kanjuruhan terjadi usai laga Arema vs Persebaya Surabaya pada Sabtu (1/10/2022) malam. Berdasarkan data yang dirilis oleh Menko PMK Muhadjir Effendy, korban meninggal dunia sebanyak 125 orang. ***

Artikulli paraprakPemerintah Bentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta, Bekerja Paling Lama Sebulan
Artikulli tjetërPT LIB Hentikan Liga 2 Selama Dua Pekan, Sebelumnya Sekjen PSSI Bilang Jalan Terus