Gas Air Mata dalam tragedi Kanjuruhan (Foto : Twitter)

OLENAS.ID – Penembakan gas air mata juga terjadi di pintu keluar 13 Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Ledakan gas air mata itu terjadi di tangga keluara pintu 13.

“Satu-satunya adalah pintu 13 yang amunisinya meledak di tubir tangganya, terus di pintu keluar tadi itu kelihatan di sini itu gas sampai keluar, artinya gasnya turun sampai ruang ini,” ujar Komisioner Komnas HAM Muhammad Choirul Anam dalam konferensi pers, Rabu (2/11/2022).

Asap dari ledakan amunisi itu sampai merambat ke ruangan lainnya. Choirul mengungkapkan, berdasarkan diskusinya dengan ahli kimia, gas air mata tersebut tidak mematikan.

Tetapi, dalam kondisi tertentu seperti ruang tertutup, kata dia, jumlah oksigen yang sedikit membuka kemungkinan menyebabkan kematian.

Tragedi Kanjuruhan terjadi usai pertandingan Liga 1 antara Arema FC Vs Persebaya pada 1 Oktober 2022 lalu. Sebanyak 135 suporter meninggal sebagai imbas tembakan gas air mata bertubi-tubi dari aparat. Mereka sesak nafas dan berdesak-desakan keluar stadion.

Tragedi Kanjuruhan turut menjadi sorotan di mata dunia. Tragedi ini tergolong ‘dua besar bencana sepak bola’ dunia, setelah bencana kemanusiaan serupa terjadi di Lima, Peru pada 1964 silam yang menewaskan lebih dari 300 orang.*

Artikulli paraprakMau Gaet Son Heung-min? Hotspur Minta Rp 1,08 Triliun
Artikulli tjetërSetelah Mengundurkan Diri, Dewanto Balik Jadi Manajer PSS Sleman